HomeBeritaTak Henti Mendukung Korban

Tak Henti Mendukung Korban

Bersama dengan para korban, semua pihak harus berdiri bersama untuk melawan segala bentuk dan upaya terorisme. Luka mereka mungkin memudar, tapi luka tersebut tak akan pernah hilang sampai kapan pun, sehingga dukungan harus diberikan secara terus-menerus.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres, dalam peringatan internasional untuk korban terorisme, 21 Agustus 2020. Pada tahun ini, peringatan yang lebih dikenal dengan International Day of Remembrance of and Tribute to the Victims of Terrorism diadakan secara virtual yang ditayangkan secara langsung di laman resmi siaran PBB.

Baca juga Tidak Menjadi Generasi Rebahan

Mengusung tema “Not Forgotten: Stories of Remembrance of Victims of Terrorism,” kegiatan ini menghadirkan beberapa perwakilan korban untuk menceritakan makna peringatan bagi mereka. Hal ini bertujuan untuk mengingatkan kepada masyarakat bahwa peringatan ini bukan hanya tentang perasaan kehilangan, tapi juga untuk mengakui bahwa mereka telah menjadi penyintas yang tangguh.

Menurut Guterres, publik harus tetap mendukung dan mengingat para korban terorisme, sekalipun dalam kondisi krisis pandemi Covid-19. Korban telah mengingatkan kepada khalayak tentang pentingnya upaya kontraterorisme.

Baca juga Suluh Perdamaian di Kota Pahlawan

“Segala bentuk dan manifestasi terorisme menjadi tantangan global. Hal tersebut menyebabkan kerusakan permanen bagi individu, keluarga dan juga masyarakat. Luka-luka tersebut sangat dalam, dan meskipun luka tersebut mulai memudar, ia tak akan pernah hilang,” ujarnya.

Sementara Vladimir Voronkov, Wakil Sekretaris Jenderal UNOCT (Badan PBB untuk urusan penanggulangan terorisme) mengajak setiap elemen masyarakat untuk membangun dukungan kuat kepada para penyintas melalui perwujudan United Nations Global Congress of Victims yang akan dilaksanakan untuk pertama kalinya di tahun 2021 mendatang.

Baca juga Saatnya Mayoritas Menyuarakan Perdamaian

Dalam peringatan yang ketiga ini, UNOCT juga meluncurkan film pendek berisi testimoni para penyintas. Semangat para penyintas untuk terus berjuang pascakejadian teror yang menimpa mereka memberikan contoh kepada setiap individu untuk terus bertahan di tengah kondisi pandemi.

Di sisi lain, para korban terorisme juga menunjukkan bahwa mereka tetap saling tolong menolong di tengah keterbatasan. Para korban pengeboman Irish Republican Army (IRA) atau yang lebih dikenal dengan Bom IRA dan juga perkumpulan penyintas di Indonesia yang tergabung dalam Yayasan Penyintas Indonesia (YPI) bahkan memberikan bantuan kepada sesama penyintas di tengah pandemi Covid-19. Mereka membuktikan bahwa pandemi bukanlah saat untuk menyerah, melainkan momen untuk menumbuhkan semangat dan solidaritas.

Baca juga Saat Mantan Ekstremis Belajar dari Korban

Peringatan semacam ini juga dilakukan di berbagai negara anggota PBB dengan cara mengheningkan suara dan aktivitas sejenak selama 2 menit. Di Indonesia, kegiatan serupa dilaksanakan pada Jumat 21 Agustus 2020 jam 10.00 WIB.21 Agustus dipilih oleh PBB sebagai hari peringatan internasional untuk korban terorisme. Peringatan ini didasarkan pada Resolusi Majelis Umum PBB 72/165. Peringatan ini mulai diadakan sejak tahun 2017. [WTR]

Baca juga Terorisme Bisa Bermula dari Lingkup Keluarga

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....