HomeBeritaMenjalin Persaudaraan, Menyeru Perdamaian

Menjalin Persaudaraan, Menyeru Perdamaian

Para peserta berdiskusi kelompok dalam Pelatihan Guru "Belajar Bersama Menjadi Guru Damai" di Bandar Lampung (24-25/3/2017).
Dok. AIDA – Para peserta berdiskusi kelompok dalam Pelatihan Guru “Belajar Bersama Menjadi Guru Damai” di Bandar Lampung (24-25/3/2017).

 

“Bagaimana perasaan Bapak ketika bertemu dengan korban dan apa yang membuat Bapak terenyuh bertemu dengan korban?”

Pertanyaan tersebut dilontarkan oleh seorang guru kepada mantan pelaku terorisme, Ali Fauzi, dalam Pelatihan Guru “Belajar Bersama Menjadi Guru Damai” di Bandar Lampung, akhir Maret lalu. Guru SMAN 9 Bandar Lampung itu mengaku penasaran akan sosok Ali yang mampu meninggalkan dunia kekerasan bahkan kini mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat bersama penyintas bom terorisme.

Sebelumnya, dalam pelatihan guru muda itu telah mendengarkan kisah perjalanan hidup Ali dan penyintas aksi teror Bom Kuningan 2004, Nanda Olivia Daniel. Ali menceritakan pengalaman masa lalunya bergabung dengan jaringan teroris internasional hingga memutuskan keluar dan bertobat, sementara Nanda berbagi pengalaman saat mengalami musibah teror bom di depan Kedutaan Besar Australia di kawasan Kuningan Jakarta Selatan pada 9 September 2004.

Pelatihan yang berlangsung selama dua hari itu diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) dan diikuti dua puluh guru dari lima sekolah di Bandar Lampung, yakni SMA Taman Siswa, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 8, dan SMAN 9. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat visi perdamaian di kalangan guru melalui kisah korban dan mantan pelaku terorisme.

Ali mengungkapkan dirinya menangis dan hatinya tersayat tatkala bertemu penyintas bom terorisme serta mendengarkan penderitaan yang mereka alami. Tak hanya itu, ia juga mengaku sudah pasrah dan ikhlas jika para penyintas merasa emosional saat bertemu dengannya.

“Saat bertemu dengan sejumlah penyintas bom yang difasilitasi AIDA, kita semua menangis mendengarkan kisah mereka. Setelah tahu apa yang dialami penyintas, (hal itu) semakin menguatkan saya bahwa apa yang dilakukan teman-teman saya adalah sebuah kebiadaban. Ada banyak orang yang tak bersalah hancur hidup dan masa depannya akibat terkena ledakan bom,” ujarnya.

Bagi Ali, pertemuan dengan penyintas telah mengubah haluan hidupnya untuk kembali ke jalan perdamaian. Setelah melalui proses rekonsiliasi kini hubungan Ali dan penyintas bak saudara. “Ikatan saya dengan mereka bukan saja ikatan antara mantan pelaku dengan penyintas tapi sudah ikatan saudara. Kami sudah saling percaya dan mencintai. Kami berkeliling ke masyarakat untuk menyerukan pentingnya hidup damai,” katanya.

Pria asal Lamongan itu mengatakan, saat ini dirinya tidak hanya sudah keluar dari kelompok teroris tapi juga aktif melakukan kampanye perdamaian kepada masyarakat luas. Dari kalangan pelajar hingga tokoh agama, dari Sumatera Barat hingga Maluku, Ali bersama penyintas dan AIDA telah mengampanyekan nilai penting perdamaian, sekaligus pada saat yang sama mengingatkan bahaya paham ekstremisme. Ia menyadari perjuangannya mengampanyekan perdamaian sangat berisiko dan menimbulkan resistensi dari kelompok-kelompok prokekerasan, tapi ia tidak takut.

“Saya juga mengajak guru-guru untuk memberikan edukasi kepada anak didiknya tentang pentingnya hidup bersama di tengah kemajemukan bangsa ini. Sekarang ini toleransi sudah terkikis,” kata Ali kepada para peserta pelatihan.

Sementara itu, Nanda mengungkapkan bahwa dirinya begitu marah dan benci ketika pertama kali bertemu dengan mantan pelaku pada 2015. Akibat aksi teror Bom Kuningan 2004, dia mengalami kerusakan jaringan tulang di jari-jari tangan. Seiring berjalannya waktu ia menyadari bahwa kemarahan dan kebencian terhadap mantan pelaku tidak akan mengembalikan kondisi fisiknya seperti semula.

“Tidak ada gunanya marah berkepanjangan kepada mantan pelaku karena hal itu tidak bisa mengubah keadaan tangan saya. Tuhan saja memaafkan hamba-Nya, kenapa saya tidak belajar untuk memaafkan sesama,” kata ibu tiga anak ini.

Salah satu guru SMA Taman Siswa mengaku kagum terhadap rekonsiliasi perdamaian antara penyintas dan mantan pelaku terorisme. Menurut dia persatuan kedua pihak untuk menyebarkan pentingnya perdamaian sangat menginspirasi. Dia mengharapkan semakin banyak tercipta rekonsiliasi dan persaudaraan antara korban dan mantan pelaku sehingga kampanye perdamaian di masyarakat semakin efektif.

Selain Tim Perdamaian, pelatihan juga menghadirkan narasumber ahli tentang jaringan terorisme, Sofyan Tsauri. Dia mengatakan guru merupakan salah satu elemen penting yang berperan besar dalam membangun karakter anak didik. Oleh sebab itu ia mengimbau para guru agar mengantisipasi masuknya paham ekstremisme ke lingkungan sekolah, baik di dalam maupun di luar kegiatan belajar mengajar. “Guru harus melakukan sterilisasi terhadap pihak luar yang akan menyampaikan ceramah keagamaan atau mentoring kegiatan di sekolah maupun di luar sekolah,” ujarnya. [AS]

 

*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi XIII Juli 2017.

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...