HomeBeritaPerdamaian Dimulai dari Hal...

Perdamaian Dimulai dari Hal Kecil

Dok. AIDA - Penyintas Bom Kuningan 2004, Sarbini, dan mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo, bersalaman sebagai simbol rekonsilisasi dalam Dialog Interaktif "Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh" di SMAN 8 Bandar Lampung, Kamis (23/3/2017).
Dok. AIDA – Penyintas Bom Kuningan 2004, Sarbini, dan mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo, bersalaman sebagai simbol rekonsilisasi dalam Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 8 Bandar Lampung, Kamis (23/3/2017).

 

“Meskipun saya lulusan ITB, saya nggak malu jualan es keliling. Menurut saya hal-hal kecil untuk perdamaian itu lebih baik daripada hal besar tapi untuk kekerasan.”

Kata-katanya tegas. Pandangannya terfokus pada para siswa yang duduk di hadapannya. Dia adalah Kurnia Widodo, seorang mantan pelaku aksi terorisme. Setelah menjalani hukuman karena terlibat kasus terorisme pada 2010, dia meninggalkan dunia kekerasan dan kini meniti jalan perdamaian. Dia berjualan es untuk mencari rezeki, tidak gengsi meskipun menyandang gelar sarjana dari perguruan tinggi ternama, Institut Teknologi Bandung (ITB). Berjualan es mungkin terlihat sepele namun baginya profesi itu sangat mulia sebab dari jalan itu dia dapat menafkahi keluarga. Dia melihat hal kecil seperti berjualan untuk menafkahi keluarga jauh lebih baik ketimbang aktivitas masa lalunya yang sering merakit bom atau merencanakan aksi teror dengan tujuan untuk menciptakan ketakutan yang besar di masyarakat.

Kurnia mengisahkan pengalamannya tersebut dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 2 Bandar Lampung pertengahan Maret lalu. Kegiatan tersebut bagian dari safari kampanye perdamaian yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di ibu kota Provinsi Lampung. Di kota tersebut AIDA menghadirkan Tim Perdamaian, yang terdiri atas penyintas dan mantan pelaku aksi terorisme, ke lima sekolah untuk mengajak para pelajar melestarikan budaya cinta damai.

Dalam kegiatan Dialog Interaktif, Kurnia mengatakan salah satu faktor yang semakin memantapkan hatinya untuk meninggalkan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan penyintas terorisme. Dia mengaku tersentuh melihat kebesaran hati penyintas yang memaafkan mantan pelaku seperti dirinya, padahal telah menderita akibat aksi terorisme. “Kalau pemahaman saya dulu waktu merakit bom, saya tidak memikirkan dampaknya bisa membuat orang yang jadi korban sampai menderita hebat. Saya minta maaf kepada para korban semuanya,” kata dia.

Pada kesempatan di Bandar Lampung, Kurnia bertemu dengan I Wayan Sudiana, I Gusti Ngurah Anom (penyintas Bom Bali 2002), Nanda Olivia Daniel, Sarbini (penyintas Bom Kuningan 2004), dan Agus Suaersih (penyintas Bom JW Marriott 2003), untuk bersatu menjadi Tim Perdamaian. Secara bergiliran Kurnia berduet dengan para penyintas untuk mengampanyekan perdamaian di di SMA Taman Siswa, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 8, dan SMAN 9.

Anggota Tim Perdamaian, Sarbini, dalam Dialog Interaktif di SMAN 8 berbagi kisah saat menjadi korban teror bom di depan Kedutaan Besar Australia di Jl. HR Rasuna Said Kuningan, Jakarta Selatan pada tahun 2004. Saat kejadian bapak dua anak ini sedang bekerja memasang instalasi jaringan komputer di sebuah kantor di gedung Plaza 89 yang terletak persis di seberang Kedutaan Besar Australia. “Saya mental sekitar tiga meter, kena meja komputer,” ujarnya. Akibat ledakan dia mengalami luka serius di bagian kepala. Setelah dioperasi dan dirawat di rumah sakit, dia masih harus menjalani rawat jalan hingga dua tahun untuk memulihkan kesehatan.

Musibah ledakan bom membuat Sarbini kehilangan pekerjaan hingga perekonomiannya sempat terpuruk. Setelah dinyatakan benar-benar pulih dia baru bisa bekerja kembali. Demi menafkahi keluarga dia sempat menjadi kuli bangunan dan bekerja di bengkel las. Dia menekuni pekerjaannya hingga pada 2014 mampu membuka bengkel las mandiri. Dia bersyukur dapat bangkit setelah mengalami tragedi teror bom. “Segala sesuatu diambil hikmahnya saja, jangan terlalu dipikirkan, yang penting ke depannya harus tetap semangat,” ungkapnya.

Pada kesempatan Dialog Interaktif di SMAN 3, penyintas Bom Bali 2002, I Gusti Ngurah Anom, juga berbagi kisah. Pada malam terjadinya ledakan bom, 12 Oktober 2002, Anom sedang dalam perjalanan pulang setelah bertugas sebagai penjaga keamanan di sebuah restoran. Tak seperti biasanya, dia memilih jalur alternatif yakni melewati Jalan Legian. Dia berhenti sejenak untuk membeli air minum di sebuah warung. Saat hendak melanjutkan perjalanan dia mengalami ledakan super besar yang memporakporandakan bangunan dan kendaraan. Dia mengalami cacat permanen di mata sebelah kiri akibat ledakan bom.

Saat ini Anom telah bangkit dari tragedi yang dialaminya meskipun trauma mental terkadang masih dirasakan. Selain mengikhlaskan masa lalu, Anom juga telah berekonsiliasi dengan mantan pelaku terorisme. “Saya memang pernah jadi korban tapi saya tidak ragu untuk memaafkan. Sekali pun itu lain agama, pelakunya sudah saya maafkan,” ujarnya. Dia mengaku tak menyimpan dendam karena terdorong ajaran agamanya untuk memaafkan kesalahan manusia.

Para siswa peserta Dialog Interaktif mengaku mendapatkan pelajaran berharga dari penuturan kisah korban dan mantan pelaku terorisme. Seorang peserta dari SMAN 2 mengatakan bahwa pengalaman hidup penyintas menyadarkannya untuk menjadi pribadi yang tangguh, mampu bertahan saat diterpa berbagai tantangan kehidupan. Peserta lain dari SMAN 9 juga berbagi kesan mengikuti Dialog Interaktif. “Kalau dari kisahnya mantan pelaku saya menjadi paham bahwa kita itu perlu untuk menyadari kesalahan kita sendiri, setelah itu kita bisa melakukan hal-hal lainnya untuk memperbaiki kesalahan kita di masa lampau,” ujarnya.

Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, mengharapkan perpaduan kisah penyintas dan mantan pelaku dapat mendorong semangat para pelajar untuk menjadi generasi yang tangguh. Dia menjelaskan, pengalaman penyintas menunjukkan bahwa kekerasan tidak pernah menyelesaikan masalah. “Kisah korban mengajarkan kita untuk tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Dari mantan pelaku, kita bisa mengambil pelajaran bahwa ketidakadilan tidak semestinya dibalas dengan ketidakadilan lainnya,” kata dia. [F]

 

 

 

 

*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi XIII Juli 2017.

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...