HomeSuara KorbanMenolak Menjadi Bangsa Pelupa

Menolak Menjadi Bangsa Pelupa

“Waktu makan siang di kantor anak buah saya tanya, ‘Rahang Bapak kenapa, Pak?’ Saya jawab, ‘Saya korban bom tahun 2004 di depan Kedubes Australia’. Lalu dia bilang, ‘Emangnya ada ya, Pak, bom tahun 2004?’ Saat itu saya langsung ingat perkataan istri almarhum Munir (aktivis HAM-red) bahwa bangsa kita adalah bangsa yang pelupa.”

Demikian diungkapkan Mulyono Sutrisman, korban aksi teror bom di depan Kedutaan Besar Australia di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan 9 September 2004, saat berbicara dalam sebuah kegiatan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Bandung, 12-13 Agustus 2017. Dia mengaku perasaannya campur aduk bila memikirkan sikap orang-orang seperti anak buahnya itu. Di satu sisi sakit akibat ledakan bom masih dia rasakan dan akan terbawa seumur hidup, di sisi lain perhatian publik terhadap korban aksi terorisme sangat minim.

Lebih dari sepuluh tahun pascatragedi Mulyono memendam cerita hidupnya sebagai korban terorisme dan menolak menyampaikannya ke publik. Setelah dipertemukan dengan AIDA dia mengaku berkenan untuk membagi pengalaman hidupnya sebagai korban bom agar masyarakat menyadari arti penting perdamaian serta bahaya terorisme.

Dia berharap dari upaya tersebut tidak ada lagi orang seperti anak buahnya yang alpa terhadap peristiwa bersejarah yang menimbulkan korban. Aksi teror Bom Kuningan 2004 yang menimpanya menewaskan 9 orang dan melukai 150 lainnya. Dengan mengingat dan memahami sejarah bangsa ini dapat mengambil pelajaran berharga agar di masa depan tragedi serupa tak terjadi.

Dalam kegiatan yang melibatkan para aktivis dakwah dari berbagai ormas Islam di Bandung Mulyono menceritakan peristiwa yang menyebabkan dirinya terluka parah. Saat kejadian, dia sedang mengendarai mobil di Jl. HR. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Dia perkirakan mobil pembawa bom yang meledak hanya berjarak 20 meter dari mobilnya. Seketika ledakan sangat keras terjadi, merusak, memecah, dan menghancurkan segala benda di sekitarnya.

“Seluruh mobil ketika itu berhenti, jalan-jalan dipenuhi dengan asap, daun-daun berjatuhan, kaca-kaca gedung pecah berantakan,” ujarnya.

Akibat ledakan tersebut rahang Mulyono hancur.

Tak hanya dirawat di rumah sakit di Jakarta, dia juga dirujuk untuk mendapatkan pengobatan lanjutan di Singapura dan Australia. Dia menjalani rekonstruksi rahang dengan mengambil sebagian tulang kecil di kakinya. Proses operasi yang dia jalani kurang lebih sebanyak 30 kali.

Kendati mengalami penderitaan yang luar biasa, Mulyono sadar bahwa musibah yang menimpanya adalah ujian dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Dia meyakini musibah tersebut adalah cara Tuhan menaikkan derajatnya. “Kalau kita mendapat musibah tapi masih nggak terima sama Allah, ya, berarti kita belum naik kelas,” kata dia.

Sebelum mengakhiri kisahnya, Mulyono berpesan bahwa sejarah sangat penting untuk diingat dan dijadikan bahan pelajaran bagi generasi muda sekarang agar tidak terjerumus ke dalam pemikiran-pemikiran yang salah. [F]

*Disarikan dari penuturan kisah Mulyono dalam kegiatan Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme di Kalangan Tokoh Agama di Bandung, Jawa Barat, 12 Agustus 2017.

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...