HomeBeritaMeneladani Pertobatan Mantan Ekstremis

Meneladani Pertobatan Mantan Ekstremis

Ada pantun empat baris
Juara satu kompetisi nasional
Sungguh luar biasa sejarah hidup Pak Is
Memotivasi dan sangat emosional

Pantun disampaikan salah satu siswa SMA di Klaten setelah mendengar kisah Iswanto, mantan pelaku ekstremisme kekerasan, dalam Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang diselenggarakan AIDA, Senin (24/08/2020). Iswanto berbagi kisah hijrahnya dari kelompok kekerasan menuju gerakan perdamaian di hadapan 70 siswa dari empat sekolah di Klaten yaitu SMAN 1 Klaten, SMAN 2 Klaten, SMAN 1 Jatianom, dan SMAN 1 Karanganom.

Baca juga Tidak Menjadi Generasi Rebahan

Is, sapaan akrab Iswanto, mengungkapkan, dirinya bergabung dengan kelompok ekstremisme kekerasan karena terpengaruh oleh gurunya, Ali Ghufron dan Ali Imron, dua orang pelaku Bom Bali 2002. Ia terpengaruh dengan doktrin yang membenarkan kekerasan sebagai salah satu jalan untuk berjihad. Is lantas memutuskan bergabung dengan Jamaah Islamiyah (JI) saat usianya masih sangat belia;  19 tahun. “Selain ustadz saya, pergaulan saya dengan teman-teman saya juga memengaruhi pandangan saya. Dulu pengertian jihad bagi saya hanyalah perang,” ujarnya.

Karena hasrat jihadnya yang menggebu-gebu, Is terlibat langsung dalam aksi-aksi kekerasan di Poso dan Ambon pada tahun 1999-2000. Saat itu, dua daerah di Sulawesi Tengah dan Maluku tersebut sedang dilanda konflik komunal.

Baca juga Menyemai Virus Perdamaian di SMAN 1 Klaten

Pria asli Lamongan Jawa Timur ini menemukan “jalan kembali” ketika menerima surat wejangan dari gurunya, Ali Imron, yang sedang menjalani hukuman di penjara. Dalam surat itu, Ali menyuruhnya untuk berhenti melakukan kekerasan. Is lantas melakukan refleksi dan mengkaji ulang pemahaman yang selama ini diyakininya sebagai kebenaran. Perubahan Is semakin menguat, ketika ia bertemu dan menyimak langsung kisah-kisah korban bom. Para korban harus menanggung derita berkepanjangan padahal mereka tak bersalah sama sekali. Tak sekadar berkenalan, Is dan para korban terorisme saat ini bahu-membahu mengampanyekan perdamaian kepada khalayak luas.

Salah satu peserta kegiatan mengambil pelajaran dari kisah Is. Menurut dia, manusia harus berpikir kritis sebelum bergabung dalam suatu kelompok karena manusia diberi akal pikiran yang lebih dari makhluk lain. “Maka kita harus berhati-hati dalam beraktivitas. Ketika bergabung organisasi di-check seluk-beluknya. Jangan salah melangkah dan terburu-buru karena ke depan akan membawa dampak buruk bagi diri kita sendiri atau orang-orang di sekitar kita,” ujarnya. [LADW]

Baca juga Milenial Harus Berpikiran Terbuka

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....