HomeInspirasiAspirasi DamaiMeski Beda Kita Harus...

Meski Beda Kita Harus Damai

Hapiz Daulay
Hapiz Daulay. Dok. Pribadi

 

Malang, sebuah kota di Jawa Timur, terkenal memiliki keindahan alam yang istimewa. Selain keindahan alamnya, Malang juga dikenal sebagai salah satu kota pelajar terbaik di Indonesia. Di kota berhawa sejuk ini terdapat banyak perguruan tinggi bereputasi baik, seperti Universitas Negeri Malang, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Institut Teknologi Nasional, Universitas Muhammadiyah Malang, serta kampus saya sendiri Universitas Brawijaya (UB). Malang menjadi tujuan hijrah para pelajar dari seluruh penjuru Tanah Air untuk menuntut ilmu.

Malam ini saya ingin mencurahkan pengalaman saya menjalin persahabatan dengan teman-teman saya sesama mahasiswa UB di Malang. Teman-teman saya berasal dari berbagai suku, bahasa, warna kulit, jenis rambut, dan agama yang berbeda-beda. Meskipun banyak perbedaan di antara kami tapi itu tidak menyurutkan niat saya dan teman-teman untuk membangun persahabatan yang damai.

Selama menempuh masa kuliah di UB saya mengontrak rumah bersama beberapa orang teman. Ada yang beragama Islam seperti saya dan ada juga yang memeluk agama lain. Kami hidup bersama di rumah kontrakan itu dengan rukun tanpa melihat perbedaan keyakinan di antara kami. Saya mengedepankan sikap tenggang rasa dalam bergaul dengan teman-teman. Syukurnya, teman-teman saya terutama yang nonmuslim juga menghormati agama saya dan tidak pernah mengganggu atau menghalang-halangi saya dalam beribadah.

Kedamaian dalam persahabatan antara saya dan teman-teman yang berbeda agama sempat diuji ketika marak tersebar isu terkait suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), khususnya saat pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Jakarta pada tahun 2017. Ada beberapa mahasiswa UB yang mengunggah tulisan bernada kebencian terhadap calon gubernur tertentu di media sosial. Ujaran kebencian itu menyangkut agama serta ras dari calon gubernur tersebut.

Menyebarnya ujaran kebencian di dunia maya itu saya rasakan cukup meresahkan dan mengganggu kondisi kedamaian di antara mahasiswa di Malang. Menurut saya mahasiswa yang merupakan golongan terpelajar seharusnya tidak menyebarkan kebencian di masyarakat karena hanya akan menambah pelik persoalan politik di Indonesia. Provokasi kebencian yang terus-terusan diumbar di dunia maya bisa menimbulkan ketegangan bahkan perpecahan di dunia nyata.

Teman-teman saya yang beragama non-Islam sempat menanyakan kepada saya kenapa banyak orang, rata-rata umat muslim, mengaitkan asal usul ras dan agama calon gubernur yang sedang menghadapi kasus hukum saat itu. Saya pun mencoba menjelaskan semampu saya bahwa ujaran kebencian seperti itu hanya dilontarkan oleh oknum umat Islam yang memiliki kepentingan politik yang berseberangan dengan orang yang dia serang. Itu tidak bisa digeneralisasi sebab banyak juga orang Islam yang tidak suka membuat ujaran kebencian apalagi menyebarkannya ke media sosial. Saya yakin banyak umat muslim yang menginginkan kedamaian tercipta di Indonesia ini.

Saat isu Pilkada di ibu kota memanas, diskusi di antara kami kaum mahasiswa di Malang juga terimbas. Di era keterbukaan seperti sekarang ini kami tidak bisa menutup mata untuk tidak membicarakan perbenturan antara agama dan politik. Sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UB saya berusaha sesuai kemampuan untuk meluruskan pikiran teman-teman agar tidak terjebak dalam perpolitikan yang tidak sehat, yang menghalalkan fitnah dan hoax. Saya juga mengajak kepada teman-teman untuk tidak mencampurkan urusan politik dengan persahabatan di antara kami. Menurut saya rugi besar kami bila ada satu atau dua orang teman yang putus persahabatan gara-gara beda pilihan calon pemimpin.

Alhamdulillah, sampai sekarang persahabatan di antara kami mahasiswa UB, terutama yang sekontrakan dengan saya, masih terjaga baik. Saya pikir kunci dari solidnya persahabatan kami adalah menghormati keyakinan masing-masing. Bila di dalam diri setiap anggota sudah tertanam sikap menghormati keyakinan orang lain insyaallah hubungan pertemanan di komunitas itu akan lebih kuat, tidak tergerus oleh faktor eksternal.

Saya punya pengalaman menarik terkait persahabatan. Waktu liburan saya dan teman-teman melakukan perjalanan (touring) ke Banyuwangi. Tempat yang kami tuju cukup jauh dan perjalanan ke sana memakan waktu beberapa jam. Di tengah perjalanan saat waktu shalat zuhur tiba beberapa teman mengusulkan untuk berhenti di sebuah masjid. Saya terkejut sekaligus salut setelah mengetahui bahwa yang mengusulkan kita istirahat di masjid adalah teman yang nonmuslim. Saya dan teman-teman yang beragama Islam saat itu mungkin malah tidak begitu menaruh perhatian bahwa azan zuhur sudah terdengar, artinya waktunya bagi umat muslim untuk beribadah.

Walikota Malang, M. Anton, mengatakan, “Menurut kami, umat beragama harus memupuk dan memelihara kebersamaan sampai akhir zaman,” seperti dikutip SuryaMalang pada Sabtu (17/2/2018). Ungkapan-ungkapan seperti ini yang menurut saya harus lebih banyak lagi disebarkan di masyarakat. Sebagai sosok pemimpin, Walikota Malang memberi contoh dan menganjurkan warganya untuk menjaga kerukunan beragama. Masyarakat di Malang sudah seharusnya mendukung tercipatanya kondisi kedamaian dan kerukunan itu. Dan, mahasiswa sebagai elemen masyarakat juga harus ambil bagian dalam menciptakan perdamaian.

Tahun ini dan tahun depan 2019 adalah tahun politik di mana seluruh bangsa Indonesia akan melangsungkan pemilihan presiden dan wakil presiden (Pilpres 2019) sebagai mekanisme demokrasi. Kita harus menjaga kerukunan dan hubungan baik antarsesama. Boleh kita beda pilihan politik tetapi persaudaraan dan persahabatan di antara kita jangan sampai terpecah.

Saya jadi ingat pesan dari Presiden Ke-4 Indonesia, Abdurahman Wahid. Beliau mengatakan, “Indonesia terdiri dari berbagai macam agama, suku, budaya, harus dijaga secara bersama, sehingga harus saling menghormati antarsesama manusia.” Pesan tersebut sangat jelas menganjurkan agar setiap manusia di Indonesia ini harus saling menghormati dan hidup berdampingan dalam perbedaan. Hanya dengan begitu kita akan mendapatkan kedamaian dan kemajuan.

Oleh: Hapiz Daulay

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Brawijaya

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....