HomeBeritaMenjadi Sahabat Anak Didik,...

Menjadi Sahabat Anak Didik, Membina Perdamaian

Hayati Eka Laksmi, korban Bom Bali 2002, berbagi kisah dalam Pelatihan Guru "Belajar bersama Menjadi Guru Damai" di Pandeglang (5/11/2016).
Dok. AIDA – Hayati Eka Laksmi, korban Bom Bali 2002, berbagi kisah dalam Pelatihan Guru “Belajar bersama Menjadi Guru Damai” di Pandeglang (5/11/2016).

 

“Saya akan sampaikan kepada siswa bahwa perdamaian itu sangat penting, dan yang tak kalah penting juga adalah jangan membalas kekerasan dengan kekerasan”

Demikian seorang peserta mengungkapkan kesan usai mengikuti Pelatihan “Belajar Bersama Menjadi Guru Damai” di Pandeglang, Banten, awal November lalu. Kegiatan tersebut diikuti 18 guru dari lima sekolah, yaitu SMK Karya Wisata, SMAN 1. SMA Mathlaul Anwar, SMKN 6, dan SMK Dwi Putra Bangsa Pandeglang.

Dalam pelatihan, para peserta mendapatkan sejumlah materi tentang nilai penting perdamaian serta bahaya paham kekerasan di lingkungan tempat mereka bekerja sehari-hari, sekolah. Salah satu materi yang disuguhkan adalah penuturan kisah Tim Perdamaian yang terdiri atas korban dan mantan pelaku aksi terorisme. Anggota Tim Perdamaian yang berkesempatan menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut adalah Hayati Eka Laksmi, korban Bom Bali 2002, dan Ali Fauzi, mantan anggota kelompok teror.

Ali menjelaskan terorisme memang nyata ada dan bukan rekayasa pemerintah atau kepolisian. “Kakak-kakak saya, saya sendiri dan teman-teman adalah buktinya,” ujarnya. la menceritakan pengalamannya terlibat dalam jaringan terorisme internasional hingga akhirnya memutuskan untuk keluar dan kembali ke jalan perdamaian. Dia menyadari apa yang dilakukan kelompoknya dahulu adalah kesalahan amat besar.

“Mereka menaruh bom di pelbagai tempat. Banyak masyarakat yang tidak tahu apa-apa terkena dampaknya bahkan hingga meninggal dunia. Saya mohon maaf kepada Ibu Eka, beliau dan anak-anaknya menjadi korban Bom Bali I yang dilakukan oleh kakak-kakak dan senior-senior saya,” ucap Ali.

Dalam kesempatan yang sama, suara Eka terdengar parau saat mengisahkan peristiwa teror bom yang menimpa suaminya, almarhum Imawan Sardjono, Utahun lampau. Saat kejadian, suaminya sedang bekerja piket malam dan tengah melintas di lokasi kejadian. “Tragedi itu membuat saya menjadi orang tua tunggal bagi kedua putra kami yang masih kecil-kecil,” kata dia.

Selama belasan tahun Eka membesarkan dan mendidik dua buah hatinya tanpa sosok ayah. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai sekolah mereka, dia mengabdikan diri menjadi guru di salah satu sekolah di Denpasar, seprofesi dengan para peserta pelatihan. Kendati dihadapkan pada musibah berat, dia tak putus asa. “Saya sudah ikhlas menerima suami menghadap Sang Khalik. Saya juga sudah memaafkan mantan pelaku,” tuturnya.

Beberapa peserta turut berbagi pengalaman dalam Pelatihan Guru di kabupaten penangkar badak bercula satu itu. Seorang peserta mengaku pernah dibaiat untuk bergabung dengan kelompok prokekerasan saat ia masih kuliah. “Hidup saya tidak nyaman karena sering pindah tempat dan terus dikejar-kejar aparat. Nyawa jadi taruhannya. Saya memutuskan untuk keluar dari kelompok itu. Saya tidak setuju bila berjihad dilakukan dengan menggunakan kekerasan,” kata dia.

