HomeOpiniMengingat yang Lupa

Mengingat yang Lupa

KALAU ditanya anak-anak kita atau mereka yang sekarang ini sudah duduk di kelas sekolah menengah atas (SMA), kapankah terjadinya Bom Kuningan? Pasti kebanyakan mereka pada lupa atau memang tidak pernah mencoba mengingat hal itu. Mereka pasti akan bertanya, kapan itu, di mana dan tahun berapa?

Ya, rata-rata kita sekarang sudah mulai lupa dengan apa yang terjadi di masa lalu. Jangankan Bom Kuningan, ditanya siapa kakek buyut kita saja sudah pasti kepala kita akan menggeleng tanda tidak tahu.

Berawal dari undangan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) terhadap para jurnalis yang ada di Medan, maka saya pun hadir di sana. Salah satu agenda dari kegiatan tersebut adalah mendengar kisah tragis para korban bom. Sebenarnya ada tiga korban yang ditampilkan, namun dalam tulisan saya ini saya mencoba menghadirkan salah satu kisah tersebut.

Mulyono (33) ia merupakan salah satu korban Bom Kuningan di depan Kedutaan Australia di Jakarta. Sepintas tidak ada perbedaan antara saya dan Mas Mul, namun ada sedikit yang mengganggu penglihatan saya karena saya melihat dagunya berbeda dengan kebanyakan orang. Awalnya saya menganggap bahwa itu hanya cacat bawaan. Namun setelah ia menceritakan kisahnya, barulah saya paham, apa yang terjadi padanya.

Waktu itu katanya, tanggal 9 September 2004, sekitar pukul 10.00 Mulyono yang saat itu baru keluar dari kantor dan sedang berada di Jalan Kuningan tepatnya. Menurut keterangannya dia berada di jalur ke enam agak jauh dari Kedutaan Australia, namun entah kenapa suara ledakan yang cukup dahsyat terdengar dan tiba-tiba penuh dengan asap. Entah bagaimana ceritanya, ia merasakan ada darah yang keluar dari tubuhnya dan ia tidak mampu berkata-kata. Lalu ia mencoba keluar dari mobil yang ia kendarai karena suasana jalan waktu itu sudah tidak karuan lagi. Asap putih yang sangat pekat lambat laun mulai hilang, dia lalu berusaha meminta orang untuk menolongnya. Namun orang begitu melihatnya tampak mulai menjauh dan terlihat dari wajah mereka penuh dengan ketakutan.

“Saya terus terang tidak tahu apa yang terjadi pada diri saya. Tetapi saya masih sadar waktu itu, lalu saya mengambil uang di dompet dan melambai-lambaikan uang Rp50 ribu agar ada orang yang membantu saya untuk mengantarkan saya ke rumah sakit.”

Lalu apa yang terjadi pada dirinya? Katanya, dia baru tahu kalau kondisi rahangnya hancur setelah berada di rumah sakit. Sebelumnya ia tidak tahu bahwa lidahnya sudah menjulur-julur karena tidak ada lagi penopangnya.

Entah kenapa serpihan bom tersebut mengenai rahangnya dan dengan sekejap rahangnya habis terbakar, bagaikan besi yang dipanasi hingga meleleh.

“Ya kalau ditanya kok bisa itu terjadi karena lokasi saya agak jauh dari TKP, tetapi itulah yang namanya takdir jadi akal sehat terkadang tidak bisa sampai ke sana,” ujarnya.

Singkat cerita, ia ditolong dan dibawa ke salah satu rumah sakit. Namun karena rumah sakit itu rumah sakit mata, maka ia lalu dibawa ke rumah sakit yang lebih besar. Tiba di sana katanya, ia kurang dilayani dengan baik karena belum ada yang menjamin. Namun akhirnya perusahaan lah yang menjamin setelah salah seorang tim medis berhubungan dengan perusahaan di mana dia bekerja.

Baru satu hari di rumah sakit tersebut, akhirnya perusahaan membawanya ke rumah sakit di Singapura. Di sana sekitar 2 bulan ia koma. Di rumah sakit inilah ia melakukan recovery, rahangnya dicoba untuk digantikan dengan rahang buatan yang diambil dari tulang kakinya.

“Sehebat apa pun manusia, maka ia tidak akan bisa menggantikannya yang sama dengan buatan Allah,” ujarnya.

Walaupun saat itu sudah boleh kembali ke Jakarta tetapi ia diwajibkan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit tersebut, tetapi rupanya terjadi kesalahan medis, karena antara mulut dan dagu yang terlalu panjang.

Pengobatannya berjalan dua tahun empat bulan di Singapura, Namun hasilnya kurang memuaskan dan akhirnya pihak Kedutaan Australia membawanya ke rumah sakit di Australia untuk kembali diobati dan biayanya semua ditanggung pihak kedutaan.

“Bayangkan bagaimana sakitnya, rahang buatan tersebut akhirnya harus dilepas untuk digantikan dengan rahang buatan yang lain,” kata Mulyono.

