HomeBeritaAwalnya Prasangka, Akhirnya Saudara

Awalnya Prasangka, Akhirnya Saudara

“Kemarin itu karena belum kenal, saya sempat benci sama Anda. Dalam benak saya, walaupun nggak melakukan, tapi kan Anda tahu apa yang dilakukan teman-teman Anda dan dampaknya seperti apa,” kata Mahanani kepada Iswanto dalam kegiatan Pelatihan Tim Perdamaian Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Bukittinggi, Sumatera Barat, pertengahan April lalu.
Mahanani Prihrahayu ialah janda mendiang korban teror bom di Hotel JW Marriott Jakarta tahun 2003, alm. Slamet Heriyanto. Sementara Iswanto ialah mantan anggota jaringan terorisme yang telah keluar dari kelompoknya. Keduanya dipertemukan dalam Pelatihan Tim Perdamaian. Kegiatan tersebut menghadirkan lima korban dan seorang mantan pelaku terorisme. Selain Mahanani, hadir pula Gatut Indro Suranto, Ni Wayan Rastini (korban Bom Bali 2002), Albert Christiono (korban Bom Kuningan 2004), Tita Apriyantini (korban Bom JW Marriott 2003) dan Iswanto (mantan pelaku).
Suara Yayu, demikian sapaan akrab Mahanani, terdengar serak dan parau saat mengucapkan kata-kata itu. Matanya terlihat sembab. Sebelumnya, ia menuturkan kisah pilu yang menimpa suaminya. Beberapa tahun usai tragedi, Yayu masih belum bisa mengikhlaskan kepergian sang suami, apalagi memaafkan pelaku. Namun seiring waktu ia menyadari bahwa kematian suaminya adalah takdir Tuhan.
Setelah mengenal Iswanto, Yayu mengungkapkan unek-uneknya. “Sekarang saya sudah tahu latar belakang Anda, saya minta maaf telah berprasangka buruk. Saya utarakan seperti ini biar plong, karena sekarang kita sudah seperti saudara,” ucapnya.
Sebelumnya, Iswanto membeberkan masa lalunya saat bergelut dengan dunia konflik dan kekerasan. Ia mengaku bergabung dengan jaringan terorisme atas ajakan gurunya di pesantren.
Pada 2006, saat masih aktif di kelompok teror, Is disadarkan oleh gurunya, Ali Imron (terpidana seumur hidup kasus Bom Bali 2002). “Saya dinasehati agar tidak lagi terlibat dengan segala aksi kekerasan. Saya lantas mengevaluasi diri, belajar kembali tentang fiqih jihad, dan akhirnya memutuskan untuk keluar dari jaringan itu,” ujarnya.
Ia mengaku sedih setiap kali bertemu dan mendengarkan kisah korban. Dalam kegiatan tersebut, Is tampak berulangkali mengusap air matanya saat mendengar penuturan para korban. Kendati demikian, ia merasa bahagia berkenalan dengan para korban. Selain menambah saudara juga mendapatkan banyak kisah inspiratif. “Pertama kali menyimak kisah korban, malamnya saya susah tidur dan terus merenung. Sekarang bekal saya bertambah kuat untuk mengingatkan teman-teman saya yang masih bergelut di dunia kekerasan,” kata Is.
Sementara itu Gatut Indro Suranto, korban Bom Bali 2002, mengaku senang dengan kegiatan Pelatihan Tim Perdamaian lantaran dapat berkomunikasi langsung dengan mantan pelaku, hal yang tak terbayangkan sebelumnya. Gatut mendapatkan banyak informasi dari Iswanto ihwal penyebab keterlibatan seseorang dengan gerakan ekstremisme-terorisme. Akibat aksi para teroris, Gatut mengalami luka bakar hampir sekujur tubuh. Ia harus menjalani delapan kali operasi besar. Hingga kini, masih ada serpihan kaca yang tertinggal di kepala.
Kendati demikian, saat bertemu Iswanto, ia sepenuhnya dapat melepaskan perasaan dendam dan sakit hati. Bahkan di sela-sela kegiatan, Gatut dan Iswanto berangkat dan pulang bersama untuk menunaikan salat Jumat. “Sepulang dari masjid, di tengah jalan kami bertemu para siswa yang sebelumnya mengikuti kampanye perdamaian. Tampaknya mereka kaget karena kami bisa begitu akrab. Mereka bersalaman dengan kami dan berfoto bareng,” ucapnya.
Sementara peserta lain, Albert Christiono Simatupang, korban Bom Kuningan 2004, bersyukur dapat bertemu langsung dengan mantan pelaku sehingga bisa bicara dari hati ke hati. Ia cukup takjub melihat Iswanto yang mampu menyadari sendiri kesalahannya di masa lalu dan meninggalkan kelompoknya.
Sejak mengalami teror bom di depan Kedutaan Besar Australia di kawasan Kuningan, Jakarta pada 2004, Albert tidak pernah menaruh rasa marah dan benci terhadap pelaku. Ia menganggap apa yang dialaminya adalah bagian dari rencana Tuhan. Saat bom meledak, Albert sedang berada dalam bus kota. “Saya sempat berandai-andai, jika saat itu pas duduk kepala saya merunduk, mungkin logam itu tak akan mengenai kepala saya. Tapi karena sudah rencana Tuhan, saya terkena serpihan bom, tapi saya terpilih jadi korban selamat,” ucapnya.
Kegiatan Pelatihan Tim Perdamaian dimaksudkan untuk membangun sinergi antara mantan pelaku dengan korban. Kedua pihak diharapkan bisa terbuka membagikan kisah masa lalunya, menguatkan satu sama lain, dan mampu saling memaafkan, sehingga terbentuk jalinan yang kokoh untuk mengampanyekan perdamaian kepada khalayak luas. [MSY]
*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi IX Juli 2016

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...