HomeSuara KorbanIni Bentuk Cinta Saya...

Ini Bentuk Cinta Saya Kepada Suami

Sebelum terjadi tragedi Bom Bali 12 Oktober 2002, Endang Isnanik hidup bahagia dengan keluarga kecilnya. Bersama sang suami, Aris Munandar (alm), dia membuka usaha toko roti. Krisis moneter yang melanda perekonomian Indonesia pada 1998 memaksa usaha mereka gulung tikar. Suaminya pindah usaha ke dunia pariwisata menjadi pengemudi di Kuta, Bali, sedangkan Endang fokus mendidik tiga putranya. Mereka saling mengasihi dalam menjalani bahtera rumah tangga.

Seminggu sebelum kejadian Endang sering bermimpi kehilangan sesuatu. Dia pernah bermimpi kehilangan selimut, sepatu, kacamata, serta mimpi gigi tanggal satu. Dia sempat menceritakan mimpi-mimpi ini kepada suaminya sambil penuh tanya. Dia juga merasakan Aris sering bicara yang aneh-aneh, seperti memintanya agar menjaga bapak mertuanya dengan baik.

Sehari sebelum kejadian, suaminya menyampaikan kalau badannya terasa sangat letih dan ingin beristirahat di rumah. Seharian di rumah Endang dan Aris menyempatkan untuk bercengkerama. Masih begitu kuat dalam ingatannya saat Aris memuji wajahnya yang semakin cantik, lalu mencium kening dan menyuapinya makan. Saat azan magrib berkumandang, Endang dan suami salat berjamaah dan dilanjutkan mengaji Alquran bersama hingga waktu isya.

Endang dan Aris kemudian bersantai menonton televisi hingga jam 9 malam. Setelah merasa agak baikan Aris mengurungkan niat untuk libur kerja. Endang menyarankan agar Aris beristirahat saja di rumah kalau capai. Anak paling kecil mereka yang berumur dua tahun juga menangis, merengek agar bapaknya tidak meninggalkan rumah.

Akan tetapi, Aris tetap berngkat bekerja dengan alasan bahwa biasanya akhir pekan banyak pelancong yang membutuhkan kendaraan.

Hanya berselang sekitar dua jam setelah Aris pamit bekerja, terjadilah peristiwa tragis yang dikenal dengan Bom Bali. Dua bom bunuh diri meledak di Jalan Legian menghancurkan kawasan padat wisata itu. Banyak bangunan dan kendaraan tampak terbakar, rusak porak poranda. Ratusan tubuh manusia bergelimpangan di jalanan.

Endang sedang tidur menemani ketiga anaknya malam itu. Dalam tidurnya, dia bermimpi mengajak keluarganya jalan-jalan tapi suaminya menolak. “Enggak, Nan, aku nggak ikut. Aku ingin tidur saja,” kata Endang menirukan suami yang muncul di mimpinya.

Setelah mendengar kata-kata tersebut, Endang terbangun. Tak lama kemudian ia dengar seseorang mengetuk pintu. Ternyata yang datang adalah adiknya yang mengabarkan telah terjadi ledakan bom di Legian. Endang langsung teringat akan mimpinya dan spontan menangis. Maksud hati ingin pergi mencari keberadaan suami namun dia tak berdaya sebab kakinya mengalami radang sendi.

Semalam penuh keluarganya mencoba mencari tahu kejelasan nasib Aris namun tak ada hasil. Dengan penuh harap Endang terus berdoa agar suaminya selamat. Baru keesokan harinya informasi tentang Aris didapatkan. Suaminya termasuk salah satu korban meninggal dalam tragedi Bom Bali. Jasadnya ditemukan terbakar dalam posisi tidur bersandar di dalam mobil yang dikendarainya.

Sepeninggal suami, Endang sering terbangun dini hari kemudian membuka pintu rumah seperti setiap harinya dia menyambut suaminya pulang. Saat dirundung kesedihan akibat kepergian suami, dia berwudu kemudian melakukan salat. Selepas salat dia tak lupa berdoa meminta kekuatan untuk membesarkan anak-anaknya.

Setelah tragedi Bom Bali, para janda korban berkumpul membuka usaha konveksi untuk mencari nafkah menghidupi keluarga. Endang bersyukur mendapatkan pekerjaan yang baik untuk menggantikan suaminya sebagai tulang punggung keluarga. Dari pekerjaan tersebut dan atas bantuan banyak pihak dia telah berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang perguruan tinggi.

“Ini bentuk cinta saya kepada suami, Mas Aris, bentuk tanggung jawab saya kepada dia juga. Saya besarkan anak-anak walau tanpa dia,” ujarnya.

Dari perjalanan hidup yang telah digariskan Tuhan, Endang mengaku sangat bersyukur. Dia mengambil hikmah atas segala peristiwa yang dia alami, termasuk saat kehilangan suami tercinta. Salah satu hikmah yang dia rasakan adalah bahwa peristiwa Bom Bali membuatnya semakin sadar bahwa manusia tak berdaya tanpa rahmat dan kasih Tuhan. Dia menjadi sadar untuk terus berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan agar dapat melampaui berbagai tantangan kehidupan. [AM]

 

Disarikan dari penuturan kisah Endang Isnanik dalam kegiatan Pelatihan Tim Perdamaian AIDA di Malang, Jawa Timur, Agustus 2015.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...