HomeSuara KorbanJangan Menyerah dari Musibah

Jangan Menyerah dari Musibah

Peristiwa kelam itu terjadi ketika Eko Sahriyono berumur 19 tahun. Malam itu, 12 Oktober 2002, saat sedang bertugas sebagai teknisi di Jalan Legian Kuta Bali, dia menjadi korban serangan teror bom bunuh diri.

Selepas lulus sekolah teknik menengah (STM) anak pertama dan satu-satunya anak lelaki dari tiga bersaudara ini terjun ke dunia kerja untuk membantu orang tua. Dia urungkan mimpi melanjutkan studi ke bangku kuliah seperti teman-teman sebayanya demi mencari nafkah. Dia sedih dan kecewa ada kelompok orang yang berniat menghancurkan dunia pariwisata Bali dengan membuat aksi teror hingga membuat orang kecil seperti dirinya kehilangan pekerjaan dan mengalami penderitaan yang luar biasa.

Pada malam kejadian Eko mendengar dua ledakan besar. Ledakan pertama terjadi di Paddy’s Club. Dia mengira ledakan pertama itu suara gardu listrik atau suatu benda elektronik yang terbakar. Tak menyaksikan sesuatu yang janggal, dia kembali ke pekerjaannya, memperbaiki sound system yang rusak. Tak berselang lama ledakan kedua terjadi. Kali ini kekuatan dan daya ledaknya berkali-kali lipat dari ledakan sebelumnya hingga meluluhlantakkan Sari Club, tempatnya bekerja.

Menurutnya, ledakan bom kedua tersebut seperti halilintar dan diikuti nyala api yang sangat besar. Eko tak sadarkan diri setelah menyaksikan ledakan yang begitu ngeri itu. Dia baru sadar ketika ada yang memanggil namanya tiga kali dengan suara yang terdengar samar-samar. Setelah sadar, ia tidak kuat bangun, tangan kirinya tidak berfungsi, mata sebelah kiri juga tidak bisa melihat dan badannya tertimpa rak besi.

“Di sana saya sudah pasrah terhadap apa yang akan terjadi, tapi kemudian saya berpikir bahwa saya ini anak laki-laki yang menjadi tulang punggung keluarga, maka di sana saya harus bangkit,” ujarnya.

Eko berusaha untuk mengangkat rak besi yang menimpanya, lalu bangun menyelamatkan diri dari kafe yang hampir ludes terbakar. Dari balkon kafe dia melompat ke genteng rumah warga. Dari satu atap rumah ke atap rumah lainnya dia terus melompat. Yang di pikirannya cuma satu, menjauh dari lokasi ledakan. Dia melewati atap rumah warga hingga akhirnya menemukan sebuah penginapan. Di penginapan itu ia ditolong oleh seorang wisatawan asing.

Dalam kondisi masih luka-luka, Eko teringat akan motornya yang masih berada di kafe tempatnya bekerja. Dia merasa harus kembali lagi ke tempatya bekerja untuk mengambil motor sebab kendaraan tersebut ia pinjam dari tetangganya. Saat berjalan menuju tempat kerjanya dia melihat banyak sekali mayat yang bergelimpangan di jalanan. Beberapa kali dia yang berjalan sempoyongan tersandung potongan tubuh manusia.

Eko tak bisa menjangkau tempat kerjanya untuk mengambil motor sebab kondisi di sana sudah porak poranda. Situasi semakin genting setelah tersiar desas-desus akan ada ledakan lagi. Orang-orang berlarian penuh ketakutan sibuk menyelamatkan diri. “Seandainya waktu itu saya pingsan, pasti saya sudah terinjak-injak karena ada yang bilang akan ada bom susulan dan semua orang berlari,” kata dia.

Saat sudah hampir pingsan akhirnya ada seseorang yang menolong dan mengantarnya ke rumah sakit. Setelah sampai di rumah sakit dia tak sadarkan diri. Setelah sadar kepalanya sudah diperban dan tanganya dipasang gips.

Dampak atau trauma yang ditimbulkan dari tragedi Bom Bali 2002 membuat kehidupan Eko terpuruk. Selain kehilangan pekerjaan, dia selalu teringat kengerian peristiwa teror itu. Hal itu mempengaruhinya menjadi mudah marah. Dia mengaku satu waktu pernah melampiaskan kemarahannya kepada anak kecil. Dia sungguh menyesal bila teringat masa lalunya yang terpuruk akibat bom.

Selain itu, hal paling berat yang Eko alami adalah saat berpikir untuk keluar dari agama Islam. Pascatragedi dia menyaksikan banyak warga Bali yang menyindir bahwa Bali hancur karena orang luar, karena orang Islam. Sindiran tersebut muncul setelah investigasi polisi mengungkap pelaku Bom Bali 2002 adalah kelompok teroris yang menyebut diri sebagai Jamaah Islamiyah. Niatan untuk meninggalkan agama Islam urung dia lakukan setelah merenungkan bahwa ajaran Islam tak pernah menganjurkan umat Muslim untuk melakukan aksi teror atau kekerasan lainnya.

Eko mengisahkan bagaimana dia selamat dari aksi Bom Bali 2002 tersebut dalam satu kegiatan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di SMAN 4 Malang Jawa Timur, Agustus 2015. Dalam kesempatan tersebut Eko mengajak para pelajar Indonesia agar menanamkan semangat pantang menyerah dari berbagai tantangan kehidupan. Dia juga berharap pengalamannya sebagai korban aksi teror dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat luas bahwa menjaga perdamaian dalam kehidupan yang penuh perbedaan ini sangatlah penting. [F]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...