HomeSuara KorbanCinta Keluarga Membantuku Bangkit

Cinta Keluarga Membantuku Bangkit

Sudarsono Hadisiswoyo menginginkan kehidupannya terstruktur dengan baik. Masa mudanya dia gunakan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang positif. Dia adalah aktivis pergerakan mahasiswa semasa kuliah. Tak hanya aktif berorganisasi, ia juga menekuni kegiatan ekstrakurikuler di kampusnya. Salah satu prestasi yang cukup membanggakan baginya adalah menjuarai kejuaraan koreografi dance antar perguruan tinggi se-Jabodetabek tiga kali berturut-turut.

Segala rencana hidup masa depan telah dia atur sedemikian rupa agar mapan. Setelah berkeluarga dia bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang minyak dan gas. Bersama keluarga kecilnya dia menjalani kehidupan untuk berusaha meraih yang diimpikan setiap orang, kebahagiaan.
Tanggal 9 September 2004, Sudarsono menjalani aktivitas kesehariannya seperti biasa. Tidak ada firasat apa pun. Pagi itu dia meminta izin ke kantornya untuk masuk kerja agak siang sebab ingin menjemput anaknya dari sekolah. Sekitar pukul 10 pagi dia sedang melintas tepat di seberang gedung Kedutaan Besar Australia di Jl. HR. Rasuna Said Kuningan, Jakarta. Saat itulah sebuah mobil boks bermuatan bom meledak hebat hingga mengenai mobil yang ditumpangi Sudarsono.
Dia merasakan seketika mobil yang ditumpanginya seakan mengerut disebabkan gelombang panas yang dihasilkan dari ledakan bom. Hawa panas membakar tubuhnya yang terjebak di dalam mobil. Efek ledakan bom juga mengguncangkan tubuhnya dengan kekuatan dahsyat. Sudarsono merasa kejadian yang dialaminya dua belas tahun lalu adalah kiamat. Sesaat kemudian dia jatuh pingsan tidak sadarkan diri.
Menurut sejumlah orang yang menyaksikan peristiwa itu, dirinya sempat keluar dari mobil tapi kemudian ambruk, lemah tak berdaya. Dia lalu dilarikan ke rumah sakit. Dikabarkan bahwa kondisinya tidak dapat ditolong, bahkan sempat ditempatkan di kamar mayat. Tak disangka sesaat berikutnya tubuh Sudarsono menunjukkan tanda-tanda bahwa dirinya masih hidup.
“Tapi Alhamdulillah, Allah berkehendak lain. Beberapa menit kemudian saya mampu bernafas dan dibantu dirawat dokter Australia yang ada di Jakarta, dan tertolong,” ujar Sudarsono saat berbagi kisah dalam kegiatan kampanye perdamaian yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di SMAN 1 Malang, Jawa Timur, pada Juli 2015.
Sudarsono hampir berputus asa setelah dokter mendiagnosa kondisinya ke depan diperkirakan akan lumpuh, matanya akan buta, dan telinganya akan tuli. Mendengar hal itu Sudarsono sangat terpukul karena mimpi-mimpi hidupnya terancam bakal pupus. Keterpurukannya semakin menjadi setelah datang kabar bahwa perusahaannya melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepadanya. Saat itu dia benar-benar dihadapkan pada cobaan bertubi-tubi ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga.
Waktu perawatan yang dibutuhkan untuk memulihkan kesehatan Sudarsono cukup lama. Mendengar perkiraan dokter bahwa tubuhnya akan lumpuh, dia meminta pulang sebab merasa perawatan di rumah sakit tidak akan menyelamatkannya. Saat hendak meninggalkan rumah sakit itulah dia merasa mendapatkan keajaiban dari Tuhan. Dia merasa tiba-tiba kakinya mampu berjalan saat berusaha menyelamatkan anaknya yang hampir jatuh. Dengan rasa cinta yang besar pada anaknya, secara refleks dia bergerak mendekat menyelamatkan anaknya agar tidak terjatuh. Setelah kejadian itu, Sudarsono memiliki keyakinan bahwa dirinya bisa pulih dengan semangat kuat dan cinta yang besar pada keluarganya. Dia mengabaikan prediksi dokter tentang kesehatannya dan selalu bersemangat untuk sembuh.
Setelah bisa berjalan, Sudarsono mencoba melamar kerja dengan jujur tentang kondisi kesehatannya sebagai korban bom namun tidak ada satu pun yang menerimanya. Tak patah semangat, dia mencoba melamar kembali ke perusahaan lain, kali ini dengan merahasiakan riwayat medisnya, dan ternyata diterima.
Pada tahun 2008, faktor kelelahan dan kondisi kesehatan yang belum sepenuhnya pulih membuatnya drop hingga mesti dirawat di rumah sakit. Di luar dugaan sakit yang dideritanya cukup mengkhawatirkan. Dia mengalami kelainan yang dalam istilah medis dikenal sebagai blank spot atau kehilangan sebagian memori dalam hidupnya. Saat mengalami kelainan itu dia tidak mengenal siapa pun, termasuk anak, istri, dan orang tuanya.
Dia dibantu keluarganya dengan sabar dan perlahan untuk mengingat kembali kehidupan masa lalunya dengan menunjukkan foto-foto. Sedikit demi sedikit ingatannya mulai pulih. Memori tentang orang-orang terkasih di sekelilingnya mulai kembali. “Proses mengenal keluarga kembali adalah hal yang sangat menyakitkan. Alhamdulillah saya bisa bangkit kembali dan mencoba bekerja kembali, karena saat opname saya di-phk lagi,” ujarnya.
Dengan semangat cinta keluarga Sudarsono mencoba bangkit dari berbagai tantangan kehidupan. Saat ini dia bekerja sebagai konsultan profesional.
Sebagai seorang penyintas aksi teror, dia menginginkan masyarakat hidup dengan damai tanpa kekerasan “Saya tidak ingin ada Sudarsono-Sudarsono lain seperti saya (red. korban bom) lagi. Saya mengajak pada dinda-dinda untuk hidup damai dan mengerti bahwa damai itu indah,” ucapnya mengakhiri kisahnya. (AM) [SWD]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Membalas Kekerasan dengan Kasih

Aliansi Indonesia Damai- Meski kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga, namun Ni Luh Erniati, penyintas bom Bali 2002, tidak ingin membalas dendam kepada pelaku/mantan pelaku terorisme. Ia pun tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam...

Dukungan Sesama Korban Membantu Kebangkitan

Aliansi Indonesia Damai- Tasdik Saputra, penyintas Bom Kampung Melayu 2017, mengaku dukungan dari sesama korban terorisme sangat besar pengaruhnya bagi proses kebangkitan dirinya. Menurut dia dukungan sesama korban telah menguatkan dirinya untuk tidak terus larut dalam trauma, mampu bangkit dari keterpurukan, bahkan bisa memaafkan mantan pelaku terorisme. “Awalnya...

Pendidikan Kekalahan

Oleh Ridho Pratama Satria, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Juni 2026 Dalam perkembangan dunia pendidikan sekarang, pelajar yang berprestasi bukan hanya pelajar yang tinggi nilai akademiknya. Pelajar yang punya catatan juara juga layak disebut pelajar berprestasi. Catatan juara ini...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...