Home Berita Awalnya Prasangka, Akhirnya Saudara
Berita - 23/03/2017

Awalnya Prasangka, Akhirnya Saudara

“Kemarin itu karena belum kenal, saya sempat benci sama Anda. Dalam benak saya, walaupun nggak melakukan, tapi kan Anda tahu apa yang dilakukan teman-teman Anda dan dampaknya seperti apa,” kata Mahanani kepada Iswanto dalam kegiatan Pelatihan Tim Perdamaian Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Bukittinggi, Sumatera Barat, pertengahan April lalu.
Mahanani Prihrahayu ialah janda mendiang korban teror bom di Hotel JW Marriott Jakarta tahun 2003, alm. Slamet Heriyanto. Sementara Iswanto ialah mantan anggota jaringan terorisme yang telah keluar dari kelompoknya. Keduanya dipertemukan dalam Pelatihan Tim Perdamaian. Kegiatan tersebut menghadirkan lima korban dan seorang mantan pelaku terorisme. Selain Mahanani, hadir pula Gatut Indro Suranto, Ni Wayan Rastini (korban Bom Bali 2002), Albert Christiono (korban Bom Kuningan 2004), Tita Apriyantini (korban Bom JW Marriott 2003) dan Iswanto (mantan pelaku).
Suara Yayu, demikian sapaan akrab Mahanani, terdengar serak dan parau saat mengucapkan kata-kata itu. Matanya terlihat sembab. Sebelumnya, ia menuturkan kisah pilu yang menimpa suaminya. Beberapa tahun usai tragedi, Yayu masih belum bisa mengikhlaskan kepergian sang suami, apalagi memaafkan pelaku. Namun seiring waktu ia menyadari bahwa kematian suaminya adalah takdir Tuhan.
Setelah mengenal Iswanto, Yayu mengungkapkan unek-uneknya. “Sekarang saya sudah tahu latar belakang Anda, saya minta maaf telah berprasangka buruk. Saya utarakan seperti ini biar plong, karena sekarang kita sudah seperti saudara,” ucapnya.
Sebelumnya, Iswanto membeberkan masa lalunya saat bergelut dengan dunia konflik dan kekerasan. Ia mengaku bergabung dengan jaringan terorisme atas ajakan gurunya di pesantren.
Pada 2006, saat masih aktif di kelompok teror, Is disadarkan oleh gurunya, Ali Imron (terpidana seumur hidup kasus Bom Bali 2002). “Saya dinasehati agar tidak lagi terlibat dengan segala aksi kekerasan. Saya lantas mengevaluasi diri, belajar kembali tentang fiqih jihad, dan akhirnya memutuskan untuk keluar dari jaringan itu,” ujarnya.
Ia mengaku sedih setiap kali bertemu dan mendengarkan kisah korban. Dalam kegiatan tersebut, Is tampak berulangkali mengusap air matanya saat mendengar penuturan para korban. Kendati demikian, ia merasa bahagia berkenalan dengan para korban. Selain menambah saudara juga mendapatkan banyak kisah inspiratif. “Pertama kali menyimak kisah korban, malamnya saya susah tidur dan terus merenung. Sekarang bekal saya bertambah kuat untuk mengingatkan teman-teman saya yang masih bergelut di dunia kekerasan,” kata Is.
Sementara itu Gatut Indro Suranto, korban Bom Bali 2002, mengaku senang dengan kegiatan Pelatihan Tim Perdamaian lantaran dapat berkomunikasi langsung dengan mantan pelaku, hal yang tak terbayangkan sebelumnya. Gatut mendapatkan banyak informasi dari Iswanto ihwal penyebab keterlibatan seseorang dengan gerakan ekstremisme-terorisme. Akibat aksi para teroris, Gatut mengalami luka bakar hampir sekujur tubuh. Ia harus menjalani delapan kali operasi besar. Hingga kini, masih ada serpihan kaca yang tertinggal di kepala.
Kendati demikian, saat bertemu Iswanto, ia sepenuhnya dapat melepaskan perasaan dendam dan sakit hati. Bahkan di sela-sela kegiatan, Gatut dan Iswanto berangkat dan pulang bersama untuk menunaikan salat Jumat. “Sepulang dari masjid, di tengah jalan kami bertemu para siswa yang sebelumnya mengikuti kampanye perdamaian. Tampaknya mereka kaget karena kami bisa begitu akrab. Mereka bersalaman dengan kami dan berfoto bareng,” ucapnya.
Sementara peserta lain, Albert Christiono Simatupang, korban Bom Kuningan 2004, bersyukur dapat bertemu langsung dengan mantan pelaku sehingga bisa bicara dari hati ke hati. Ia cukup takjub melihat Iswanto yang mampu menyadari sendiri kesalahannya di masa lalu dan meninggalkan kelompoknya.
Sejak mengalami teror bom di depan Kedutaan Besar Australia di kawasan Kuningan, Jakarta pada 2004, Albert tidak pernah menaruh rasa marah dan benci terhadap pelaku. Ia menganggap apa yang dialaminya adalah bagian dari rencana Tuhan. Saat bom meledak, Albert sedang berada dalam bus kota. “Saya sempat berandai-andai, jika saat itu pas duduk kepala saya merunduk, mungkin logam itu tak akan mengenai kepala saya. Tapi karena sudah rencana Tuhan, saya terkena serpihan bom, tapi saya terpilih jadi korban selamat,” ucapnya.
Kegiatan Pelatihan Tim Perdamaian dimaksudkan untuk membangun sinergi antara mantan pelaku dengan korban. Kedua pihak diharapkan bisa terbuka membagikan kisah masa lalunya, menguatkan satu sama lain, dan mampu saling memaafkan, sehingga terbentuk jalinan yang kokoh untuk mengampanyekan perdamaian kepada khalayak luas. [MSY]
*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi IX Juli 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *