HomeBeritaKesaksian Penyintas Teror Maulid...

Kesaksian Penyintas Teror Maulid Nabi di Kabul

Seorang Pria Afghanistan Korban Bom di Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Dievakuasi ke Rumah Sakit. Foto: (Reuters: Mohammad Ismail)
Seorang pria korban bom di acara peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. di Kabul dievakuasi ke rumah sakit. Foto: (Reuters: Mohammad Ismail)

 

ALIANSI INDONESIA DAMAI – Selasa (20/11/2018) peristiwa nahas bom bunuh diri terjadi di Kabul, Afghanistan. Laporan terkini Aljazeera menyebutkan bahwa jumlah korban tewas tercatat 55 orang dan 94 luka-luka akibat peristiwa teror tersebut.

Pemerintah Afghanistan telah menetapkan hari berkabung nasional pascakejadian. Pasalnya, peristiwa ini terjadi  saat ulama dan umat muslim merayakan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. Serangan ini merupakan bentuk perilaku barbar di tengah kesibukan masyarakat yang melaksanakan aktivitas keagamaan secara khidmat.

Serangan yang terjadi malam waktu setempat menyasar sebuah pesta pernikahan di Uranus Wedding Place di mana para hadirin secara bersamaan melaksanakan perayaan Maulid Nabi.

Ahmad Fareed (40), seorang penyintas dari serangan itu, mengatakan ledakan menyebabkan luka mengenaskan pada tubuh banyak orang, dan darah berceceran di mana-mana. Ia melihat seorang pria dewasa dan anak-anak dalam kondisi berdarah, tidak bergerak sama sekali. “Itu adalah peristiwa horor dan perilaku barbar, saya melihat orang-orang bergeletak dan berlumurah darah,” ujar Fareed.

Usai menetapkan hari berkabung nasional, Presiden Ashraf Ghani mengatakan bahwa peristiwa bom ini “kejahatan yang tidak bisa dimaafkan”.

Otoritas Kabul membuat imbauan kepada masyarakat untuk waspada dan berhati-hati bila hendak berkegiatan di seluruh kota.

Dikutip dari Aljazeera, sejumlah warganet dan para pekerja senior mengritik kebijakan keamanan di Afghanistan. Mereka mempertanyakan gagalnya pemerintah dalam menjaga keamanan warga. Seorang mantan Gubernur Provinsi Balkhan, Atta Muhammad Noor, mengatakan “Pemerintah lemah dalam menangani korban”. Ia menambahkan, “Pemerintah tentunya harus bertanggung jawab dalam menjaga keamanan di setiap acara masyarakat di ruang publik secara aman”.

Said Ali, seorang pelajar, menceritakan kesaksiannya atas peristiwa terror ini. “Kita sekarang melihat bahwa adanya serangan/teror terhadap pelajar, masjid, tempat olahraga dan tempat-tempat masyarakat sipil lainnya. Saat ini mereka sedang menargetkan praktik keagamaan kita. Dan itu tentu sangat brutal dan barbar,” katanya.

Aljazeera menyebut saat ini belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Abdullah Abdullah seorang kepala lembaga eksekutif mengatakan bahwa Taliban dipastikan terlibat dalam peristiwa teror ini.

Di dunia daring terjadi banjir kutukan terhadap serangan tak berperikemanusiaan ini. Warganet juga memberikan dukungan kepada para korban dari aksi ini. [FS]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...