Home Berita “Jangan Jadi Pribadi Pendendam”
Berita - 03/04/2017

“Jangan Jadi Pribadi Pendendam”

Ada yang beda dari pelaksanaan kampanye perdamaian di lima sekolah Lamongan, Jawa Timur. Di daerah yang dikenal sebagai kota soto ini, kampanye perdamaian dilaksanakan di semua jenis sekolah menengah atas, yakni SMA, SMK dan Madrasah. Hal ini berbeda dari pelaksanaan kampanye perdamaian sebelumnya di Klaten, Jawa Tengah dan Tangerang Selatan, Banten, beberapa waktu lalu hanya di SMA dan SMK.
Kampanye perdamaian dalam bentuk dialog interaktif bertema “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” ini digelar di SMAN 1, Senin (4/5/2015), SMAN 2, Selasa (5/5/2015), MAN, Rabu (6/5/2015), MA Muhammadiyah 02 Paciran, Kamis (7/5/2015), dan SMK Wahid Hasyim Glagah Lamongan, Jumat (8/5/2015).
Kegiatan ini diikuti aktivis Kerohaniaan Islam (Rohis), Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), siswa berprestasi, dan siswa berkebutuhan bimbingan khusus yang berjumlah 45 hingga 50 orang dari masing-masing sekolah. Selama mengikuti acara mereka terlihat antusias dan aktif berpartisipasi dalam permainan menarik, pembuatan yel-yel dan diskusi kelompok mengenai ruang yang disukai dan tidak disukai yang dipandu oleh fasilitator Farha Ciciek Assegaf.
Melalui kegiatan ini AIDA ingin menanamkan pemahaman kepada generasi muda tentang pentingnya perdamaian, sekaligus mengajak mereka untuk menjadi generasi yang tangguh dan mewujudkan Indonesia yang damai. Visi perdamaian tersebut disampaikan oleh Tim Perdamaian yang terdiri dari unsur korban dan mantan pelaku terorisme. Mereka adalah Sudirman A Thalib (korban Bom Kuningan Jakarta), Ni Luh Erniati (korban Bom Bali I), Max Boon (korban Bom Hotel JW Marriott II Jakarta), dan Ali Fauzi (mantan pelaku terorisme yang sudah bertaubat).
Sudirman A Thalib mengawali kisahnya dengan menceritakan kehidupan masa kecil dan remajanya di kampung halaman Bima, Nusa Tenggara Timur, yang sederhana bahkan terbatas secara ekonomi. Kesederhanaan mendorongnya untuk bekerja keras hingga merantau ke ibu kota dengan menjadi petugas keamanan di Kedutaan Besar Australia Jakarta. Hasil jerih payahnya tersebut diperuntukkan membantu keluarga dan pendidikan adik-adiknya.
Pada 9 September 2004, ketika sedang bekerja di Kedutaan Besar Australia di Jakarta, ia mengalami musibah terkena ledakan bom terorisme yang mengakibatkan mata kanan dan beberapa bagian tubuhnya cacat. Kondisi demikian tak menyurutkan semangatnya untuk terus menjalani kehidupan dan tetap bekerja bahkan saat ini sedang melanjutkan pendidikan di salah satu universitas swasta di Jakarta.
“Apabila kita jatuh maka segeralah bangkit. Jangan menjadi pribadi yang pendendam tapi jadilah seorang pemaaf. Saya memaafkan pelaku terorisme karena agama yang saya imani menganjurkan kita untuk menjadi pemaaf,” ujar Sudirman di hadapan siswa-siswi MA Muhammadiyah 02 Paciran, Lamongan, Kamis (7/5/2014).
Sementara mantan pelaku terorisme Ali Fauzi berbagi cerita tentang keterlibatannya dalam kelompok terorisme dari awal hingga akhirnya memutuskan untuk keluar dari jaringan tersebut. Kini, ia telah bertaubat dan kembali ke jalan yang benar dan berkomitmen kuat untuk aktif melakukan kampanye perdamaian.
Ali mengatakan ada banyak faktor yang membuat dirinya meninggalkan radikalisme di antaranya dorongan keluarga, tingkat pendidikan, perlakuan baik pemerintah, dan lembaga swadaya masyarakat dan Islam moderat. “Saya juga bertaubat dari aksi kekerasan setelah memikirkan dampak yang ditimbulkan, khususnya kepada para korban,” ucap Ali di SMAN 1 Lamongan, Senin (4/5/2015).
Tidak sedikit siswa yang mengikuti kegiatan ini mengaku setelah mendengarkan kisah Tim Perdamaian, mereka bisa belajar tentang ketangguhan hidup dan makna pertaubatan serta pentingnya menjauhi tindakan kekerasan dalam menyelesaikan persoalan apapun.
“Sebelum ikut kegiatan ini saya berpikiran bahwa biarkan saja ada kelompok yang melakukan kekerasan asalkan tujuannya benar. Tetapi setelah mengikuti kegiatan ini semua mindset saya berubah. Jika ingin melakukan tindakan kekerasan harus memikirkan proses dan dampaknya serta caranya juga benar. Tindakan membalas dengan kekerasan tidaklah benar. Saya juga belajar bagaimana bangkit dari keterpurukan,” ujar salah satu siswa SMAN 2 Lamongan, Selasa (5/5/2015). [AS](SWD)
*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi V Juli 2015.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *