HomeOpiniMemilih Jalan Terjal

Memilih Jalan Terjal

Dalam bahasa Inggris ada idiom yang sering diucapkan orang: “learning the hard way”. Ekspresi ini merujuk pada pilihan pembelajaran melalui jalan terjal, atau cara yang sulit dan tak menyenangkan. Mungkin ekspresi ini cocok untuk menggambarkan langkah-langkah perjalanan bangsa kita, terutama akhir-akhir ini.
Banyak cara mudah dan aman dalam pengelolaan bangsa yang rumusannya sudah tersedia dan disepakati, tetapi banyak dari kita yang justru memilih cara sulit, cari jalan alternatif penuh risiko.
Ibaratnya, kita seperti orang yang membandel tetap ingin bereksperimen “mengganggu” binatang buas walaupun sudah berkali-kali diperingatkan tentang potensi bahaya yang dapat mengancam. Atau seperti orang yang tetap nekat mencoba memegang bara api walaupun sudah diberi tahu bahwa bara api itu dapat melumatkan telapak tangan siapa saja yang memegangnya.
Dalam kehidupan berbangsa, kita juga sudah mengetahui bahwa bangsa ini terdiri atas ramuan yang begitu beragam, baik suku, ras, agama, maupun golongan (SARA). Kita pun sudah berkali-kali mendapat peringatan bahwa penggunaan isu-isu SARA secara negatif dalam pergaulan sehari-hari, apalagi dalam berpolitik, akan sangat berisiko bagi keutuhan bangsa.
Eksploitasi sentimen primordial akan dengan mudah memicu terjadinya konflik horizontal. Ikatan emosional yang merekatkan suku, ras, agama, dan golongan dalam masyarakat kita sering tumpang tindih, menciptakan bentuk identitas dan loyalitas berlapis (multiple identities and loyalties) yang jika masuk dalam arena konflik akan mudah menjadi bahan bakar bagi konflik-konflik terbuka yang bersifat brutal.
Tak belajar dari sejarah
Dalam kondisi masyarakat seperti ini, situasi sosial-politik menjadi sangat rentan, terutama ketika sentimen-sentimen SARA digunakan dalam memobilisasi massa yang berwujud dalam kerumunan berseri. Kondisi menjadi semakin rentan apabila kerumunan ini berubah menjadi kerumunan marah (angry crowd) akibat adanya agitasi yang dilakukan terus-menerus. Apabila beberapa kerumunan marah yang saling bertentangan terbentuk dan benturan terbuka telah terjadi, akan berkobar api konflik yang dengan mudah akan menjalar ke mana-mana membawa luapan kemarahan atas nama suku, ras, ataupun agama.
Beragam konflik horizontal yang pernah membara di Ambon, Poso, Ternate, Sampit, dan banyak daerah lain agaknya tak menjadi bahan pelajaran berharga bagi bangsa ini. Kita seperti tak ingat bahwa sendi-sendi kehidupan berbangsa pernah terkoyak dan membawa derita bagi ratusan ribu penduduk akibat terluka dan terbunuh, atau yang selamat menjadi pengungsi karena terusir dari kampung halamannya sendiri.
Banyak dari kita seperti lupa, betapa mahal harga yang harus kita bayar ketika social trust hancur. Luka dan kepedihan yang dialami ratusan ribu orang tak berdosa seperti tak berarti apa-apa; tak menjadi pelajaran berharga, tak menumbuhkan sikap kehati-hatian dalam berinteraksi di hari-hari ke depan. Akibatnya, bangsa ini seperti hidup dalam situasi rentan karena kedamaian dan keharmonisan selalu dalam posisi terancam.
Apa sebenarnya yang menjadi penyebab menyusutnya naluri kemanusiaan dan rasa kebangsaan ini? Apakah ini karena nafsu politik yang membabi-buta di sebagian elite negeri ini sehingga tega mengorbankan rakyat menjadi tameng perebutan kekuasaan? Apakah keadaan ini terjadi karena tumbuhnya semangat keagamaan yang “overdosis” pada sebagian kelompok di negeri ini? Ataukah ini terjadi karena meningkatnya kecemburuan sosial akibat semakin melebarnya ketimpangan sosial-ekonomi?
Banyak pertanyaan yang perlu dijawab untuk memahami gejolak yang terjadi.
Namun, apa pun penyebabnya, beragam ketegangan yang mencapai titik kulminasi dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 yang baru lalu harus menjadi pelajaran bersama. Setelah luapan emosi dan pertarungan kepentingan mereda, ada baiknya berbagai komponen masyarakat mengambil napas sejenak, menekan tombol “pause”, dengan kepala dingin merenungi semua kejadian yang baru lalu. Kita perlu sadari bahwa kita baru saja menempuh jalan terjal yang penuh risiko, dan apabila kita tak berhati-hati dapat mengantarkan bangsa kita ke tepi jurang penderitaan.
Tak satu pun dari kita yang menginginkan negeri kita porak poranda seperti yang terjadi di Bosnia-Herzegovina, Libya, Irak, dan Suriah. Namun, apa yang tengah kita lalui dapat mengarah ke sana.
Apa boleh buat, interaksi sosial politik yang penuh ketegangan ini telanjur terjadi. Saat ini kita hanya bisa mencoba menahan diri sambil mencoba mengambil hikmah dari semua yang telah terjadi. Ketegangan yang berpotensi konflik terbuka ini harus menjadi bahan pembelajaran untuk membangun kesadaran baru dalam merajut hubungan sosial politik dalam waktu dekat ini. Perlu ada refleksi diri. Perlu ada evaluasi serius apabila kita tak ingin terjerumus dalam kesulitan yang parah.
Kita perlu menyusun kekuatan dari modal sosial yang masih tersisa untuk membangun kembali rasa saling mencinta, saling peduli, dan saling percaya sesama warga bangsa. Kita perlu membangun kembali harapan ke depan atas dasar nilai-nilai kebersamaan yang kita miliki yang kita telah bangun bersama. Inilah sebenarnya hakikat hidup bersama suatu bangsa yang hidup dalam keragaman. Dalam Al Quran disebutkan: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal… (Qs Al-Hujurat: 13).
Upaya untuk “saling mengenal” yang dilakukan secara mendalam menjadi sangat penting karena dengan cara ini diharapkan akan tumbuh rasa empati, rasa saling hormat, dan pada akhirnya akan tumbuh satu rasa kesatuan dalam satu rasa kebangsaan dan kemanusiaan. Inilah sebenarnya gagasan Bhinneka Tunggal Ika bertumpu. Ini sebuah moto yang menjadi panduan kehidupan bersama yang di negara lain dikenal sebagai “E pluribus unum”—kesatuan dalam keragaman.
Namun, upaya saling mengenal, saling mencinta, dan saling peduli tidak dapat diletakkan hanya dalam alam pikiran. Upaya ini harus dijabarkan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Prinsip Bhinneka Tunggal Ika, atau dalam istilah lain, pluralisme atau multikulturalisme, menuntut sebuah langkah keterlibatan nyata yang bersifat energetik (energetic engagement).
Artinya, dalam keragaman kehidupan, harus terus dilakukan hubungan inter dan intra komunitas secara dinamis sehingga tumbuh interaksi produktif. Walaupun dalam ke-Bhinneka Tunggal Ika-an, setiap kelompok suku, ras, agama, dan golongan memegang identitas masing-masing, perbedaan itu tidak boleh hidup dalam situasi isolatif; setiap kelompok harus selalu dalam hubungan intensif antara satu dan yang lain.
Dengan kata lain, kehidupan berbangsa yang bertumpu pada semangat Bhinneka Tunggal Ika menuntut sikap toleransi dinamis, yaitu upaya aktif untuk memahami perbedaan di antara berbagai kelompok yang ada melalui dialog intensif secara terus-menerus. Di dalam dialog yang sehat pasti akan ada take and give. Untuk itu harus ada sikap membuka diri terhadap kritik dan kesediaan untuk melakukan evaluasi diri. Tujuan dilakukan interaksi ini adalah menumbuhkan rasa saling percaya, bukan malah sebaliknya. Karena itu, sikap saling merendahkan, saling menghujat harus dihindari.
Kebebasan dan tanggung jawab
Dalam konteks inilah sebuah proses pembelajaran kehidupan berbangsa yang bersifat majemuk dapat tumbuh sehat dan dinamis (bandingkan dengan penjelasan Diana L Eck, The Pluralism Project at Harvard University, http://pluralism.org/pluralism/what_is_pluralism).
Tentu saja, rasa ke-Bhinneka Tunggal Ika-an tidak akan tumbuh subur dengan sendirinya tanpa ada upaya serius yang dilakukan bersama.
Negara harus memberi ruang seluas-luasnya agar proses keterlibatan energetik untuk menumbuhkan spirit Bhinneka Tunggal Ika itu dapat terjadi. Bentuk-bentuk pembangunan komunitas yang bersifat partisipatif, pengembangan gotong royong yang bersifat cross-cutting antarkelompok yang berbeda, program-program yang bersifat bottom-up harus dikedepankan.
Jenis-jenis pembangunan yang berorientasi proyek dengan penggerak utama dilakukan semata-mata oleh para pemborong yang memburu keuntungan pribadi harus segera dikurangi, kalau tidak dihentikan sama sekali, karena tak akan memberikan kontribusi apa pun bagi berkembangnya spirit Bhinneka Tunggal Ika. Tak dapat disangkal, proyek-proyek pembangunan birokratis yang bertele-tele, penuh kongkalikong, korup, manipulatif, dan tamak, yang banyak merajalela di negeri ini, menjadi biang keladi hancurnya kerekatan kehidupan berbangsa.
Akhirnya, demokrasi yang kini tengah kita bangun haruslah tidak semata-mata menjadi ajang pelampiasan kebebasan atas hak semata, tetapi juga harus diimbangi dengan kewajiban dan tanggung jawab untuk menciptakan kehidupan yang adil, damai, dan sejahtera. Karena itu, kini di tengah maraknya gerakan untuk memperjuangkan hak-hak asasi manusia, perlu juga di negeri ini ditumbuhkan gerakan tanggung jawab manusia (human responsibilities) atau gerakan TAM.
Kita membutuhkan keseimbangan yang wajar antara hak, kebebasan, dan tanggung jawab karena “kebebasan tanpa menerima tanggung jawab dapat memusnahkan kebebasan itu sendiri”, dan pada saat yang sama “kebebasan tanpa batas sama bahayanya dengan tanggung jawab yang dipaksakan” (Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Edisi Revisi, Jakarta: Gramedia, 2008, hal 229-230).
Menarik untuk disimak, dalam Universal Declaration of Human Responsibilities yang dideklarasikan pada 1 September 1997 (sebagai pelengkap Universal Declaration of Human Rights PBB), diuraikan beberapa tanggung jawab yang harus diemban manusia.
Dalam deklarasi tersebut, antara lain, diuraikan tentang tanggung jawab seseorang untuk memperlakukan semua orang dengan cara manusiawi (Pasal 1); tanggung jawab orang yang berkecukupan untuk berusaha secara serius mengatasi keadaan kurang pangan, kebodohan, dan ketidaksamaan (Pasal 9); semua milik dan kekayaan harus dipakai secara bertanggung jawab sesuai dengan keadilan dan untuk memajukan semua umat manusia. Kekuasaan ekonomi dan politik tidak boleh dipakai sebagai alat dominasi, tetapi untuk mencapai keadilan ekonomi dan mengatur masyarakat; politisi, pegawai pemerintah, pemimpin bisnis, ilmuwan, atau artis tidak dapat terkecualikan dari standar etis. Begitu pula dokter, sarjana hukum, dan orang profesional yang mempunyai kewajiban khusus terhadap klien (Ibid, hal 231-232).
Akhirnya, kita pun berharap negeri kita dapat selamat dari beragam rintangan dalam mewujudkan cita-cita proklamasi. Dengan doa dan usaha keras bersama, kita berharap negeri yang kini tengah menghadapi cobaan dapat lepas dan terjauhkan dari status “negeri kutukan”.
Semoga!
*Artikel ini pernah dimuat di harian Kompas edisi 19 Mei 2017.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...