HomeBeritaGenerasi Tangguh Cinta Damai...

Generasi Tangguh Cinta Damai dan Antikekerasan

Dok. AIDA – Para peserta menampilkan yel-yel mereka dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 1 Weleri (18/10/2017).

 

Dua pekan lalu Aliansi Indonesia Damai (AIDA) mengadakan road show Kampanye Perdamaian di Semarang dan Kendal, Jawa Tengah. Di dua kota di pesisir utara Jawa AIDA mengunjungi lima sekolah dan menyelenggarakan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Belajar Menjadi Generasi Tangguh”. Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan wawasan para pelajar tentang pentingnya membangun kepribadian yang tangguh serta memiliki semangat hidup damai.

Kelima sekolah yang dikunjungi adalah SMAN 1 Kendal, SMAN 1 Weleri, SMA Muhammadiyah 1 Weleri, MA Uswatun Hasanah Semarang, dan SMAN 3 Semarang. Dalam kegiatan Dialog Interaktif di setiap sekolah AIDA menghadirkan Tim Perdamaian, yaitu korban dan mantan pelaku terorisme yang telah berekonsiliasi. Tim Perdamaian dari unsur korban adalah I Gusti Ngurah Anom, penyintas aksi teror Bom Bali 2002, dan Nanda Olivia Daniel, penyintas Bom Kuningan 2004. Dari unsur mantan pelaku, dihadirkan Iswanto, mantan anggota kelompok teroris asal Lamongan, Jawa Timur.

Secara bergantian korban dan mantan pelaku berbagi pengalaman tentang ketangguhan kepada para siswa peserta Dialog Interaktif. Nanda berkesempatan untuk berbagi kisah di SMAN 3 Semarang dan SMAN 1 Weleri. Dia mengisahkan pengalamannya saat terdampak ledakan bom di depan Kedutaan Besar Australia di Jakarta pada 9 September 2004. Penderitaannya melalui proses pengobatan, operasi hingga pemulihan pascaledakan dia rasakan sangat menyakitkan. “Setelah menjalani terapi berbulan-bulan, yang pertama kali berfungsi kembali adalah jari telunjuk. Saya pikir ini adalah teguran untuk saya agar tidak lagi meninggalkan solat saya,” ujarnya.

Dalam kondisi sakit dan terpuruk Nanda tidak menyerah untuk bersemangat melanjutkan hidup. Dia bersyukur dapat pulih dari cedera kemudian kembali beraktivitas. Setelah beberapa kali bertemu mantan pelaku ia bahkan mampu memaafkan kesalahan orang-orang yang pernah terlibat terorisme. Dia enggan membalas aksi teror yang dilakukan para teroris dengan aksi serupa. “Tidak ada gunanya juga membalas kekerasan dengan kekerasan. Setelah itu suasana hati saya menjadi ringan,” dia mengisahkan.

Penyintas Bom Bali 2002, I Gusti Ngurah Anom, juga berbagi kisah dalam Dialog Interaktif. Pada saat kejadian, Anom sedang dalam perjalanan pulang setelah bekerja di sebuah rumah makan di Kuta, Bali. Dia mengalami luka-luka, kulit bagian pelipisnya terkelupas, pendengaran salah satu telinganya terganggu. Serpihan kaca tertancap di sebelah bola matanya. Setelah dilakukan operasi penglihatannya tidak terselamatkan.

“Musibah datang tidak bisa disangka-sangka, ambillah hikmahnya. Tetaplah semangat dan terus belajar menjadi generasi tangguh. Jika punya masalah jangan sampai membalas dengan kekerasan, memaafkan lebih baik, ini harapan saya. Saya juga begitu, sebagai korban bom, apabila pelakunya mau meminta maaf kepada saya, saya akan memaafkannya.” Demikian Anom berpesan kepada para siswa peserta Dialog Interaktif.

Dari sisi mantan pelaku, Iswanto menceritakan liku-liku kehidupannya mulai saat bergabung dengan kelompok teroris hingga akhirnya dia berbalik dari dunia kekerasan untuk menyebarkan perdamaian. “Setelah banyak belajar akhirnya saya berpikir ulang tentang jalan kekerasan yang pernah saya jalani. Saya juga menjadi semakin yakin setelah dipertemukan dengan korban bom oleh AIDA,” kata dia.

Salah satu siswa dari SMAN 1 Kendal mengaku sangat tertarik dengan kegiatan Dialog Interaktif. “Dari kisahnya Pak Iswanto, kita harus hati-hati dalam memilih teman agar tidak terjerumus ke dalam kelompok yang dilarang, sedangkan dari kisahnya Pak Anom, beliau adalah contoh manusia yang tabah. Walaupun diserang tanpa memiliki kesalahan, diserang hingga kehilangan satu mata dan pendengarannya, dia mampu memberikan maaf kepada orang lain,” akunya. [AM]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...