HomeBeritaMemaafkan Lebih Utama daripada...

Memaafkan Lebih Utama daripada Mendendam

Satu kelompok siswa menampilkan yel dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 3 Semarang
Dok. AIDA – Satu kelompok siswa menampilkan yel dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 3 Semarang (16/10/2017).

 

“Saya dulu berprinsip bahwa kekerasan harus dibalas dengan kekerasan, karena itu ada hukumnya di Islam, yaitu kisas. Setelah mengikuti acara ini saya jadi tahu bahwa ada ayat lain yang lebih baik daripada membalas, yaitu memaafkan.”

Demikian testimoni salah satu siswa SMA Muhammadiyah 1 Weleri setelah mengikuti Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang diselenggarakan oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kendal dan Semarang pertengahan Oktober lalu. Selain di sekolah tersebut Dialog Interaktif juga digelar di empat sekolah lain, yaitu SMAN 3 Semarang, MA Uswatun Hasanah Semarang, SMAN 1 Weleri, dan SMAN 1 Kendal.

Kegiatan tersebut dimaksudkan agar generasi muda dapat memahami pentingnya memiliki jiwa ketangguhan dan semangat cinta damai.AIDA menghadirkan Tim Perdamaian yang terdiri atas penyintas dan mantan pelaku terorisme yang telah berekonsiliasi untuk berbagi pengalaman kepada para pelajar.

Dalam kegiatan di Kendal dan Semarang anggota Tim Perdamaian terdiri atas Nanda Olivia Daniel (penyintas aksi teror Bom Kuningan 2004), I Gusti Ngurah Anom (penyintas Bom Bali 2002), dan Iswanto, mantan anggota kelompok teroris.

Dalam kegiatan di SMAN 3 Semarang, Nanda mengisahkan pengalamannya saat terdampak ledakan bom di depan Kedutaan Besar Australia di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan pada 9 September 2004. Dia sedang di dalam bus kota ketika teror terjadi. Guncangan dan hempasan kuat dari ledakan bom menyebabkan kerusakan di gendang telinga dan jari-jari tangannya.

Nanda menceritakan sewaktu di dalam bus kota ada seorang siswa SMA yang berdiri di belakangnya. Secara tidak langsung dia terhalang dari efek ledakan bom yang lebih parah.Dia merasa berhutang pada sosok pelajar yang telah “melindunginya” sebelum akhirnya dikabarkan meninggal dunia.“Saya selalu berpikir jika telat sekian detik saja, saya yang meninggal, bukan anak SMA itu,” ujarnya.

Operasi pengobatan hingga 8 kali dan masa pemulihan dia rasakan sangat menyakitkan.Namun, dia tidak menyerah dan terus bersemangat melanjutkan hidup.Dia bahkan mampu memaafkan kesalahan orang-orang yang pernah terlibat terorisme.

“Tidak ada gunanya juga membalas kekerasan dengan kekerasan.Setelah itu suasana hati saya menjadi ringan,” ujarnya mengenang saat pertama kali bertemu mantan pelaku.

Ngurah Anom, penyintas Bom Bali 2002, juga berbagi kisah dalam Dialog Interaktif. Saat kejadian dia hanya sekadar lewat di Jalan Legian dan berhenti sejenak untuk membeli air mineral di sebuah warung. Akibat ledakan, dia mengalami luka-luka.Badannya teguncang sampai goyah, kulit bagian pelipisnya terkelupas, pendengaran salah satu telinganya terganggu, dan salah satu bola matanya tertancap serpihan kaca.Setelah dilakukan operasi, penglihatannya tidak terselamatkan.

“Musibah datang tidak bisa disangka-sangka, ambillah hikmahnya. Tetaplah semangat dan terus belajar menjadi generasi tangguh.Jika punya masalah jangan sampai membalas dengan kekerasan, memaafkan lebih baik.Saya juga begitu, sebagai korban bom, apabila pelakunya mau meminta maaf kepada saya, saya akan memaafkannya.”Demikian Anom berpesan kepada para siswa peserta Dialog Interaktif.

Dari sisi mantan pelaku, Iswanto men-ceritakan liku-liku kehidupannya mulai saat bergabung dengan kelompok teroris hingga akhirnya dia berbalik dari dunia kekerasan untuk menyebarkan perdamaian.“Setelah banyak belajar akhirnya saya berpikir ulang tentang jalan kekerasan yang pernah saya jalani.Saya juga menjadi semakin yakin setelah dipertemukan dengan korban bom oleh AIDA,” kata dia.

Para siswa mengaku mendapatkan pelajaran baru tentang bagaimana menjadi generasi tangguh dalam menjalani hidup ke depannya.Salah satu siswa SMAN 3 Semarang mengaku terinspirasi dari Tim Perdamaian. “Dari kisah mantan pelaku saya belajar bahwa orang yang tangguh adalah orang yang mau mengakui kesalahannya dan mau mengubah perilakunya ke masa depan menjadi lebih baik. Kalau dari korban, meski dia kehilangan aset yang berharga namun dia berhasil membangun kepercayaan dirinya lagi, dia memaafkan kesalahan orang lain, mengikhlaskan yang telah terjadi dan menyerahkan segalanya pada Allah,” ucapnya. [AM]

 

 

*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi XV Januari 2018.

 

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...