HomeBeritaSalam Tangguh dan Damai...

Salam Tangguh dan Damai dari Malang

Aliansi Indonesia Damai (AIDA) menyelenggarakan safari kampanye perdamaian di lima SMA Negeri di Malang, Jawa Timur. Dalam kegiatan bertajuk “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” itu para pelajar berkomitmen untuk menanamkan ketangguhan diri dan menjadi duta perdamaian di sekolah.

Keteguhan sikap arek-arekMalang menjadi generasi damai nan tangguh muncul dan menguat setelah berbagi pengalaman dengan Tim Perdamaian AIDA yang terdiri atas unsur korban dan mantan pelaku aksi kekerasan. Dari pengalaman korban aksi kekerasan, para pelajar menyerap ilmu betapa pembangunan dan kemajuan hidup tidak dapat terwujud tanpa adanya perdamaian. Mereka juga mendapatkan pelajaran berharga tentang pentingnya memiliki sikap gigih dan tangguh guna menghadapi tantangan kehidupan. Sementara itu dari kisah hidup mantan pelaku aksi kekerasan, kawula muda Malang memetik hikmah bahwa jalan kekerasan tidak pernah menghasilkan perbaikan dalam kehidupan tetapi justru menimbulkan kerugian.

Safari Tim Perdamaian AIDA ke lima sekolah di Malang merupakan lanjutan dari kegiatan serupa yang pernah digelar di Klaten, Tangerang Selatan dan Lamongan. Tujuan acara tersebut adalah menanamkan kesadaran akan pentingnya tradisi cinta damai dalam diri generasi muda di Malang. Selain itu, melalui kegiatan ini diharapkan muncul semangat ketangguhan untuk menjalani pasang surut kehidupan di dalam jiwa para pelajar di kota penghasil apel itu.

Terhitung 248 pelajar dari SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 4 dan SMAN 5 Kota Malang menyambut acara dialog interaktif yang dilaksanakan pada 21-27 Agustus 2015 dengan antusiasme tinggi. Mereka mengikuti setiap tahapan kegiatan secara aktif dan penuh penghayatan. Para siswa terlihat asyik dan sibuk mengikuti permainan yang dipandu oleh fasilitator AIDA, Farha Ciciek Assegaf dan Agus Muhammad. Pada sesi dialog, banyak siswa melontarkan pertanyaan atau tanggapan mengenai pengalaman hidup Tim Perdamaian AIDA dalam berkontribusi mensukseskan pembangunan Indonesia yang damai.

“Saya kagum dengan bapak-bapak dan ibu-ibu korban sekaligus bertanya-tanya kok bisa memaafkan kesalahan para pelaku tindak kekerasan dan terorisme, atau kok tidak punya dendam ke mantan pelaku dan malah sekarang menjadi satu tim mempromosikan perdamaian,” kata salah satu siswa SMAN 3 saat kegiatan berlangsung.

Anggota Tim Perdamaian AIDA, Tita Apriyantini, menjawab keheranan siswa itu dengan penjelasan singkat. “Kalau saya melakukan hal yang sama kepada mereka yang melukai saya lalu apa bedanya saya dengan mereka. Bagi saya kekerasan tidak semestinya dibalas dengan kekerasan. Itu bukan jalan yang benar untuk menyelesaikan masalah,” ujar wirausahawan muda yang menjadi korban Bom JW Marriott pada 5 Agustus 2003 itu.

Pada kegiatan kampanye perdamaian di SMAN 2, anggota Tim Perdamaian AIDA lainnya, Iwan Setiawan, berdiskusi dengan para siswa tentang hakikat ketangguhan. Iwan yang merupakan salah satu korban bom di depan Kedutaan Besar Australia pada 9 September 2004 berbagi kisah perjuangannya melawan penderitaan akibat aksi teror yang telah menghilangkan sebagian anugerah hidupnya. Kendati kehilangan penglihatan sebelah kanan secara permanen, ia tak patah arang melanjutkan cita dan harapan hidupnya bersama keluarga tercinta.

