Home Suara Korban Ini Bentuk Cinta Saya Kepada Suami
Suara Korban - 22/08/2017

Ini Bentuk Cinta Saya Kepada Suami

Sebelum terjadi tragedi Bom Bali 12 Oktober 2002, Endang Isnanik hidup bahagia dengan keluarga kecilnya. Bersama sang suami, Aris Munandar (alm), dia membuka usaha toko roti. Krisis moneter yang melanda perekonomian Indonesia pada 1998 memaksa usaha mereka gulung tikar. Suaminya pindah usaha ke dunia pariwisata menjadi pengemudi di Kuta, Bali, sedangkan Endang fokus mendidik tiga putranya. Mereka saling mengasihi dalam menjalani bahtera rumah tangga.

Seminggu sebelum kejadian Endang sering bermimpi kehilangan sesuatu. Dia pernah bermimpi kehilangan selimut, sepatu, kacamata, serta mimpi gigi tanggal satu. Dia sempat menceritakan mimpi-mimpi ini kepada suaminya sambil penuh tanya. Dia juga merasakan Aris sering bicara yang aneh-aneh, seperti memintanya agar menjaga bapak mertuanya dengan baik.

Sehari sebelum kejadian, suaminya menyampaikan kalau badannya terasa sangat letih dan ingin beristirahat di rumah. Seharian di rumah Endang dan Aris menyempatkan untuk bercengkerama. Masih begitu kuat dalam ingatannya saat Aris memuji wajahnya yang semakin cantik, lalu mencium kening dan menyuapinya makan. Saat azan magrib berkumandang, Endang dan suami salat berjamaah dan dilanjutkan mengaji Alquran bersama hingga waktu isya.

Endang dan Aris kemudian bersantai menonton televisi hingga jam 9 malam. Setelah merasa agak baikan Aris mengurungkan niat untuk libur kerja. Endang menyarankan agar Aris beristirahat saja di rumah kalau capai. Anak paling kecil mereka yang berumur dua tahun juga menangis, merengek agar bapaknya tidak meninggalkan rumah.

Akan tetapi, Aris tetap berngkat bekerja dengan alasan bahwa biasanya akhir pekan banyak pelancong yang membutuhkan kendaraan.

Hanya berselang sekitar dua jam setelah Aris pamit bekerja, terjadilah peristiwa tragis yang dikenal dengan Bom Bali. Dua bom bunuh diri meledak di Jalan Legian menghancurkan kawasan padat wisata itu. Banyak bangunan dan kendaraan tampak terbakar, rusak porak poranda. Ratusan tubuh manusia bergelimpangan di jalanan.

Endang sedang tidur menemani ketiga anaknya malam itu. Dalam tidurnya, dia bermimpi mengajak keluarganya jalan-jalan tapi suaminya menolak. “Enggak, Nan, aku nggak ikut. Aku ingin tidur saja,” kata Endang menirukan suami yang muncul di mimpinya.

Setelah mendengar kata-kata tersebut, Endang terbangun. Tak lama kemudian ia dengar seseorang mengetuk pintu. Ternyata yang datang adalah adiknya yang mengabarkan telah terjadi ledakan bom di Legian. Endang langsung teringat akan mimpinya dan spontan menangis. Maksud hati ingin pergi mencari keberadaan suami namun dia tak berdaya sebab kakinya mengalami radang sendi.

Semalam penuh keluarganya mencoba mencari tahu kejelasan nasib Aris namun tak ada hasil. Dengan penuh harap Endang terus berdoa agar suaminya selamat. Baru keesokan harinya informasi tentang Aris didapatkan. Suaminya termasuk salah satu korban meninggal dalam tragedi Bom Bali. Jasadnya ditemukan terbakar dalam posisi tidur bersandar di dalam mobil yang dikendarainya.

Sepeninggal suami, Endang sering terbangun dini hari kemudian membuka pintu rumah seperti setiap harinya dia menyambut suaminya pulang. Saat dirundung kesedihan akibat kepergian suami, dia berwudu kemudian melakukan salat. Selepas salat dia tak lupa berdoa meminta kekuatan untuk membesarkan anak-anaknya.

Setelah tragedi Bom Bali, para janda korban berkumpul membuka usaha konveksi untuk mencari nafkah menghidupi keluarga. Endang bersyukur mendapatkan pekerjaan yang baik untuk menggantikan suaminya sebagai tulang punggung keluarga. Dari pekerjaan tersebut dan atas bantuan banyak pihak dia telah berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang perguruan tinggi.

“Ini bentuk cinta saya kepada suami, Mas Aris, bentuk tanggung jawab saya kepada dia juga. Saya besarkan anak-anak walau tanpa dia,” ujarnya.

Dari perjalanan hidup yang telah digariskan Tuhan, Endang mengaku sangat bersyukur. Dia mengambil hikmah atas segala peristiwa yang dia alami, termasuk saat kehilangan suami tercinta. Salah satu hikmah yang dia rasakan adalah bahwa peristiwa Bom Bali membuatnya semakin sadar bahwa manusia tak berdaya tanpa rahmat dan kasih Tuhan. Dia menjadi sadar untuk terus berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan agar dapat melampaui berbagai tantangan kehidupan. [AM]

 

Disarikan dari penuturan kisah Endang Isnanik dalam kegiatan Pelatihan Tim Perdamaian AIDA di Malang, Jawa Timur, Agustus 2015.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *