HomeBeritaMembumikan Budaya Damai di...

Membumikan Budaya Damai di Sekolah

Malam itu sejumlah guru sekolah menengah atas (SMA) di Klaten, Jawa Tengah, berdecak kagum melihat kebersamaan Tim Perdamaian yang terdiri dari korban terorisme dan mantan pelaku aksi kekerasan, yang mengampanyekan pentingnya perdamaian. Mereka takjub lantaran korban dan mantan pelaku bisa saling memaafkan dan bergandengan tangan mengajak masyarakat untuk menjaga dan mewujudkan perdamaian termasuk di lingkungan pendidikan.

Para guru menyaksikan pemandangan langka itu ketika mengikuti Training of Trainer (ToT) “Belajar Bersama Menjadi Guru Damai” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Hotel Grand Quality Yogyakarta pada pertengahan Mei lalu. Sebanyak dua puluh guru dari lima sekolah, yaitu SMAN 1 Klaten, SMAN 1 Karanganom, SMAN 1 Ceper, SMAN 1 Wonosari, dan SMKN 2 Klaten, menjadi peserta pelatihan ini.

Salah satu guru SMAN 1 Karanganom merasa bangga mendapatkan pengalaman untuk belajar dari Tim Perdamaian. “Korban dan mantan pelaku bisa melakukan rekonsiliasi dan menyampaikan pesan-pesan perdamaian. Jika ada beberapa orang yang seperti mereka maka alangkah indahnya negeri ini,” ujarnya.

Sementara guru SMKN 2 Klaten menilai kelapangan hati korban yang memaafkan mantan pelaku sesuai dengan ajaran agama bahwa memaafkan itu jauh lebih utama daripada meminta maaf. Menurut dia, sikap korban tersebut patut diteladani.

Di hadapan para guru, korban aksi teror bom di kawasan Kuningan, Jakarta, 9 September 2004, Iswanto Kasman, berbagi kisah tentang dampak ledakan bom yang dideritanya. Saat kejadian, pria asal Wonogiri, Jawa Tengah, itu sedang bertugas mengatur lalu lintas di depan kantornya, Kedutaan Besar Australia. Pagi itu, ia melihat sebuah mobil boks yang berjalan sangat pelan di depan kantornya. Lalu ia bergegas menghampiri mobil tersebut karena curiga mengapa kecepatannya di bawah batas.

“Baru empat langkah menuju ke sana tiba-tiba mobil itu meledak dan saya terlempar sejauh empat meter. Seketika saya mengalami sakit yang luar biasa, badan terasa panas dan mata sakit sekali,” tuturnya. Akibat peristiwa itu gendang telinga kirinya rusak sehingga terasa sakit ketika naik pesawat dan mendengar suara kencang. Tak hanya itu, ia juga kehilangan penglihatan sebelah kanannya akibat ledakan bom itu.

Dalam kesempatan itu, Iswanto juga berbagi kisah tentang semangatnya bangkit dari keterpurukan peristiwa itu. Menurut dia, dukungan keluarga dan rekan-rekan kerjanya, termasuk juga yang menjadi korban bom sangat berpengaruh terhadap proses kebangkitan dirinya. “Teman-teman menasihati bahwa saya harus kuat dan bangkit. Ketika dipertemukan dengan pelaku dalam persidangan satu tahun setelah kejadian, pelaku menjabat tangan saya dan meminta maaf. Saya termenung beberapa saat lalu hati berucap saya tidak punya dendam pada pelaku,” ujarnya.

Sementara itu, mantan pelaku aksi kekerasan, Ali Fauzi, menceritakan jejak langkahnya bergabung dengan jaringan teroris hingga akhirnya memutuskan keluar dari kelompoknya. Ia telah meminta maaf dan berekonsiliasi dengan para korban. Terbebas dari jalan kekerasan, kini Ali memilih menjadi duta perdamaian bersama korban terorisme di Indonesia. Dia berketetapan hati untuk aktif mengampanyekan perdamaian demi terciptanya kemaslahatan bersama. “Sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat buat sesama,” ujarnya.

Ali juga memaparkan bagaimana mengidentifikasi kelompok ekstrem agar para guru dapat melindungi anak didiknya dari ancaman tersebut. Menurut dia mengenali kelompok ekstrem tidak bisa dilihat dari penampilan fisiknya saja seperti memelihara jenggot atau bercelana cingkrang. Identifikasi yang benar, kata dia, dilihat dari pemikiran dan ajarannya, seperti membatasi makna jihad dengan perang dan membenarkan aksi irhabiyah atau teror.

