HomeSuara KorbanMenata Kembali Kepercayaan Diri

Menata Kembali Kepercayaan Diri

Dok. AIDA – Korban Bom JW Marriott Jakarta, Tita Apriyantini, sedang menceritakan kisah hidupnya dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 1 Bukittinggi, Sumatera Barat (8/4/2016).

Harapan Tita Apriyantini bekerja di bidang pariwisata sempat pupus ketika ia terkena ledakan bom terorisme di Hotel JW Marriott Jakarta, 5 Agustus 2003 silam. Ledakan bom itu menewaskan 14 korban jiwa dan ratusan luka-luka termasuk dirinya. Wanita muda itu mengalami luka bakar serius di kedua tangan. Beberapa bagian tubuhnya terkena pecahan kaca, dan salah satu yang paling dia sesali adalah rambutnya terbakar sehingga harus dipotong habis.

Saat itu ia mengalami kehilangan rasa percaya diri karena ada cacat di bagian tubuhnya dan mahkota kepalanya hilang. Dia merasa tak lagi sempurna. Kini kulit di tangannya harus dibalut second skin sebagai pelindung bekas luka bakar akibat aksi teror bom yang menimpanya.

“Luka akibat ledakan bom sempat membuat saya kehilangan percaya diri. Saya bercita-cita bekerja di bidang pariwisata tentunya akan bertemu dengan banyak orang dan memerlukan penampilan menarik,” ujar Tita dalam satu kegiatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Bandung, Jawa Barat.

Perempuan kelahiran Jakarta ini menceritakan kala peristiwa bom terjadi, ia sedang menjalani on job training (magang) di Restoran Syailendra Hotel JW Marriott Jakarta. Saat itu ia baru empat hari menjalani magang di hotel tersebut. Program magang, kata dia, merupakan tugas kuliahnya sebagai mahasiswi sebuah sekolah tinggi pariwisata di Jakarta.

“Malam hari sebelum peristiwa ledakan bom saya kena demam dan rasanya berat sekali untuk masuk kerja esok hari. Namun, rasanya berat meninggalkan tugas magang apalagi baru masuk tiga hari. Akhirnya saya memutuskan untuk berangkat kerja,” tuturnya.

Menurut Tita Restoran Syailendra kala itu dipenuhi tamu yang hendak makan siang bahkan sejumlah tamu harus masuk daftar menunggu (waiting list). Ketika para tamu sedang makan siang tiba-tiba bom meledak hingga memporak-porandakan bangunan hotel, termasuk Restoran Syailendra. Kepulan asap hitam menyelimuti restoran tersebut.

“Saat itu saya tidak menyadari bahwa ledakan itu sebuah bom. Saya sama sekali tidak mengira kok ada manusia yang tega meledakkan bom di tempat umum,” kata dia.

Ketika dilanda kepanikan dan hendak menyelamatkan diri, Tita mendengar suara orang-orang berteriak meminta pertolongan. Sejumlah korban yang masih kuat berjalan berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri dan meminta pertolongan, termasuk dirinya.

Tita dirujuk ke sebuah rumah sakit oleh seseorang yang hingga kini tak dia ketahui siapa sosok sang penolong itu. Ia menyebut sosok tersebut sebagai malaikat penolong dirinya.

Di rumah sakit dia mendapatkan penanganan medis untuk mengobati luka-luka yang dideritanya. Selain luka fisik, dia juga mengalami guncangan psikologis. Beberapa waktu pascaledakan ia tidak berani bepergian ke tempat keramaian dan pusat perbelanjaan. Suatu hari ia pernah berkunjung ke sebuah pusat perbelanjaan namun di pintu masuknya tidak ada metal detector, maka seketika ia langsung berbalik mengurungkan niatnya memasuki tempat tersebut. “Saya masih merasa takut,” ucapnya.

Tita tak mau terus terpuruk dalam kesedihan dan ketakutan. Ia mencoba bangkit dan menata kembali rasa percaya dirinya untuk meraih cita-cita. Beruntung orang tua, keluarga dan rekan-rekannya tak henti-hentinya memberikan dukungan dan semangat kepada dirinya. Akhirnya Tita pun bisa melanjutkan kuliah dan meraih gelar sarjana. Ia sempat bekerja kembali di Hotel JW Marriott Jakarta dengan memakai rambut palsu dan second skin. Setelah beberapa waktu lalu ia memutuskan resign dari tempat kerjanya dan memilih berwirausaha.

Selain berwirausaha, saat ini wanita yang sudah dikaruniai seorang anak itu juga aktif menyebarkan pesan-pesan perdamaian kepada pelbagai kalangan masyarakat. “Tujuannya untuk menghentikan kekerasan terorisme,” kata dia. [AS]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026 Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam...

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menekankan pentingnya umat Islam menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan. Dalam Islam, kata dia, dikenal tiga jenis persaudaraan (ukhuwah) yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). “Kalau kita tidak bersaudara sama-sama...

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian Opini Publik untuk Demokrasi dan Pembangunan LPPM Universitas Hasanuddin Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 31 Agustus 2026 Dalam belasan tahun terakhir, kehidupan kolektif bangsa Indonesia memperlihatkan gejala yang patut dicermati, yakni menguatnya kecenderungan antisains...