Mulyono mengaku, setahun lebih setelah kejadian naas tersebut, dia hanya bisa makan melalui selang yang langsung dimasukkan ke lambungnya. Bahkan, hingga hari ini implan di kepalanya masih sering terasa sangat menyakitkan, terutama saat bangun tidur di pagi hari.

Saat ia berkisah, ada kalimat yang menurut saya sangat luar biasa yang diucapkan Mas Mul yaitu: “Allah masih baik sama saya. Saya yakin di balik kesusahan ada kemudahan bahkan di Alquran ayat ini diulang dua kali. Dan saya percaya bila saya sabar menerima semua ini, Allah pasti akan menggugurkan dosa-dosa saya, dan itu ada di dalam hadist Rasulullah Saw,” ujarnya dengan penuh keyakinan.

Bahkan ia mengatakan, “Sampai saat ini saya masih sakit, karena tubuh saya sudah tidak sempurna. Saya hanya berdoa kepada Allah agar saya selalu diberi ketabahan dan ketegaran hati untuk menerima ini semua. Pasti ada hikmah di balik peristiwa ini, peristiwa tragis ini baru bisa saya ceritakan setelah bergabung dengan Aliansi Indonesia Damai (AIDA),” ujarnya.

Sebelumnya ia sangat tertutup. Bahkan sampai saat ini ia tidak ingin ada cermin di depannya. Ia tidak mau melihat wajahnya kembali.

“Awalnya saya berpikir untuk apa menceritakan kepada orang lain, toh boleh jadi orang tidak ada yang berempati kepada saya. Namun setelah adanya dialog yang cukup panjang dengan AIDA, akhirnya saya mencoba membuka diri dengan harapan tidak ada lagi korban bom yang dialami oleh saya dan saudara-saudara saya yang lain. Kami mencoba mengkampanyekan Suara Korban, Suara Perdamaian. Boleh jadi menurut pemerintah dan masyarakat kasus itu sudah berlangsung puluhan tahun. Namun sampai saat ini kami tetap merasakannya,” ujarnya sambil berharap agar tidak ada lagi bom di tanah air khususnya dan di negara-negara lain umumnya.

Kisah ini saya tuliskan, tidak bermaksud menjadikannya hanya sebagai obyek tulisan. Namun saya ini mencoba membagi penderitaan yang dialami para korban bom baik Bom Kuningan, Bom Bali dan lain-lain yang mungkin sudah kita lupakan. Padahal merekalah yang sampai saat ini masih menderita. Kasus atau pelakunya mungkin saja sudah dihukum, tetapi pernahkah kita berpikir bagaimana korbannya? Apakah pemerintah sudah hadir di tengah-tengah mereka? Atau pemerintah juga lupa dengan mereka?

Dari cerita yang disampaikan, ada pelajaran penting yang bisa kita dapatkan, di antaranya mereka memiliki ketegaran yang boleh jadi kita tidak memilikinya. Bahkan ada kalimat yang sempat saya garisbawahi yaitu: Allah masih baik sama saya. Sebuah kalimat yang agak sulit hari ini kita dapatkan di saat orang pada lupa kepada perintah dan larangan Allah.

Sakit yang mereka derita sampai saat ini, bukanlah menjadikan mereka benci dengan takdir yang mereka terima, tetapi mereka tetap bersyukur karena yakin bahwa Allah akan menggugurkan dosa-dosa mereka jika mereka sabar dengan apa yang mereka alami.

Lalu pertanyaan kepada kita, apakah kita sanggup mengalami apa yang mereka alami. Allahu Akbar. Hanya Allah yang tahu siapa hamba-Nya yang mampu menerima cobaan-Nya dan yang tidak.

Mudahan-mudahan kisah ini mengingatkan kita bagi yang lupa bahwa masih banyak korban yang sampai saat ini masih trauma akibat bom.

 

H. Ali Murthado

Redaktur Harian Analisa

 

*Artikel ini pernah dimuat di Harian Analisa edisi 17 Februari 2017.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Membalas Kekerasan dengan Kasih

Aliansi Indonesia Damai- Meski kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga, namun Ni Luh Erniati, penyintas bom Bali 2002, tidak ingin membalas dendam kepada pelaku/mantan pelaku terorisme. Ia pun tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam...

Dukungan Sesama Korban Membantu Kebangkitan

Aliansi Indonesia Damai- Tasdik Saputra, penyintas Bom Kampung Melayu 2017, mengaku dukungan dari sesama korban terorisme sangat besar pengaruhnya bagi proses kebangkitan dirinya. Menurut dia dukungan sesama korban telah menguatkan dirinya untuk tidak terus larut dalam trauma, mampu bangkit dari keterpurukan, bahkan bisa memaafkan mantan pelaku terorisme. “Awalnya...

Pendidikan Kekalahan

Oleh Ridho Pratama Satria, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Juni 2026 Dalam perkembangan dunia pendidikan sekarang, pelajar yang berprestasi bukan hanya pelajar yang tinggi nilai akademiknya. Pelajar yang punya catatan juara juga layak disebut pelajar berprestasi. Catatan juara ini...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...