Kegiatan AIDA mengajak para guru menumbuhkan semangat cinta damai di sekolah mendapat dukungan dari Direktorat Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Dalam kegiatan tersebut, di samping pembelajaran dari Tim Perdamaian para peserta juga mendapatkan pengayaan materi tentang peran guru dalam perdamaian dari pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan Sukoharjo, KH. Muhammad Dian Nafi’.

“Kalau guru ingin membumikan perdamaian di sekolah, ada syarat yang harus dipenuhi. Di antaranya adalah adil dan tidak memihak, mudah menjangkau dan dijangkau, cakap ilmu mediasi konflik, cakap berkomunikasi humanis, dan berakhlak mulia,” ujarnya.

Peserta juga mendapatkan wawasan baru terkait tantangan radikalisme siswa dari materi Peta dan Tipologi Kelompok Prokekerasan di Indonesia dari peneliti Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Solahudin. “Generasi muda, termasuk pelajar, sangat rentan dijadikan target oleh kelompok-kelompok ekstrem. Apabila kita lengah membina dan mengawasi anak-anak kita, besar kemungkinan mereka terjerumus ke jaringan prokekerasan,” kata dia.

Para peserta menilai pelatihan ini sangat positif bagi tenaga pendidik untuk menghadapi tantangan radikalisme dan ajaran prokekerasan, serta membumikan budaya damai di sekolah. Setelah mengikuti kegiatan mereka tergerak untuk menjadi duta perdamaian di sekolahnya masing-masing. Mereka berkomitmen akan mempraktikkan ilmu yang didapatkan dari pelatihan dalam kegiatan pembelajaran dan pembinaan kesiswaan. (AS) [SWD]

 

 

 

 

*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA Edisi IX Juli 2016.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...

Mungil-mungil Tangguh

Oleh Susi Afitriyani Mungil-mungil tangguh,Kau begitu kuat saat cobaan harus menghantam hidupmu,Kau yang masih begitu mungil, tapi kau mengajariku cara untuk tetap semangat dan tersenyum,Meski tubuhmu terlihat lemah akan tetapi jiwamu begitu tangguh,Haii,,, kau si mungil tangguh yang kelak akan menjadi penggantiku,Aku percaya jiwamu lebih kuat dari diriku,Dan...

Puasa dan Kedermawanan Otentik

Oleh Asyari, Guru Besar Ekonomi, Ketua Pusat Kajian Pengembangan Ekonomi Umat, FEBI UIN BukittinggiArtikel ini sudah terbit di Kompas.id, 17 Februari 2026Kasus bunuh diri YBS (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada 29 Januari 2026 dan sebelumnya, AA (44), seorang...

Arsitektur Pendidikan Tinggi Indonesia

Oleh Badri Munir Sukoco, Guru Besar Manajemen Strategi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis; Founder, Center for Dynamic Capabilities Universitas AirlanggaArtikel ini terbit di Kompas.id, 13 Februari 2026Atensi Presiden Prabowo Subianto pada pembangunan sumber daya manusia Indonesia sangatlah besar, terutama pendidikan tinggi. Belum setahun, Presiden telah melakukan tiga kali...

Tetap Tangguh di Era Bencana

Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia dilanda musibah. Banjir, cuaca ekstrem (hujan disertai badai), tanah longsor, kebakaran hutan, abrasi laut, gempa bumi dan pergeseran tanah menimpa masyarakat di sejumlah daerah.Bencana datang silih berganti menghantam beberapa wilayah, menelan korban jiwa, menghancurkan rumah dan infrastruktur yang menimbulkan kerugian materil yang...

Belajar Berkesadaran

Oleh Doni Koesoema A, Pemerhati Pendidikan, Mahasiswa Doktoral Universitas Negeri JakartaArtikel ini terbit di Kompas.id, 06 Februari 2026 Belajar berkesadaran adalah kunci keberhasilan pendidikan berkualitas. Bila belajar diibaratkan sebuah perjalanan, ini adalah langkah pertamanya. Sayangnya, langkah pertama ini sering kali terlewatkan.Transformasi belajar yang lebih fundamental inilah yang dilakukan...