Home Berita Mengenang Tragedi Bom JW Marriott 2003
Berita - 21/08/2017

Mengenang Tragedi Bom JW Marriott 2003

Agustus bagi kebanyakan orang adalah bulan kemerdekaan, tetapi bagi para korban terorisme Agustus juga dikenang sebagai bulan terjadinya peristiwa tragis peledakan bom di Hotel JW Marriott Jakarta.
Masih jelas dalam ingatan para korban tentang apa yang terjadi di depan lobi Hotel JW Marriott, 5 Agustus 2003. Dentuman keras dari ledakan bom mobil disertai bola api besar yang menyambar terjadi begitu saja, menyasar ratusan orang. Peristiwa 14 tahun lalu itu menewaskan 12 orang dan mencederai 150 lainnya.
Mereka yang menjadi korban tak pernah menyangka ketenangan ibu kota siang itu bakal diganggu oleh aksi teror dari kelompok yang tak bertanggung jawab. Mereka tak mengira dampak aksi teror itu akan terbawa seumur hidup.
Salah satu korban luka peristiwa tersebut ialah Didik Hariyono, pemuda asal Kediri yang kala itu tengah berjalan di depan Hotel JW Marriott. Dia bermaksud untuk kembali ke kantornya di Menara Rajawali, berdekatan dengan Hotel JW Marriott, usai makan siang di sebuah warung. Saat bom meledak dia merasakan tubuhnya seketika terbakar dan terlempar cukup jauh.  Ledakan bom tak hanya membakar tubuhnya tapi juga menghancurkan kendaraan dan bangunan hotel.
Setelah jatuh ke tanah Didik mengguling-gulingkan badannya untuk memadamkan api. Selain luka bakar, dia juga mengalami patah tulang di beberapa bagian. Luka bakar mencapai 70 persen membuatnya koma selama dua pekan di rumah sakit. Perawatan lanjutan mengharuskannya dirawat secara intensif di ruang isolasi Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta selama hampir setahun.
“Tubuh saya dibalut seperti mumi. Yang nggak terbakar hanya punggung. Tubuh saya sempat mengalami massa otot menyusut akibat setahun hanya terbaring di kasur,” ujarnya.
Akibat masa otot yang menyusut, Didik sempat mengalami kelumpuhan. Dia beruntung selamat dari kelumpuhan setelah fisioterapi yang dia lakukan sukses mengembalikan fungsi-fungsi otot. Dia mengaku bersyukur dapat pulih melakukan gerakan-gerakan secara normal walaupun bekas luka bakar di tubuhnya sangat nampak dan terasa gatal bila cuaca panas.
Apa yang dirasakan Didik saat ini adalah dampak yang terus melekat dari aksi teror 14 tahun lalu. Didik hanya seorang dari sekian banyak korban yang menderita luka parah akibat aksi-aksi teror di Indonesia. Ratusan korban lainnya juga mengalami penderitaan yang kurang lebih sama. Sebagian mereka bahkan kehilangan suami, istri, orang tua, anak atau orang terkasih. [SWD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *