HomeBeritaKunci Perdamaian Adalah Persaudaraan

Kunci Perdamaian Adalah Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Dalam acara Halaqah Alim Ulama bertema “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan Ibroh” di Surakarta akhir Agustus lalu, Wakil Rais Syuriah PW Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, KH. M. Dian Nafi, mengatakan bahwa kunci terwujudnya perdamaian adalah persaudaraan di antara masyarakat.

Menurutnya, perdamaian adalah misi utama dari agama Islam, serta basis paling dasar untuk mencapai perdamaian adalah menjalin persaudaraan.

Kegiatan yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan tersebut menghadirkan tokoh nasional sekaligus penggagas Gerakan Suluh Kebangsaan, Prof. Dr. Mahfud MD, sebagai keynote speaker. Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo, dan sejumlah tokoh dihadirkan pula sebagai pembicara. Di antaranya, KH. M. Dian Nafi, Josuwa Ramos (penyintas aksi teror Bom Kuningan 2004), Kurnia Widodo (mantan narapidana kasus terorisme), dan Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi. Anggota Lembaga Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. Zuly Qodir, memoderatori jalannya Halaqah.

Baca juga Meneladani Akhlak Nabi dalam Kisah Penyintas

Dalam kegiatan tersebut, Josuwa dan Kurnia secara bergantian membagikan pengalaman hidup masing-masing di hadapan ratusan alim ulama yang hadir sebagai peserta. Josuwa menceritakan, meskipun dirinya terluka hingga terjadi pembengkakan di antara tulang kering dan lutut kirinya akibat ledakan bom, ia telah memaafkan pelakunya. Sebagai mualaf, ia mengaku terinspirasi dari kisah Nabi Muhammad Saw. yang menerima berbagai penderitaan yang ditimpakan oleh orang-orang yang beliau dakwahi.

Pun dengan Kurnia Widodo, meskipun dahulu pernah terjerumus ke dunia kelam terorisme, ia kini telah bertobat dan menyadari kekeliruannya. Kalimat pertama yang ia tekankan ketika diberi kesempatan bicara adalah meminta maaf kepada korban. Ia menyesal pernah tergabung dengan kelompok teroris, dan mengaku sebelumnya tak pernah memikirkan dampak aksi kekerasan terhadap korbannya.

“Mari kita ambil ibroh dari kisah Nabi Yusuf, yang tabah dan menerima seluruh nestapa. Ini ajaran Al-Quran, harus mengkonstitusi kehidupan kita.”

Kiai Dian menjelaskan bahwa pengalaman korban dan mantan pelaku terorisme melewati titik paling sulit dalam kehidupannya mengandung pembelajaran (ibroh) penting. Dari pengalaman korban, Kiai Dian mengajak tokoh masyarakat untuk mengambil pembelajaran dari kisah Nabi Yusuf As. yang tabah dan ikhlas luar biasa menerima berbagai ujian. “Mari kita ambil ibroh dari kisah Nabi Yusuf, yang tabah dan menerima seluruh nestapa. Ini ajaran Al-Quran, harus mengkonstitusi kehidupan kita,” jelasnya.

Ia meyakini, tak mudah bagi korban untuk menerima kenyataan yang ada dan memaafkan pelaku. Sekalipun korban telah memaafkan, bagaimana kemudian dengan keluarganya, teman-temannya dan sebagainya. Karena itu menurutnya, keberadaan korban dengan segala luka dan derita yang dialami harus menyadarkan masyarakat akan pentingnya perdamaian, dan setiap cara-cara kekerasan telah merusak kehidupan manusia.

“Dari korban kita belajar betapa perdamaian itu amat sangat mahal. Karena itu penting belajar dari kisah (ibroh),” paparnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Muayyad Windan itu menambahkan, semakin berat ujian yang dihadapi seseorang, maka semakin tinggi pula derajat yang akan ia peroleh. Apalagi, bagi para korban yang tidak putus asa, tidak menyerah dan bangkit dari penderitaan itu, maka ketika itu pula ia telah mencapai taraf akhlakul karimah yang sangat luhur.

“Semakin tinggi penderitaan seseorang, semakin tinggi pula derajat orang itu,” pungkasnya. [AH]

Baca juga Alim Ulama Harapan Perdamaian Bangsa

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....