HomeBeritaMemetik Pelajaran dari Rekonsiliasi...

Memetik Pelajaran dari Rekonsiliasi Tim Perdamaian

Dok. AIDA – Para peserta mengikuti ice breaking di sela-sela kegiatan Pelatihan Guru “Belajar Bersama Menjadi Guru Damai” di Semarang (21/10/2017).

Aliansi Indonesia Damai (AIDA) menyelenggarakan Pelatihan Guru dengan tema “Belajar Bersama Menjadi Guru Damai” di Semarang akhir Oktober 2017 lalu. Para pengajar dari lima sekolah, yaitu SMAN 1 Weleri, SMAN 1 Kendal, SMA Muhammadiyah 1 Kendal, SMAN 3 Semarang dan MA Uswatun Hasanah Semarang, diundang dalam kegiatan tersebut.

Belasan guru yang menjadi peserta pelatihan tampak antusias mengikuti sesi demi sesi dalam kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut. Selain materi-materi yang diberikan menarik dan disampaikan oleh narasumber yang berkompeten, para peserta terlihat sangat menikmati sesi-sesi ice breaking dan permainan di sela kegiatan.

Dalam kegiatan AIDA menghadirkan Tim Perdamaian, yaitu korban dan mantan pelaku terorisme yang telah berekonsiliasi, untuk berbagi pengalaman kepada para peserta. Tim Perdamaian yang dihadirkan di Semarang beranggotakan I Gusti Ngurah Anom, penyintas aksi teror Bom Bali 12 Oktober 2002, dan Kurnia Widodo, mantan anggota kelompok teroris jaringan Cibiru, Bandung.

Anom menceritakan kisahnya saat sedang singgah di Jalan Legian, Kuta untuk membeli air mineral tiba-tiba ledakan bom yang sangat besar meluluhlantakkan daerah itu. Tak hanya motornya yang hancur, ia mengalami cedera permanen akibat aksi teror tak berperikemanusiaan itu. Matanya tertancap serpihan benda asing kemudian setelah dioperasi penglihatannya tidak bisa kembali. Selain berpenglihatan hanya sebelah, beban penderitaannya bertambah dengan adanya trauma mendalam yang diakibatkan aksi terorisme tersebut.

Meskipun demikian, Anom tidak menyerah atas cobaan yang menimpanya. Ia bangkit mengalahkan rasa sakit dan trauma. Salah satu hal luar biasa yang dilakukannya adalah memaafkan pelaku yang telah membuatnya menderita seperti itu, juga kepada orang-orang yang pernah terjerumus ke paham terorisme.

Kurnia dari pihak mantan pelaku juga berbagi kisah kepada para peserta pelatihan. Ia menceritakan bagaimana sepak terjangnya di kelompok teroris sebelum akhirnya memutuskan keluar. Semasa di kelompok teroris tersebut, berbekal pengetahuannya di bidang ilmu kimia ia mempelajari cara merakit bom yang bisa digunakan untuk melakukan aksi terorisme. Secara berangsur dia mampu menyadari kekeliruan cara pandang kelompoknya terhadap ajaran agama. Akhirnya, jalan kekerasan dia tinggalkan. Salah satu alasan yang dia akui telah membuatnya yakin untuk meninggalkan kelompok teroris adalah pertemuannya dengan korban.

Para guru peserta pelatihan mengapresiasi AIDA yang telah memfasilitasi rekonsiliasi antara korban dan mantan pelaku terorisme. Seorang guru perwakilan dari SMAN 1 Kendal mengatakan, “Acara seperti ini bagus agar bisa menjadi desiminasi bagi siswa dan juga guru, bahkan saya baru kali ini melihat ada acara yang mendatangkan korban dan pelaku.”

Menurut salah satu peserta dari SMAN 3 Semarang, banyak pelajaran penting yang mesti diambil dan dipahami para guru dari kegiatan ini. Dia menilai bahwa rekonsiliasi atau saling memaafkan antara korban dan mantan pelaku merupakan hal yang luar biasa dan jarang terjadi. Dari Tim Perdamaian, guru dapat memetik inspirasi agar dapat menjadi pengajar yang berjiwa damai serta mampu menularkan semangat perdamaian kepada para siswa. “Korban yang memiliki jiwa yang lapang untuk memaafkan, bahkan saling berpelukan dengan mantan pelaku, lalu mantan pelaku juga yang harus bersusah payah untuk keluar dari jaringannya dengan penuh penyesalan untuk meminta maaf kepada korban, itu luar biasa,” kata dia. [F]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...