HomeTajukMemaknai Kemerdekaan, Menjaga Perdamaian

Memaknai Kemerdekaan, Menjaga Perdamaian

Tahun 2018 terasa istimewa bagi bangsa Indonesia. Khususnya pada bulan kemerdekaan ini, beberapa momentum penting telah dan akan terjadi mewarnai dinamika kehidupan masyarakat.

Pertama, 17 Agustus besok kita merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Ke-73. Keesokan harinya Indonesia akan menjadi tuan rumah pesta olah raga terbesar se-Asia, Asian Games Ke-18.  Acara empat tahunan yang mengusung tema “Energy of Asia” itu dihelat di dua kota, Jakarta dan Palembang. Belasan ribu atlet dan official dari 45 negara di Asia akan tinggal sekitar sebulan di negara kita.

Ketiga, prosesi Pemilihan Umum 2019 telah resmi bergulir. Tanggal 10 Agustus lalu dua pasang calon presiden dan wakil presiden telah mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum untuk maju dalam ajang Pilpres 2019. Joko Widodo menggandeng KH. Ma’ruf Amin untuk mendapatkan periode kedua sebagai presiden.Pasangan itu akan bersaing dengan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Meskipun pemungutan suara dilaksanakan tahun depan, pendukung kedua pasangan telah meramaikan agenda pesta demokrasi lima tahunan itu.

Keempat, bertepatan dengan bulan Dzulhijah dalam kalender Islam, Agustus ini sekitar dua ratus ribu umat muslim menjalankan ibadah haji ke Tanah Suci. Sementara itu, umat Islam di Tanah Air akan merayakan Idul Adha dengan berqurban.

Berbagai momentum penting itu hanya akan berjalan baik bila kedamaian di Indonesia terjaga baik. Menjaga perdamaian merupakan kewajiban semua elemen bangsa, bukan hanya tugas pemerintah. Setiap individu memiliki peran masing-masing untuk menyukseskan agar suasana kedamaian tidak terusik oleh bermacam potensi gangguan keamanan, termasuk ancaman terorisme.

Pemerintah telah bekerja untuk mengantisipasi terjadinya aksi teror selama perhelatan Asian Games berlangsung. Salah satu langkah yang ditempuh adalah terus digalakkannya operasi penangkapan terduga pengikut kelompok teroris. Densus 88 Antiteror Polri mengambil langkah preventif tersebut setelah Undang-Undang Antiterorisme hasil revisi resmi diberlakukan. Aspek pencegahan terorisme diperkuat dalam regulasi baru tersebut. Polisi dilegalkan untuk mengamankan orang yang diduga merencanakan aksi terorisme, termasuk mencegah orang yang hendak bepergian ke luar negeri untuk bergabung dengan kelompok teroris.

Masyarakat sipil juga dapat berperan untuk membantu Negara dalam mencegah terorisme. Salah satunya dengan cara memperkuat kohesi sosial di antara warga dari tingkat paling rendah, yaitu keluarga, meningkat ke wilayah rukun tetangga, desa, kecamatan dan seterusnya sehingga kondisi keamanan di seluruh wilayah Indonesia terjamin. Masyarakat mesti peka apabila sebagian warga ditengarai menampakkan sikap eksklusivisme atau intoleran terhadap liyan.

Di era keterbukaan ini di mana fitnah, informasi bohong (hoax), atau ujaran kebencian mudah disebarkan baik di dunia nyata maupun maya, menjaga perdamaian sudah semestinya digencarkan. Ide ini juga mesti ditanamkan ke pikiran seluruh bangsa terlebih generasi muda sebagai pengguna media sosial paling aktif dan paling banyak di dunia.

Menjaga perdamaian juga mesti dikampanyekan sebagai wujud nyata dalam memaknai kemerdekaan. Anugerah kemerdekaan yang sudah diperjuangkan para pendiri bangsa tidaklah cukup dinikmati dengan sekadar memasang bendera, umbul-umbul atau aksesoris lain yang dipasang di banyak tempat, atau menyelenggarakan perlombaan-perlombaan di tiap kampung. Lebih dari itu, rekatan sosial antarwarga juga harus selalu dijaga kesolidannya.

Bila kedamaian terus lestari, kemajuan bangsa dan negara bisa terus diupayakan. Sebaliknya, bila perdamaian terganggu, ancaman disintegrasi bangsa ada di hadapan.

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...