HomeBeritaPeringatan 15 Tahun Bom...

Peringatan 15 Tahun Bom Kuningan, Korban Didorong Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai– Keluarga besar penyintas terorisme menggelar acara Peringatan 15 Tahun Tragedi Bom Kuningan, di Jakarta pekan lalu. Kegiatan terselenggara berkat kerja sama Forum Kuningan (FK), paguyuban para korban Bom Kuningan 2004, Yayasan Penyintas Indonesia (YPI), dan Aliansi Indonesia Damai (AIDA). Selain mengenang yang telah tiada akibat serangan teror, para penyintas saling bersilaturahmi, menguatkan hubungan di antara mereka.

Hadir dalam kegiatan pagi itu para anggota FK beserta keluarganya, beberapa orang penyintas perwakilan YPI, dan sejumlah tamu undangan perwakilan lembaga negara. Beberapa jurnalis media massa juga hadir untuk meliput acara.

Ketua YPI yang juga merupakan korban Bom Kuningan 2004, Sucipto Hari Wibowo, mengajak para koleganya agar bangkit dari berbagai penderitaan akibat bom, sehingga bisa menatap kehidupan lebih baik. Ia mengharapkan para korban bisa bersama-sama menciptakan perubahan dalam diri masing-masing, yaitu perubahan dari seorang korban terorisme menjadi orang yang bisa berkontribusi memberikan kebaikan bagi masyarakat, dengan cara mengampanyekan perdamaian.

Baca juga Harapan Penyintas Usai 1.5 Dekade Bom Kuningan

“Kami bersama-sama memulihkan dan memberikan dukungan moral kepada para korban supaya bisa berperan menjadi penyintas agar dapat menginspirasi dan mendukung para korban yang masih punya trauma selama hidupnya. Kami terus berupaya agar jumlah duta perdamaian terus bertambah. Walaupun kami sadar bahwa upaya ini tak semudah membalikkan telapak tangan karena korban bom itu butuh waktu untuk berdamai dengan dirinya sendiri,” ujarnya.

Acara Peringatan Tragedi Bom Kuningan kali ini diisi dengan diskusi berbagi pengalaman sejumlah penyintas dalam menjalani kehidupan setelah terdampak musibah. Mereka adalah Ni Luh Erniati (korban Bom Bali 2002), Josuwa Ramos (korban Bom Kuningan 2004), Agus Kurnia (korban Bom Thamrin 2016), dan Jihan Talib (korban Bom Kampung Melayu 2017). Secara bergantian mereka mengisahkan perjalanan hidup masing-masing, bagaimana mereka mampu mengalahkan kesakitan dan kesedihan akibat tragedi, serta kiprah mereka saat ini menjadi duta perdamaian bersama AIDA.

Salah seorang korban Bom Kuningan, Josuwa Ramos, menceritakan bagaimana ia bisa bertahan hidup meski mengalami trauma berat. Josuwa, yang kala itu berusia 20 tahun, tak pernah menyangka sebelumnya akan mengalami peristiwa mengerikan pada 2004 itu. Saat kejadian ia bekerja sebagai tenaga keamanan di Kedutaan Besar Australia. Josuwa sedang bertugas sebagai car checker, pemeriksa setiap mobil yang akan masuk ke Kedutaan. Namun, tiba-tiba ledakan terjadi dari sebuah mobil yang berjarak sekitar 6 meter dari tempatnya berdiri.

Baca juga Mulailah Berdamai Dengan Diri Sendiri

Ledakan bom itu mengakibatkan banyak serpihan benda padat menancap di beberapa bagian tubuhnya.  “Kaki di betis ada plat sebesar ini (ia mengisyaraktan dengan jari telunjuk), dan di dengkul itu ada yang runcing panjang sekitar 4 milimeter. Dia nancap di tengah-tengah, jadi di angkle,” kata Josuwa. Selama dua bulan sejak tragedi ia mengalami trauma berat. Ia mengaku sempat membenci dan ingin membalas dendam kepada para pelaku. Akan tetapi, seiring waktu setelah kondisinya membaik, dan berkat dorongan orang-orang terdekat, Josuwa bisa berbesar hati untuk melenyapkan dendam dan memaafkan mereka. Kuncinya, kata dia, adalah menata hati dan pikiran untuk tetap positif menjalani takdir yang digariskan Tuhan.

“Menerima dulu bahwa kejadian itu adalah anugerah yang Allah berikan. Saya sudah memaafkan pelaku, jauh sebelum saya ketemu,” ucapnya.

Ia merasakan, dengan sikap penerimaan atas segala yang terjadi bisa membuatnya kuat secara psikis, tidak terbebani kepedihan masa lalu meskipun ia tak akan pernah melupakan tragedi yang menimpanya. Sejak awal 2019 Josuwa mulai berkesempatan untuk terlibat dalam kegiatan kampanye perdamaian bersama AIDA. Salah satu bentuk kegiatannya yaitu berkunjung ke sejumlah Lembaga Pemasyarakatan untuk berdialog dan menyampaikan pesan perdamaian kepada narapidana yang terlibat kasus terorisme (napiter). Satu hal yang membuatnya haru adalah ketika ada seorang napiter yang tidak terlibat Bom Kuningan 2004 tetapi melayangkan permintaan maaf kepadanya. Hal itu menyentuh hati Josuwa hingga membuatnya merasa iba, dan berkeyakinan bahwa pelaku teror masih memiliki rasa kemanusiaan.

“Alhamdulillah, saling memaafkan dan berpelukan, satu sama lain menerima, baik korban dan pelaku,” ucapnya lirih.

Pejabat pemerintah perwakilan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyampaikan dukungan dalam kegiatan pagi itu. Diharapkan, perhatian dan tanggung jawab pemerintah sebagai kepanjangan tangan negara semakin bisa dirasakan oleh para korban. Perwakilan dari UNODC, kantor PBB untuk urusan obat-obatan terlarang dan tindak pidana, juga hadir dan menyampaikan dukungan kepada para korban. [TH]

Baca juga “Bukan karena Teroris Kakakmu Nggak Ada”

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru)...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026 Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam...

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menekankan pentingnya umat Islam menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan. Dalam Islam, kata dia, dikenal tiga jenis persaudaraan (ukhuwah) yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). “Kalau kita tidak bersaudara sama-sama...

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian Opini Publik untuk Demokrasi dan Pembangunan LPPM Universitas Hasanuddin Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 31 Agustus 2026 Dalam belasan tahun terakhir, kehidupan kolektif bangsa Indonesia memperlihatkan gejala yang patut dicermati, yakni menguatnya kecenderungan antisains...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...