HomeBerita"Jangan Jadi Pribadi Pendendam"

“Jangan Jadi Pribadi Pendendam”

Ada yang beda dari pelaksanaan kampanye perdamaian di lima sekolah Lamongan, Jawa Timur. Di daerah yang dikenal sebagai kota soto ini, kampanye perdamaian dilaksanakan di semua jenis sekolah menengah atas, yakni SMA, SMK dan Madrasah. Hal ini berbeda dari pelaksanaan kampanye perdamaian sebelumnya di Klaten, Jawa Tengah dan Tangerang Selatan, Banten, beberapa waktu lalu hanya di SMA dan SMK.
Kampanye perdamaian dalam bentuk dialog interaktif bertema “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” ini digelar di SMAN 1, Senin (4/5/2015), SMAN 2, Selasa (5/5/2015), MAN, Rabu (6/5/2015), MA Muhammadiyah 02 Paciran, Kamis (7/5/2015), dan SMK Wahid Hasyim Glagah Lamongan, Jumat (8/5/2015).
Kegiatan ini diikuti aktivis Kerohaniaan Islam (Rohis), Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), siswa berprestasi, dan siswa berkebutuhan bimbingan khusus yang berjumlah 45 hingga 50 orang dari masing-masing sekolah. Selama mengikuti acara mereka terlihat antusias dan aktif berpartisipasi dalam permainan menarik, pembuatan yel-yel dan diskusi kelompok mengenai ruang yang disukai dan tidak disukai yang dipandu oleh fasilitator Farha Ciciek Assegaf.
Melalui kegiatan ini AIDA ingin menanamkan pemahaman kepada generasi muda tentang pentingnya perdamaian, sekaligus mengajak mereka untuk menjadi generasi yang tangguh dan mewujudkan Indonesia yang damai. Visi perdamaian tersebut disampaikan oleh Tim Perdamaian yang terdiri dari unsur korban dan mantan pelaku terorisme. Mereka adalah Sudirman A Thalib (korban Bom Kuningan Jakarta), Ni Luh Erniati (korban Bom Bali I), Max Boon (korban Bom Hotel JW Marriott II Jakarta), dan Ali Fauzi (mantan pelaku terorisme yang sudah bertaubat).
Sudirman A Thalib mengawali kisahnya dengan menceritakan kehidupan masa kecil dan remajanya di kampung halaman Bima, Nusa Tenggara Timur, yang sederhana bahkan terbatas secara ekonomi. Kesederhanaan mendorongnya untuk bekerja keras hingga merantau ke ibu kota dengan menjadi petugas keamanan di Kedutaan Besar Australia Jakarta. Hasil jerih payahnya tersebut diperuntukkan membantu keluarga dan pendidikan adik-adiknya.
Pada 9 September 2004, ketika sedang bekerja di Kedutaan Besar Australia di Jakarta, ia mengalami musibah terkena ledakan bom terorisme yang mengakibatkan mata kanan dan beberapa bagian tubuhnya cacat. Kondisi demikian tak menyurutkan semangatnya untuk terus menjalani kehidupan dan tetap bekerja bahkan saat ini sedang melanjutkan pendidikan di salah satu universitas swasta di Jakarta.
“Apabila kita jatuh maka segeralah bangkit. Jangan menjadi pribadi yang pendendam tapi jadilah seorang pemaaf. Saya memaafkan pelaku terorisme karena agama yang saya imani menganjurkan kita untuk menjadi pemaaf,” ujar Sudirman di hadapan siswa-siswi MA Muhammadiyah 02 Paciran, Lamongan, Kamis (7/5/2014).
Sementara mantan pelaku terorisme Ali Fauzi berbagi cerita tentang keterlibatannya dalam kelompok terorisme dari awal hingga akhirnya memutuskan untuk keluar dari jaringan tersebut. Kini, ia telah bertaubat dan kembali ke jalan yang benar dan berkomitmen kuat untuk aktif melakukan kampanye perdamaian.
Ali mengatakan ada banyak faktor yang membuat dirinya meninggalkan radikalisme di antaranya dorongan keluarga, tingkat pendidikan, perlakuan baik pemerintah, dan lembaga swadaya masyarakat dan Islam moderat. “Saya juga bertaubat dari aksi kekerasan setelah memikirkan dampak yang ditimbulkan, khususnya kepada para korban,” ucap Ali di SMAN 1 Lamongan, Senin (4/5/2015).
Tidak sedikit siswa yang mengikuti kegiatan ini mengaku setelah mendengarkan kisah Tim Perdamaian, mereka bisa belajar tentang ketangguhan hidup dan makna pertaubatan serta pentingnya menjauhi tindakan kekerasan dalam menyelesaikan persoalan apapun.
“Sebelum ikut kegiatan ini saya berpikiran bahwa biarkan saja ada kelompok yang melakukan kekerasan asalkan tujuannya benar. Tetapi setelah mengikuti kegiatan ini semua mindset saya berubah. Jika ingin melakukan tindakan kekerasan harus memikirkan proses dan dampaknya serta caranya juga benar. Tindakan membalas dengan kekerasan tidaklah benar. Saya juga belajar bagaimana bangkit dari keterpurukan,” ujar salah satu siswa SMAN 2 Lamongan, Selasa (5/5/2015). [AS](SWD)
*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi V Juli 2015.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Mei 2026 Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta sarjana. Namun, banyak di antaranya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai. Wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...