HomeBeritaJalan Panjang Menuju Perdamaian...

Jalan Panjang Menuju Perdamaian Pascateror Bom Bali

Mantan teroris, Ali Fauzi berbicara dalam bedah buku di Universitas Brawijaya Malang. (Foto: KORAN SINDO/Yuswantoro)
Mantan teroris, Ali Fauzi berbicara dalam bedah buku di Universitas Brawijaya Malang. (Foto: KORAN SINDO/Yuswantoro)

MALANG, iNews.id – Senyum, tawa, dan titik air mata bercampur menjadi satu di forum bedah buku berjudul La Tay`as (Jangan Putus Asa): Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya, karya Direktur Aliansi Indonesia Damai (AIDA), Hasibullah Satrawi.

Forum diskusi yang digelar di Gedung Nuswantara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) Malang, Kamis (1/3/2018) tersebut bukan sekadar membahas teks ilmiah, tetapi menjadi forum bersama membangun perdamaian mantan teroris dan korbannya.

Ali Fauzi (47), yang merupakan mantan kombatan dan guru merakit bom bagi para pelaku teror di Indonesia dipertemukan kembali dengan Hayati Eka Laksmi (48). Dia adalah istri almarhum Imawan Sarjono, korban ledakan bom Bali I pada 12 Oktober 2002 silam.

Beberapa kali Hayati Eka Laksmi, tidak mampu membendung air mata yang menitik di sudut matanya. “Pada awal bertemu, rasanya saya ingin mencincang Pak Ali Fauzi ini. Tetapi saya menyadari, hanya jalan maaf yang bisa menyelesaikan hal ini. Kemarahan dan kebencian tak akan mampu menghidupkan yang sudah mati,” ujarnya.

Dia sangat bersedih ketika mengingat pertama kali mengetahui suaminya telah meninggal dunia karena menjadi korban ledakan bom di Kuta, Bali. Jenazah suaminya baru ditemukan satu minggu setelah ledakan dahsyat itu terjadi.

Selepas pemakaman jenazah suaminya, persoalan tidak serta merta usai. Justru dia harus menghadapi persoalan baru yang besar. “Saya dari awalnya ibu rumah tangga harus kembali bekerja menghidupi dua anak saya yang masih balita. Anak-anak saya menjadi sangat agresif karena ditinggal pergi bapaknya untuk selamanya,” kenangnya.

Wanita berhijab, guru bimbingan konseling SMP Muhammadiyah Kuta, Bali, tersebut, sering kali menumpahkan kesedihannya di jalan. Dia menangis dan berteriak meluapkan kesedihannya, saat berangkat atau pulang kerja. Hal ini menjadi pilihan karena tidak mungkin menumpahkan kesedihannya saat berada di hadapan kedua puteranya.

Keberadaan kedua anaknya membuatnya terus kuat untuk bangkit. Dibuangnya kebencian di hati karena menyimpan kebencian semakin menambah sakit. Pintu maaf di hatinya terbuka luas karena baginya hanya keikhlasan dan maaf yang bisa meredakan sakit di dalam hati.

Selain terus berupaya membangun ekonomi keluarganya yang ikut porak-poranda, dia juga membangun komunikasi dengan keluarga korban lain. Bahkan, mereka telah mendirikan Yayasan Penyintas Indonesia yang menampung para keluarga korban aksi terorisme.

Semangat untuk bangkit dan menghapus kebencian yang dibangun Hayati Eka Laksmi, bersambut dengan semangat pertobatan dari Ali Fauzi (47). Pria yang sudah makan asam garam di dunia kekerasan dan teror tersebut menangis tertunduk saat bertemu para korban dari bom yang dirakit para mantan muridnya.

Pertemuan-pertemuan dengan para korban bom tersebut, membuatnya termotivasi untuk keluar dari kehidupannya yang tertutup. “Saya memberanikan diri keluar ke publik untuk membangun perdamaian. Untuk mengampanyekan jalan kekerasan atas nama apa pun adalah kesalahan besar,” ujarnya.

