HomeBeritaBelajar Ketangguhan dari Korban

Belajar Ketangguhan dari Korban

Tubuh Suyanto terpental hingga sepuluh meter akibat ledakan bom berdaya ledak tinggi yang mengguncang kawasan Legian, Kuta, Bali, 13 tahun silam. Ledakan itu mengakibatkan dirinya terluka hingga tak sadarkan diri. Saat tersadar, ia merasakan sakit di seluruh tubuh hingga tak mampu bangun dari pembaringan, bahkan pendengarannya tak berfungsi normal.

Kisah itu diceritakan Suyanto, korban Bom Bali 12 Oktober 2002, dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di SMAN 1 Ceper pertengahan Mei lalu. Kegiatan ini merupakan rangkaian safari kampanye perdamaian AIDA di lima sekolah di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, yakni SMAN 1 Klaten, SMAN 1 Karanganom, SMKN 2 Klaten, SMAN 1 Ceper, dan SMAN 1 Wonosari pada 16 s.d. 20 Mei 2016. Dari kegiatan di lima sekolah tersebut, AIDA mengajak 240 pelajar menanamkan jiwa ketangguhan dan semangat perdamaian dalam diri.

Dalam kegiatan itu, Suyanto menceritakan dampak ledakan yang dideritanya. Akibat aksi teror itu ia mengalami luka di bagian kepala sehingga harus mendapatkan 16 jahitan serta gangguan pendengaran karena kedua gendang telinganya pecah. “Setelah dirawat dan agak membaik saya ingat anak-anak di rumah. Mereka masih kecil-kecil dan masih membutuhkan seorang ayah. Saya bertekad untuk sembuh dari luka akibat bom,” ujar Suyanto.

Di hadapan para siswa peserta Dialog Interaktif, pria kelahiran Surabaya ini juga bercerita tentang semangatnya bangkit dari musibah itu. Baginya, anak adalah amanat Tuhan yang harus dipelihara sebaik-baiknya. Sebagai orang tua, ia berpandangan bahwa menyediakan pendidikan yang baik bagi putra-putrinya untuk bekal hidup mereka adalah tugas paling mulia.

“Meski keadaan saya terpuruk selama bertahun-tahun tapi saya ingin anak-anak bisa sekolah. Bahkan, saya harus rela menjual barang-barang apa pun termasuk rumah hanya agar anak-anak bersekolah. Saya rela tidak punya apa-apa tapi yang penting anak-anak bisa sekolah,” ujarnya.

Kerja keras dan pengorbanan Suyanto telah menuai hasil nyata. Kini putra-putrinya telah meraih gelar sarjana, bahkan anak keduanya sedang melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana.

Salah satu siswi SMAN 1 Ceper mengaku kagum terhadap perjuangan Suyanto. “Luar biasa, korban tidak putus asa menghadapi cobaan dan rela berkorban menjual harta benda demi anaknya bisa sekolah. Sekarang kedua anaknya lulus meraih gelar sarjana semua dan sukses, serta bisa membahagiakan orang tuanya,” kata dia.

Tak hanya Suyanto yang menginspirasi para pelajar di Klaten. Iswanto Kasman, korban teror bom di Kedutaan Besar Australia Jakarta 9 September 2004, juga menceritakan kisahnya dalam Dialog Interaktif di SMAN 1 Klaten dan SMKN 2 Klaten. Akibat ledakan bom, Iswanto mengalami luka di beberapa bagian tubuh serta kehilangan indra penglihatan sebelah kanan. Butuh waktu lama bagi dia untuk membiasakan diri beraktivitas dengan penglihatan tak sempurna seperti sedia kala.

Kondisi itu tidak menyurutkan tekad dan perjuangannya sebagai kepala keluarga untuk mencari nafkah. “Saya selalu pasrah dan berdoa kepada Allah SWT semoga setiap usaha pengobatan dari sakit dan penderitaan saya berjalan lancar sehingga saya dapat kembali sehat dan bekerja menafkahi keluarga,” tuturnya di hadapan siswa-siswa SMKN 2 Klaten.

Di samping kisah korban, dalam kegiatan Dialog Interaktif juga ditampilkan pengalaman hidup mantan pelaku aksi kekerasan. Dalam safari kampanye perdamaian di Klaten, mantan anggota jaringan terorisme, Ali Fauzi, mengajak generasi muda untuk tidak mengikuti jejaknya di masa lalu yang bergabung dengan kelompok prokekerasan. Aksi kekerasan yang dilakukan kelompoknya di masa lalu telah membekaskan luka dan penderitaan. Ali tak kuasa menahan kesedihan setiap mendengarkan kisah para korban teror.

“Saya menangis ketika bertemu dan mendengarkan kisah korban, kondisi tubuhnya ada yang terbakar, kehilangan penglihatan dan sebagainya. Butuh waktu bertahun-tahun bagi korban untuk menyembuhkan luka fisik dan mentalnya. Hati saya benar-benar teriris,” ujarnya.

Ali juga mengungkapkan salah satu alasan dirinya keluar dari kelompok kekerasan adalah pertemuannya dengan para korban. Ia merasakan bahwa pertemuannya dengan korban semakin menguatkan dirinya untuk meninggalkan jalan kekerasan.

Saat ini Ali dan para korban telah berekonsiliasi. Mereka bergandengan tangan untuk menyuarakan pentingnya perdamaian agar tidak ada lagi generasi muda yang terjerumus dalam kelompok prokekerasan, dan tak ada lagi orang yang menjadi korban.

Salah satu peserta dari SMAN 1 Klaten mengaku mendapatkan pembelajaran berharga dari kisah korban dan mantan pelaku. Ia mendapatkan pembelajaran mengenai ketangguhan, dan pentingnya saling memaafkan, serta harus bangkit ketika dilanda keterpurukan. [AS] (SWD)

 

 

 

*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi IX Juli 2016.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026 Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam...

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menekankan pentingnya umat Islam menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan. Dalam Islam, kata dia, dikenal tiga jenis persaudaraan (ukhuwah) yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). “Kalau kita tidak bersaudara sama-sama...

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian Opini Publik untuk Demokrasi dan Pembangunan LPPM Universitas Hasanuddin Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 31 Agustus 2026 Dalam belasan tahun terakhir, kehidupan kolektif bangsa Indonesia memperlihatkan gejala yang patut dicermati, yakni menguatnya kecenderungan antisains...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...