HomeSuara KorbanSurat Kangen Untuk Mama

Surat Kangen Untuk Mama

Assalamualaiakum, Bidadari Cantik 

Selamat ulang tahun yang ke-35 tahun, malaikat tanpa sayapku, Mama!

Bahagia di sana ya, Ma! Yang tenang di sana, jadi ahli surga ya, Ma! Doaianaku supaya aku bisa jadi anak Mama yang bisa ngebanggain orang yang sayang sama aku!

Ma, aku kangen deh sama Mama. Mama nggak kangen apa sama aku? Udah9 tahun Mama pergi meninggalkan aku. Mama perginya cepat banget ya, Ma. Padahal aku baru 5 tahun sama Mama, dan pas banget di umur aku yang ke-5 Mama dipanggil sama Allah, buat jadi bidadari surga-Nya.

Teman aku suka nanya, Ma, “Loe nggak pernah foto sama mama loe, Sal? Coba donggue mau lihat loe foto sama mama loe, pasti mirip yaLoe koktegar banget sih, Sal?” Di saat semua pertanyaan itu keluar, aku cuma bisa diam seribu bahasa dan mencoba menjawab dalam hati, “Jangankan untuk mengenal arti kata berfoto, untuk mengabadikan suatu momen, mengenal kesedihan saat itu pun, aku belum bisa merasakannya.”

Di saat semua orang berkumpul untuk mengantarkan Mama ke tempat peristirahatan terakhir pun aku bingung mengapa keluargaku menangis tanpa henti, dan orang-orang menggendongku. Seandainya Mama masih ada sekarang, pasti aku sudah foto terus sama Mama. Kayak teman aku yang sering nge-post foto bareng mamanya. Jujur, aku cemburu melihatnya. Aku suka iri melihat teman seumuran aku jalan sama mamanya, berbagi cerita sama mamanya. Aku nggak pernah mau ngeluh atau ngiri sama mereka, tapi nggak tahu kenapa susah rasanya ngebuang cemburu dan iri ini. Suka heran, kenapa aku nggakseberuntung mereka.

Liburan kali ini aku nggak pergi ke tempat yang penuh keramaian tapi cuma tempat berkumpulnya batu nisan yang terselip nama orang yang sangat aku sayangi. Cuma di tempat ini, aku merasa nyaman bisa duduk di sebelah Mama. Bisa ceritain cerita aku ke Mama walau Mama nggak ngebalas cerita aku.

Aku kangen Mamaaaa, I love you, Maaaa….

Depok, 26 Juni 2016

Sarah Darien Salsabila

 

Sarah Darien Salsabila adalah putri pasangan Iwan Setiawan dan (almarhumah) Chalyla Seroja Daulay. Iwan dan Chalyla adalah korban ledakan bom di depan Kedutaan Besar Australia, Kuningan, Jakarta pada 9 September 2004. Saat tragedi Bom Kuningan terjadi, Salsa berusia dua tahun. Kini Salsa sudah beranjak remaja dan duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah pertama. Ia menulis curahan hatinya pada hari ulang tahun ke-35 sang ibu, almarhumah Chalyla, yang jatuh pada 26 Juni 2016. Gaya dan bahasa dalam tulisan ini otentik dari Salsa.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 1)

Setiap orang butuh rumah. Baik dalam arti fisik, tempat di mana ia berasal dan menuju pulang, maupun secara substantif ruang di mana ia selalu diterima dan dicintai oleh keluarga. Choirul Ihwan, pria asal Madiun, Jawa Timur, ialah satu dari sekian orang yang merasa kehilangan rumah itu sejak...