Pria yang kini menjadi Direktur Yayasan Lingkar Perdamaian di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, mengambil langkah tegas untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Dia hidup bermasyarakat, mengajak para mantan teroris dan mereka yang masih berada di jalan kekerasan untuk kembali ke masyarakat.

Banyak faktor yang membuat manusia terjerumus kepada jalan kekerasan dan melakukan aksi teror. Faktor ekonomi, politik, pendidikan, dan psikologis, berbaur menjadi satu, mendapatkan dukungan dari lingkungan pertemanan, dan keluarga. “Faktornya beragam sehingga pemerintah harus dibantu untuk menyelesaikan persoalan radikalisme ini. Semua faktor saling berkaitan,” ujarnya.

Di lembaga yang kini dipimpinnya tersebut, terdapat 38 orang mantan teroris. Mereka diajak berkarya di berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan untuk memberikan pemahaman tentang toleransi, perdamaian, dan hidup rukun dalam keberagaman di tengah masyarakat kepada anak-anak generasi penerus bangsa.

Direktur Aliansi Indonesia Damai (AIDA), Hasibullah Satrawi, mengaku sengaja menuliskan seluruh kisah pertemuannya dengan para teroris dan korbannya dalam buku La Tay`as (Jangan Putus Asa): Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya.

Kisah-kisah yang dituliskannya dalam buku tersebut, bukan bertujuan untuk membuat orang menghalalkan atau mengharamkan gerakan radikalisme. Dia ingin, orang membaca kisahnya dan memahami nilainya. “Melalui kisah-kisah tersebut, kita bangun nilai-nilai kemanusiaan,” ujarnya.

Sejak tahun 2013 silam, dia mendirikan Yayasan AIDA. Harapannya, bisa menjadi ruang dialog untuk membangun perdamaian yang dilandasi nilai-nilai kemanusiaan. “Prosesnya berat, butuh waktu yang panjang. Tetapi jalan itu harus ditempuh untuk membangun dan menjaga Indonesia,” tuturnya.

Rekonsiliasi Harus Terus Dibangun

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Abdul A’la, yang hadir sebagai pembicara kunci dalam forum dialog dan bedah buku tersebut mengatakan, rekonsiliasi harus terus dibangun agar perdamaian melalui jalan dialog bisa terus dibangun demi Indonesia.

Keberagaman yang dimiliki Indonesia harus terus dirawat. Termasuk keberagaman manusia di dalamnya. “Manusia pernah melakukan dosa, Tuhan tidak akan mempermasalahkannya kalau manusia tersebut mau dengan tulus ikhlas bertobat. Kekerasan dan klaim kebenaran sepihak harus dihentikan karena melawan nilai kemanusiaan,” tuturnya.

Baginya, mahasiswa sebagai generasi bangsa menjadi penentu masa depan bangsa Indonesia. Mahasiswa diharapkan memiliki pemikiran dan tindakan yang lebih baik, mampu menularkan virus perdamaian, dan saling memaafkan ke seluruh masyarakat.

Pakar terorisme UB Malang, Yusli Efendi menyebutkan, gerakan radikal yang pada akhirnya menebar teror kekerasan di masyarakat, tercipta karena dipicu oleh banyak faktor. Salah satunya dipicu kondisi masyarakat yang semakin eksklusif. Hal itu bisa dilihat dari cara beragama meraka yang berlebihan dan sulit membangun ruang dialog dengan lingkungannya.

“Masyarakat yang eksklusif semakin diperparah dengan pemahaman agama yang dangkal. Kondisi ini bisa menjangkiti siapa saja. Diawali dari kebencian, lalu melakukan mobilisasi massa, dan berujung kepada aksi teror kekerasan,” ungkapnya. [AM]

 

Sumber: inews.id

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...