HomeBeritaPesan Penyintas Kepada Generasi...

Pesan Penyintas Kepada Generasi Muda Serang

ALIANSI INDONESIA DAMAI – “Pesan saya kepada adik-adik, agar selalu menjaga perdamaian dan terus menghargai kebinekaan di Indonesia.”

Demikian Muhammad Nurman Permana, penyintas serangan teror bom di Jl. MH Thamrin Jakarta Pusat yang terjadi pada 14 Januari 2016, berpesan kepada para pelajar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Serang, Banten. Ia menyampaikannya dalam acara Dialog Interaktif bertema “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di sekolah tersebut dua pekan lalu.

Permana, sapaan akrabnya, merupakan salah satu korban yang selamat dari aksi teror Bom Thamrin 2016. Meski kejadian sudah berlalu 3 tahun, ia masih mengingat betul kengerian peristiwanya. Saat kejadian, ia sedang berjalan kaki menyeberangi persimpangan Jl. MH Thamrin, salah satu ruas jalan terpadat di ibu kota, tepatnya di antara pusat perbelanjaan Sarinah dan Gedung Bawaslu.

Permana yang saat itu bersama seorang saudara, tengah berjalan menyeberangi Jl. MH Thamrin ke arah barat, menuju ke kawasan Tanah Abang. Saat di tengah-tengah persimpangan itulah saudaranya memberitahu ada asap putih yang bersumber dari sebuah kedai kopi di salah satu sudut perempatan. Permana pun menoleh ke arah yang ditunjuk saudaranya. Tak lama berselang tiba-tiba ledakan terjadi di pos polisi yang berada tak jauh dari keduanya.

Seketika Permana berlari menjauh dari lokasi hingga hampir tertabrak kendaraan yang melaju. Ia  merasakan ledakan itu sangat keras hingga membuat telinganya sakit dan berdenging. Setelah merasa cukup jauh dari lokasi ledakan dan sadar bahwa saudaranya terpisah, ia berhenti sejenak untuk memastikan kondisi telinganya. Saat itulah ia melihat bajunya sudah memerah penuh bercak darah. Selain di telinga, ia juga mengalami cedera di ketiak dan punggung bagian kiri.

Ledakan bom memaksanya menjalani operasi untuk mengeluarkan serpihan benda asing dari tubuhnya. Selain luka fisik, tragedi awal tahun 2016 itu juga menyisakan trauma baginya. “Sejujurnya, saya masih merasakan trauma, khususnya jika mendengar suara benturan keras. Bahkan sampai saat ini masih sering terdengar suara nging di telinga,” ujarnya. Di samping penyembuhan fisik ia juga sering melakukan trauma healing dengan psikolog, serta membaur dengan banyak orang untuk mengobati kesedihan.

Siswa-siswi MAN 2 Serang Menyimak Penyintas Yang Berbagi Semangat Ketangguhan Dalam "Dialog Interaktif: Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh"
Potret siswa-siswi MAN 2 Serang saat mengikuti kegiatan Dialog Interaktif dengan tema “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”, Kamis (31/1/2019).

Kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” diselenggarakan AIDA dengan tujuan untuk meningkatkan jiwa ketangguhan pelajar Indonesia. Dalam kegiatan dihadirkan korban dan mantan pelaku terorisme untuk berbagi semangat ketangguhan kepada para peserta. Selain Permana, Dialog Interaktif di MAN 2 Serang menghadirkan Kurnia Widodo, mantan narapidana kasus terorisme yang telah bertobat.

Kurnia mengisahkan pengalaman hidupnya yang pernah tergabung dengan organisasi terlarang yang mengajarkan pemahaman keagamaan yang ekstrem dan merencanakan aksi teror. Setelah menjalani hukuman penjara dan dipertemukan dengan para korban terorisme, ia tersadar untuk meninggalkan dunia kekerasan. Ia sendiri sebagai orang yang pernah sejalan dengan para teroris tak bisa membayangkan bila luka dan penderitaan batin yang dialami korban akibat aksi teror menimpa dirinya. Dalam Dialog Interaktif di MAN 2 Serang, Kurnia meminta maaf kepada Permana selaku perwakilan dari korban aksi kekerasan terorisme.

“Saya menerima maaf Bapak.” Demikian Permana menanggapi permintaan maaf dari Kurnia.

Meskipun tak mungkin melupakan tragedi Bom Thamrin yang menimpanya, sebagai manusia biasa Permana percaya bahwa memaafkan kesalahan orang lain adalah sifat mulia. Dari penuturan kisah hidupnya ia mengharapkan siswa-siswi peserta Dialog Interaktif di MAN 2 Serang terdorong semangatnya untuk menjadi generasi bangsa yang tangguh, yang tak mudah berputus asa bila dihadapkan dengan cobaan, dan selalu berusaha bangkit menuju kehidupan yang lebih baik.

Seorang siswa MAN 2 mengaku mendapatkan pembelajaran penting setelah mengikuti Dialog Interaktif. Menurutnya, generasi muda harus selalu berpikir positif menjalani kewajiban untuk belajar dengan tekun agar terhindar dari paham-paham keagamaan yang menyimpang. Sebab, kata dia, ajaran keagamaan yang ekstrem bisa mengincar generasi muda dari berbagai arah.

“Saya belajar agar berpikir kritis terhadap paham-paham kekerasan, sehingga kami bisa terhindar dari paham-paham ekstremisme, karena bisa jadi itu datang dari teman, bahkan orang terdekat kita,” katanya.

Peserta lainnya mengaku mendapatkan semangat baru untuk menebarkan perdamaian baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. “Pembelajaran yang saya dapatkan dari Dialog ini adalah agar kita senantiasa memaafkan. Jangan membalas kekerasan dengan kekerasan,” ujar siswi berkerudung putih.

Saat ini bersama Aliansi Indonesia Damai (AIDA), Permana sebagai korban terorisme dan Kurnia selaku mantan pelaku terorisme, aktif mengampanyekan perdamaian di kalangan pelajar di berbagai kota di seluruh Tanah Air. Baik Permana maupun Kurnia mengaku bahwa dengan terlibat dalam kegiatan positif itu bisa mendorong mereka untuk melangkah menjadi lebih baik dan terus menerus menyuarakan perdamaian. [FS]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...