HomeBeritaPerdamaian Adalah Air Kehidupan

Perdamaian Adalah Air Kehidupan

Anggota Tim Perdamaian AIDA, Dwi Welasih, berbagi kisah dalam Dialog Interaktif di MAN Ciwaringin, Cirebon, Rabu (24/2/2016).

Pekan terakhir Februari 2016 lalu Aliansi Indonesia Damai (AIDA) melaksanakan safari kampanye perdamaian di Cirebon, Jawa Barat. Dalam safari tersebut, AIDA menyelenggarakan kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di lima sekolah menengah atas (SMA) di Cirebon. Kelima sekolah tempat penyelenggaraan acara Dialog Interaktif adalah SMAN 1 Palimanan, SMAN 1 Jamblang, MAN Ciwaringin, SMAN 1 Plumbon dan SMAN 1 Sumber. Jumlah peserta Dialog Interaktif dari lima sekolah tersebut 248 siswa. Kegiatan berlangsung pada Senin hingga Jumat, 22-26 Februari 2016.

Pada setiap penyelenggaraan Dialog Interaktif, AIDA menghadirkan Tim Perdamaian yang terdiri atas korban terorisme dan mantan pelaku aksi kekerasan sebagai narasumber. Pengalaman hidup mereka menginspirasi siswa-siswi peserta Dialog Interaktif untuk menjalani kehidupan dengan semangat perdamaian dan ketangguhan.

Tim Perdamaian AIDA dari unsur korban yang hadir dalam Dialog Interaktif di Cirebon adalah R. Supriyo Laksono (Sony) dan Dwi Welasih. Sony ialah seorang korban aksi teror Bom Bali 12 Oktober 2002, sedangkan Dwi korban ledakan bom di Hotel JW Marriott Jakarta pada tahun 2003.

Silih berganti Sony dan Dwi berbagi pengalaman hidup di hadapan para peserta Dialog Interaktif. Sony berkesempatan menjadi nara sumber Dialog Interaktif di SMAN 1 Palimanan, SMAN 1 Plumbon dan SMAN 1 Sumber. Sementara itu, Dwi berbagi kisah perjuangannya bangkit dari keterpurukan akibat aksi terorisme di hadapan para siswa di SMAN 1 Jamblang dan MAN Ciwaringin.

Sony berpesan agar para siswa tidak mengambil cara kekerasan sebagai jalan keluar dari masalah. Aksi kekerasan, kata dia, hanya menyisakan kesengsaraan bagi umat manusia. Dari pengalamannya menjadi korban tragedi Bom Bali 12 Oktober 2002, dia menunjukkan dampak aksi kekerasan yang sangat destruktif. Akibat bom itu, kantor tempatnya bekerja rusak parah. Banyak warga dan wisatawan di Pulau Bali terdampak ledakan. Ia juga kehilangan istri tercinta yang tak lain ialah ibunda bagi putra-putrinya.

Sementara itu, Dwi berbagi kisah dalam Dialog Interaktif di Cirebon. Di hadapan para siswa ia mengisahkan semangatnya untuk tidak menyerah dari penderitaan akibat ledakan bom. Setelah menjalani masa perawatan yang cukup lama, Dwi dan rekan-rekannya membentuk organisasi persatuan korban teror di Indonesia, yaitu Yayasan Penyintas Indonesia (YPI). Melalui organisasi itu para korban aktif mengampanyekan perdamaian bersama AIDA.

Aksi anggota Tim Perdamaian AIDA, R. Supriyo Laksono (Sony), saat menyampaikan materi di hadapan para siswa peserta Dialog Interaktif di SMAN 1 Sumber, Cirebon, Jumat (26/2/2016).

Anggota Tim Perdamaian AIDA dari unsur mantan pelaku kekerasan, Iswanto, juga membagi kisahnya dalam safari kampanye perdamaian di Cirebon. Dia menekankan kepada para siswa bahaya paham radikal serta aksi kekerasan. Menurutnya, pengetahuan yang dangkal adalah sebab utama para pelajar dan generasi muda mudah terhasut untuk melakukan kekerasan dengan mengatasnamakan ajaran agama.

Ia juga banyak berbagi pengalaman tentang keputusannya keluar meninggalkan kelompok kekerasan dan kini memilih jalan perdamaian dalam menjalani kehidupan. Ia meyadari kekeliruannya pada masa lalu, bergabung dengan kelompok pro-kekerasan, dan telah bertaubat dan meminta maaf kepada para korban. Kini Iswanto bersama-sama para korban terorisme menyuarakan pentingnya perdamaian di kalangan pelajar.

Para siswa peserta Dialog Interaktif di Cirebon antusias mengikuti kegiatan tersebut. Dari pengalaman korban, mereka mengambil teladan bahwa setiap tantangan kehidupan harus dihadapi dengan kerja keras dan pantang menyerah. Sementara itu dari mantan pelaku, para siswa mengambil hikmah bahwa kegagalan masa lalu harus menjadi pelecut semangat perbaikan untuk masa depan. (MLM).

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....