HomeBeritaBersatu untuk Indonesia yang...

Bersatu untuk Indonesia yang Lebih Damai

Generasi muda adalah garda terdepan dalam upaya melestarikan perdamaian di Indonesia. Bersama korban dan mantan pelaku terorisme, AIDA mengajak ratusan pelajar di Malang untuk menjaga kedamaian serta tidak terpengaruh ajakan kekerasan dan radikalisme.

Lima korban bersama salah seorang mantan pelaku aksi terorisme berdiri satu barisan menjadi Tim Perdamaian AIDA untuk mengajak generasi muda di Kota Malang mewujudkan Indonesia yang lebih damai. Mereka adalah Sudarsono Hadisiswoyo, Iwan Setiawan (korban bom Kuningan Jakarta, 9 September 2004), Tita Apriyantini (korban bom Hotel JW Marriott Jakarta, 8 Agustus 2003), Eko Sahriyono, Endang Isnanik (korban bom Bali I, 12 Oktober 2002), dan Ali Fauzi (mantan pelaku terorisme).

Ajakan tersebut mereka sampaikan dalam acara Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang diselenggarakan AIDA di SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 4, dan SMAN 5 Kota Malang pada 21-27 Agustus 2015. Para korban dan mantan pelaku bersinergi agar tidak ada lagi orang yang menjadi pelaku kekerasan atau korban terorisme.

Di hadapan para siswa, korban berbagi kisah tentang perjuangannya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi terorisme. Begitu pula dengan mantan pelaku, ia bercerita mengenai perjalanan hidupnya sebelum terlibat aksi terorisme, pada saat aksi dan masa-masa sesudahnya.

Bagi para korban, mengungkapkan kembali “luka lama” yang perih dan menyakitkan di hadapan banyak orang bukan hal mudah. Namun, demi mengajak masyarakat luas menjaga perdamaian, mereka menyampaikan kisahnya dengan segala ketegaran, ketangguhan dan kelapangan jiwa. Kisah tersebut bukan untuk berbagi kesedihan melainkan untuk menjelaskan kepada generasi muda dampak dan bahaya aksi terorisme, sehingga mereka tergugah untuk tidak menggunakan kekerasan dalam menghadapi tantangan kehidupan. Bagi mantan pelaku, berbagi kisah sangat berguna untuk membimbing generasi muda agar tidak mengikuti paham keagamaan yang radikal atau ekstrem, serta bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Selain berbagi kisah, korban dan mantan pelaku juga menyampaikan pesan perdamaian kepada anak muda untuk menjadi generasi tangguh dan cinta damai. Sudarsono, korban Bom Kuningan, mengajak para pelajar untuk mewujudkan kehidupan yang damai di mana pun. Ia menngingatkan bahwa kehidupan damai begitu indah, sedang kekerasan dan terorisme hanya menimbulkan kehancuran. “Saya tidak ingin ada orang lain yang menjadi korban terorisme,” kata dia yang pernah mengalami blank spot atau kehilangan memori selama beberapa waktu akibat ledakan bom.

Eko Sahriyono, korban Bom Bali 2002, juga mengemukakan hal senada. Ia meminta generasi muda menjauhi aksi kekerasan karena merugikan dan tidak menyelesaikan masalah. “Alangkah indahnya apabila kita hidup rukun bersama, damai dalam perbedaan, karena di dalam perbedaan itulah akan muncul keindahan. Mari kita menciptakan perdamaian,” ucapnya.

Menguatkan rekannya, korban bom JW Marriott, Tita Apriyantini, mengimbau generasi muda tidak menyalahgunakan ajaran agama untuk melukai atau menyakiti. “Makna beragama sesungguhnya adalah menebar kasih sayang dan saling mengasihi antarsesama. Tuhan pun tidak mengajarkan umat-Nya untuk melakukan kekerasan kepada sesama,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, mantan pelaku aksi kekerasan, Ali Fauzi, meminta generasi muda mawas diri agar tidak terjerumus ke dalam jaringan kelompok kekerasan. Saat ini, kata dia, kelompok kekerasan menggunakan media sosial untuk menyebarkan ideologi dan merekrut anggota baru mereka.

“Hati-hati dalam memilih pertemanan di dunia maya. Sudah banyak anak muda yang direkrut kelompok kekerasan melalui media sosial. Hasil riset Marc Sageman menyatakan hampir 90% mereka yang bergabung dengan terorisme dikarenakan friendship (pertemanan) dan kinship (kekerabatan),” ujar Ali.

Dosen kajian Islam di salah satu perguruan tinggi swasta di Jawa Timur itu juga mengajak generasi muda untuk bersama-sama menjaga perdamaian, sebagaimana dirinya dan para korban terorisme menjadi duta perdamaian.

Korban terorisme dan mantan pelaku yang bersatu dalam Tim Perdamaian merupakan tim yang difasilitasi oleh AIDA. Sebelumnya, mereka bertemu dan berbagi pengalaman hidup masing-masing. AIDA mendukung mereka untuk bersatu membangun Indonesia yang lebih damai. (AS) [SWD]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...