“Selain keikhlasan, kunci saya dalam hidup itu selalu menanamkan mental petinju dalam diri saya. Adik-adik tahu apa saja mental petinju? Betul sekali, tangguh, kuat, terus bangkit, pantang menyerah dan masih banyak lagi. Meskipun saya jadi korban bom, saya menolak untuk menjadi terpuruk karena peristiwa itu,” ujar Iwan saat menyampaikan presentasinya yang seketika disambut riuh tepuk tangan dari para siswa.

Cobaan yang mendera, lanjutnya, tidak boleh mengalahkan semangat hidup. Ia selalu meyakinkan diri bahwa masalah yang dihadapi tidak berarti apa-apa dibanding kebesaran dan kemampuan dirinya. Sarjana manajemen informatika salah satu universitas swasta di Jakarta itu punya cara unik untuk mengalahkan trauma dalam diri akibat tragedi bom yang menimpanya silam. Iwan yang kini menjadi entrepreneur bidang komputer menyematkan nama “Bombom Computer” sebagai identitas perusahaannya. “Bom itu kan besar, dahsyat, saya bercita-cita dan berdoa agar usaha saya Bombom Computer itu semakin besar, semakin maju,” ucapnya.

Menguatkan pesan para korban, anggota Tim Perdamaian AIDA dari unsur mantan pelaku kekerasan, Ali Fauzi, berbicara di hadapan siswa tentang pentingnya bersikap cerdas dalam menjalin pertemanan. Alasannya, kebaikan atau keburukan hidup sangat dipengaruhi oleh faktor persahabatan.  Selaku pribadi yang pernah terjalin dengan jaringan pelaku kekerasan pada masa lalu, Ali mengingatkan para siswa akan bahaya ajakan dan provokasi kelompok-kelompok radikal yang melegalkan kekerasan demi kepentingan mereka sendiri.

“Berlomba-lomba kelompok-kelompok itu ingin mengubah negara yang kita cintai ini dengan negara agama, benderanya bukan merah putih lagi, orang yang menghormat ke bendera merah putih mereka sebut kafir. Adik-adik harus punya sikap tegas dan cerdas melihat kelompok-kelompok seperti ini, sebab dalam perekrutannya mereka ini mengandalkan hubungan friendship (pertemanan) dan kinship(kekerabatan),” terang dia.

Salah satu siswi SMAN 4 ditemui usai kegiatan berkomentar bahwa ia tergugah untuk menebarkan semangat cinta damai setelah berdialog dengan Tim Perdamaian. Ia mengaku terinspirasi dan memetik banyak pelajaran dari para korban dan mantan pelaku aksi kekerasan. “Saya juga belajar bahwa segala sesuatu itu ada yang baik dan ada yang buruk. Dalam berteman kita harus pintar memilih atau menentukan teman seperti apa yang mau kita ajak berteman. Dan juga ada yang paling penting menurut saya, kalau kita tidak sependapat dengan sesuatu jangan memberikan respon dengan kekerasan,” kata dia.

Dalam safari kegiatan di Malang, Tim Perdamaian AIDA yang hadir adalah satu korban Bom JW Marriott, Tita Apriyantini, dua korban Bom Kuningan, Iwan Setiawan dan Sudarsono Hadisiswoyo, dua korban Bom Bali, Endang Isnanik dan Eko Sahriyono, serta seorang mantan pelaku aksi terorisme, Ali Fauzi. Pada setiap penyelenggaraan acara diskusi di masing-masing sekolah hadir sekira 50 siswa sebagai peserta diskusi. Mereka adalah representasi dari organisasi siswa intra sekolah (OSIS), rohaniwan Islam (Rohis), siswa berprestasi dan siswa berkebutuhan bimbingan khusus. Kepala sekolah dan jajaran guru turut mendampingi acara diskusi interaktif yang digagas AIDA. (MLM) [SWD]

 

Tulisan ini pernah dimuat di Newsletter AIDA, edisi VI Oktober 2015.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...