Seorang peserta lainnya juga memiliki pengalaman serupa. “Saya sempat berdebat dengan orang tua karena berbeda pandangan. Akhirnya saya putuskan untuk keluar dari jaringan,” ungkapnya.

Pengalaman dua guru itu menjadi pembelajaran bagi para peserta pelatihan bahwa sangat penting untuk melindungi anak didik dari pengaruh ideologi kelompok prokekerasan. Tujuannya tak lain agar tidak ada anak didik yang terjerumus ke dunia kekerasan.

Narasumber lainnya, pakar terorisme Universitas Indonesia, Solahudin, menyampaikan bahwa peran guru memutus atau mencegah generasi muda terjebak paham ekstrem cukup signifikan. Terkait dengan peran itu, menurutnya guru perlu memahami pola rekrutmen, ciri dan paham kelompok ekstremis sehingga bisa mengidentifikasi bila ada anak didik yang terpengaruh. Identifikasi seseorang terpengaruh dengan ajaran prokekerasan tidak bisa dilihat dari penampilannya.

“Untuk mengetahui apakah siswa terpapar oleh paham ekstrem atau tidak hanya bisa diketahui dari paham dan pemikirannya. Caranya bagaimana? Ya diajak ngobrol anak didik kita,” kata Solahudin. Oleh sebab itu, dia menyarankan guru dekat dan bersahabat dengan anak didiknya.

Dari kegiatan selama dua hari itu para peserta mengaku mendapatkan wawasan baru tentang tantangan dunia pendidikan. Mereka berkomitmen untuk menumbuhkan semangat cinta perdamaian di kalangan anak didik. serta menghindarkan mereka dari ajaran kekerasan. “Pelatihan ini sangat bagus untuk menambah wawasan pendidik agar jangan sampai ada kekerasan di sekolah dan kita mampu melindungi anak didik dari target rekrutmen kelompok prokekerasan,” kata peserta dari SMKN 6 Pandeglang. [SWD-AS]

*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA edisi XI Januari 2017.

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 1)

Setiap orang butuh rumah. Baik dalam arti fisik, tempat di mana ia berasal dan menuju pulang, maupun secara substantif ruang di mana ia selalu diterima dan dicintai oleh keluarga. Choirul Ihwan, pria asal Madiun, Jawa Timur, ialah satu dari sekian orang yang merasa kehilangan rumah itu sejak...

Syariat Allah Memerintahkan Kebaikan

Aliansi Indonesia Damai- Syariat Allah Swt itu memerintahkan umat manusia untuk berbuat kebaikan bukan keburukan atau kejahatan. Siapa pun yang melakukan kejahatan atau keburukan maka telah melanggar syariat Allah Swt. Demikian pernyataan mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery...

Tangguh Menghadapi Ujian

Oleh Nur Aliyah, pengasuh Ponpes Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten* Dalam kehidupan ini, ujian dan cobaan adalah keniscayaan. Ia datang silih berganti, tanpa pernah memandang waktu, usia, atau status sosial. Sebagai muslim, kita diajarkan untuk tidak sekadar pasrah, melainkan tangguh. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: ketangguhan macam apa yang seharusnya...

Tidak Larut dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Agus Kurnia, penyintas bom Thamrin 14 Januari 2016, mengaku sejak menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta, dirinya memutuskan untuk tidak larut dalam kesedihan dan kemarahan. Menurutnya, apa yang sudah terjadi tidak mungkin kembali seperti semula. Pada 14 Januari 2016, Agus...

Santri Belajar Perdamaian dari Penyintas dan Mantan Pelaku

Aliansi Indonesia Damai- “Perasaan saya setelah mengikuti kegiatan ini bangga. Bangga kenapa? Bangga karena tidak ikut-ikutan jadi teroris.” Seorang santri Pondok Pesantren Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten menyampaikan kesan tersebut saat mengikuti Pengajian & Diskusi dengan tema ‘Menyerap Ibroh dari Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme’ beberapa waktu lalu. Dalam...