HomeBeritaMeneladani Ketangguhan Tim Perdamaian

Meneladani Ketangguhan Tim Perdamaian

Pekan kedua Agustus 2017 Aliansi Indonesia Damai (AIDA) menyelenggarakan road show Seminar Kampanye Perdamaian “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di Bandung, Jawa Barat. Selama empat hari berturut-turut AIDA mengunjungi empat sekolah, yaitu SMAN 3, SMAN 8, SMAN 1 Ngamprah, dan SMAN 1 Dayeuhkolot. Kegiataan tersebut didukung oleh Direktorat Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dalam seminar AIDA menghadirkan Tim Perdamaian yang terdiri atas korban dan mantan pelaku terorisme yang telah berekonsiliasi. Anggota Tim Perdamaian yang mengikuti kegiatan tersebut adalah Albert Christiono (korban Bom Kuningan 2004), Vivi Normasari (korban Bom JW Marriott 2003), dan Ali Fauzi (mantan pelaku terorisme).

Saat penyelenggaraan seminar di SMAN 1 Ngamprah, Albert berbagi kisah pengalamannya menjadi korban aksi teror bom di Jl. HR. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan pada 9 September 2004. Waktu kejadian, dia sedang berada di dalam bus kota yang sedang melintas. Seketika bom meledak dan menghancurkan kendaraan dan bangunan di kawasan Kuningan. Serpihan logam menancap di kepalanya akibat ledakan.

Meskipun menderita cukup lama akibat aksi teror, Albert mengaku tak punya dendam terhadap mantan pelaku. Dia mengatakan bahwa dalam agamanya manusia dianjurkan untuk saling mengasihi dan memaafkan.

Anggota Tim Perdamaian lainnya, Vivi Normasari, berbagi kisah dalam kegiatan Seminar di SMAN 8 Kota Bandung. Dia menceritakan bagaimana aksi teror di Hotel JW Marriott Jakarta pada 5 Agustus 2003 menyisakan penderitaan yang berat. Akibat ledakan bom dia mengalami fraktur atau kerusakan jaringan tulang di jari-jari tangannya.

Sementara itu, anggota Tim Perdamaian dari unsur mantan pelaku, Ali Fauzi, menekankan kepada para siswa peserta seminar agar menjauhi segala bentuk pemikiran yang berlebihan atau ekstrem, termasuk dalam beragama. Segala hal yang berlebihan apalagi diwujudkan dalam tindak kekerasan menurutnya tidak menghasilkan solusi melainkan kehancuran dan penderitaan banyak orang seperti yang menimpa para korban terorisme.

Sebagai orang yang pernah bergelut dengan dunia kekerasan, Ali Fauzi secara pribadi meminta maaf kepada para korban terorisme. Albert dan Vivi sebaagai perwakilan korban pun telah memaafkan Ali. Korban dan mantan pelaku kini bersatu menjadi Tim Perdamaian untuk menggugah semangat para pelajar di Bandung agar menjauhi segala bentuk kekerasan.

Sebanyak 50 siswa di masing-masing sekolah mengikuti seminar dengan antusias. Sebagian besar mereka mengaku mendapatkan pelajaran berharga tentang ketangguhan setelah mendengarkan penuturan kisah Tim Perdamaian.

Seorang siswa SMAN 1 Dayeuhkolot mengaku sangat terinspirasi dengan semangat ketangguhan yang dimiliki korban dan mantan pelaku. Dari penuturan mantan pelaku, dia melihat bahwa setiap manusia dapat berubah menjadi lebih baik bila gigih berjuang memperbaiki kekurangan masa lalu. Sementara itu, dari kisah korban terorisme dia mengaku mendapatkan nasihat yang luar biasa tentang maaf.

“Sebagai manusia biasa Tuhan aja Maha Pemaaf, kenapa kita tidak memaafkan.” Demikian ungkapan yang dia ingat setelah mendengarkan kisah Vivi.

Dia juga mengaku terlecut semangatnya untuk tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan kehidupan seperti halnya yang ditunjukkan oleh para korban. “Walaupun ada peristiwa yang menimpanya, dia (Vivi) tetap bangkit,” ujarnya. [SWD]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali,...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak generasi muda untuk terus menjaga perdamaian. Menurut dia perdamaian harus tetap dijaga karena perdamaian itu indah. “Untuk bisa menjaga perdamaian diperlukan kesabaran. Kita harus mampu berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan,”...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...