HomeBeritaMembangun Jurnalisme Berperspektif Korban...

Membangun Jurnalisme Berperspektif Korban dan Perdamaian

Penyintas Bom JW Marriott 2003, Sri Hesti, dan penyintas Bom Kuningan 2004, Daisy Nelly, berbagi kisah kepada peserta Shor Course "Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme bagi Insan Media" di Jakarta, Rabu (5/4/2017).
Dok. AIDA – Penyintas Bom JW Marriott 2003, Sri Hesti, dan penyintas Bom Kuningan 2004, Daisy Nelly, berbagi kisah kepada peserta Shor Course “Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme bagi Insan Media” di Jakarta, Rabu (5/4/2017).

 

Dengan tenang Ali Fauzi Manzi, mantan pelaku aksi terorisme, mengisahkan pengalamannya bergabung hingga akhirnya meninggalkan kelompok kekerasan. Dia mengawali kisahnya dengan mengucapkan permohonan maaf atas terjadinya serangan teror Bom Bali I (2002), Bom Bali II (2005), dan rangkaian teror di tempat-tempat lainnya yang dilakukan oleh saudara dan rekan-rekannya.

Tak ketinggalan, dia meminta maaf kepada para korban terorisme, salah satunya adalah Iwan Setiawan, penyintas teror bom di depan Kedutaan Besar Australia di Jl. HR. Rasuna Said Kuningan Jakarta Selatan pada 2004. “Juga terhadap Mas Iwan, sahabat saya yang menjadi korban bom empat ratus kilogram yang dimuat di sebuah mobil boks, yang dirakit oleh adik kelas saya,” ujarnya.

Ali Fauzi pertama kali bertemu Iwan tahun 2015 di Malang, Jawa Timur dalam sebuah kegiatan yang diselenggarakan oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA). Dalam kegiatan tersebut dia menangis saat mendengarkan kisah Iwan yang terkena bom hingga mengalami kebutaan. “Mas Iwan luar biasa. Saya banyak belajar dari beliau untuk bisa bangkit. Bagaimana dia porak poranda hidupnya, matanya hilang, istrinya meninggal, dalam keadaan mengandung bom itu meledak. Terima kasih, Mas Iwan memberikan banyak inspirasi buat saya,” ujarnya.

Pria bersongkok hitam itu mengisahkan pengalamannya di hadapan puluhan peserta Short Course Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme bagi Insan Media di Jakarta awal April lalu. Kegiatan yang diinisiasi AIDA tersebut bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran kaum jurnalis akan pentingnya sudut pandang korban dalam setiap pemberitaan tentang isu terorisme. Sebanyak 24 wartawan dari berbagai media massa nasional mengikuti kegiatan dengan antusias.

Selain Iwan, dua orang penyintas terorisme juga dihadirkan dalam kegiatan tersebut, yaitu Sri Hesti (korban Bom JW Marriott 2003) dan Daisy Nelly (korban Bom Kuningan 2004). Secara bergantian Sri dan Daisy membagikan kisahnya kepada para jurnalis peserta Short Course.

Sri Hesti ialah ibunda alm. Rudi Dwi Laksono, petugas keamanan Hotel JW Marriott Jakarta, yang meninggal dunia akibat ledakan bom pada 5 Agustus 2003. Dia mengatakan, berdasarkan penuturan rekan-rekan sekerja Rudi, putranya terkena ledakan saat mendekati sebuah mobil yang tak dinyana membawa bom. Kondisi mental Sri sempat terpuruk akibat aksi teror yang merenggut putra bungsunya. “Bayangkan Mas, Mbak, anaknya berangkat sehat, cakep, pulang udah … (tidak bernyawa-red), itu gimana rasanya hatinya orang tua, Mas,” sambil terisak Sri berujar kepada para peserta Short Course.

Sementara itu, Daisy menceritakan pengalamannya menjadi korban teror Bom Kuningan 2004. Pada waktu bom meledak, dia merasakan suatu dorongan yang sangat kencang. Dia dan ratusan orang yang berada di dalam gedung tepat di sebelah Kedutaan Besar Australia lantas berebut keluar, khawatir terjadi ledakan susulan. Tanpa alas kaki Daisy mencoba menyelamatkan diri dari situasi yang sangat mencekam pascaledakan. Dia mengikuti saran seseorang untuk melompat dari jendela dengan ketinggian sekitar dua meter. Nahas, telapak kakinya yang telah menginjak banyak pecahan kaca tak mampu bertahan. Melompat dari ketinggian membuat tulangnya retak.

Waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan kondisi kakinya akibat cedera cukup lama, satu tahun. Lebih dari itu, dia mengaku luka psikis yang ditimbulkan dari aksi teror memakan waktu yang lebih lama lagi. “Secara fisik saya sembuh, tetapi secara trauma sampai hari ini saya masih tetap trauma,” kata dia.

Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, dalam Short Course mengatakan, berbagai penderitaan korban teror sudah semestinya menjadi keprihatinan bersama, terutama negara. Pasalnya, hak-hak korban yang tercantum dalam Undang-Undang (UU) belum sepenuhnya diberikan. Dia menyebutkan, hak kompensasi korban yang tertera dalam UU No. 15/2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme tak pernah terbayarkan karena mensyaratkan adanya putusan pengadilan. Bertepatan dengan sedang berjalannya proses revisi UU tersebut, Hasibullah mengajak para insan media untuk mengawal penyempurnaan atas berbagai kelemahan yang terkandung. “Di sinilah pentingnya peran teman-teman media untuk bersama-sama mengawal hak-hak korban yang diatur dalam UU benar-benar dilaksanakan,” ujarnya.

Di samping kisah korban, para peserta kegiatan mendapatkan materi pengayaan dari sejumlah narasumber pakar. Salah satunya adalah Membangun Jurnalisme Damai, Memberi Ruang pada Suara Korban yang disampaikan oleh Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B.

Prasodjo. Dia mengatakan, media massa di era teknologi informasi yang serba maju ini berperan penting untuk membangun fakta menjadi informasi yang mendidik dan bernilai bagi masyarakat. Dia berharap dari kegiatan dua hari tersebut dapat tercipta jejaring yang kuat di antara para jurnalis sehingga dapat terbangun pemberitaan yang memunculkan dimensi-dimensi kemanusiaan dalam perspektif korban.

Seorang peserta mengaku mendapatkan wawasan baru setelah mengikuti Short Course. “Testimoni para korban juga cukup membuat kita ikut merasakan bagaimana dampak dari kegiatan terorisme itu sudah sangat menyakiti bahkan sampai sekarang sulit untuk dilupakan,” ujarnya. [MLM]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Fathudin, Sempat Euforia Ada Amaliyat (Bag. 2)

Mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, membuka suara mengenai dinamika internal, aliran dana, hingga strategi teror yang pernah dijalankan oleh kelompoknya. Pengakuan ini disampaikannya dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, pada September...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association/IDA) ke-22 di Bank Dunia (World Bank); Menteri Keuangan RI (2005-2010; 2016-2024; 2024-2025) ”Jangan pernah lelah mencintai Indonesia.” Kalimat ini sering saya ucapkan dalam berbagai kesempatan. Mencintai Indonesia memerlukan ketahanan, kesabaran,...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa merumuskan Undang-Undang Dasar 1945, mereka menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan adalah awal perjalanan panjang bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan berperan nyata dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang damai. Untuk itu,...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah kewajiban yang mulia bagi seluruh anak bangsa, termasuk umat muslim. Sebab membela negara itu bagian dari agama. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...