HomeBeritaSaling Menguatkan Sesama Penyintas

Saling Menguatkan Sesama Penyintas

ALIANSI IDONESIA DAMAITragedi teror bom di Kedutaan Besar (Kedubes) Australia di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan pada 9 September 2004 menyisakan kenangan pahit bagi korbannya. Sucipto Hari Wibowo ialah salah satunya. Dia masih ingat jelas bagaimana ledakan dahsyat mencederainya hingga menghabiskan hampir setahun masa penyembuhan.

Meskipun demikian, ia menolak untuk menyerah dari musibah. Alih-alih meratapi kondisi kesehatan akibat ledakan Bom Kuningan 2004, Sucipto aktif menggalang persatuan para penyintas dari tragedi tersebut untuk bersama-sama saling menguatkan.

Sucipto menceritakan kisahnya itu pada kegiatan Dialog Interaktif bertema “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 1 Pringsewu, Kabupaten Pringsewu, Lampung, Kamis (8/11/2018). Acara itu diselenggarakan oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA) sebagai ajang untuk memompa semangat ketangguhan generasi muda.

Penyintas Bom Kedutaan Australia - Sucipto.jpg
Penyintas Bom Kedutaan Australia – Sucipto. Foto: AIDA

 

Pria asal Mojokerto, Jawa Timur ini mengatakan bahwa trauma dari aksi teror itu sulit dihilangkan dari pikiran. “Saat kejadian, saya sedang mengendarai sepeda motor. Begitu terkena ledakan bom, sepeda motor saya lepas kendali. Dan, saya duduk di pinggir trotoar sambil menahan rasa sakit. Kepala bagian belakang saya sakit sekali dan telinga saya pekak,” ujarnya.

Dia menggambarkan, ledakan bom di depan Kedubes Negeri Kangguru berdampak pada kerusakan yang sangat parah. Makhluk hidup atau benda mati, baik yang berukuran besar maupun kecil, semuanya yang berada di dekat lokasi ledakan hancur lebur berantakan. Setiap orang yang ada di sekitar tempat kejadian berteriak histeris karena panik. “Tanaman di sekitar ledakan, daun-daunnya berguguran. Saya lihat teman-teman korban rahangnya tidak ada, ada yang matanya kena proyektil berdarah-darah, semua orang berteriak, gaduh sekali. Saya merasakan pusing, sementara keadaan tidak terlihat karena asap tebal,” jelas pria berkacamata itu.

Meksi harus menginap di rumah sakit beberapa pekan, kemudian melanjutkan rawat jalan sepanjang tahun, Sucipto menolak untuk menjadi pribadi pesimis dan lemah. Dia kembali bersemangat menatap kehidupan karena menyadari masih banyak anugerah Tuhan yang tercurah untuknya. “Pada tahun 2005, alhamdulillah saya dikaruniai anak. Itu yang membuat saya kembali semangat menjalani hidup,” ungkapnya.

Sucipto mengatakan bahwa dirinya ikhlas menerima semua kejadian yang telah ditakdirkan oleh Allah Swt. karena tidak ada satu pun peristiwa di dunia ini tanpa kehendak-Nya. Ia merasa bersyukur lantaran ledakan bom tidak sampai merenggut nyawanya.

Beberapa waktu setelah kondisi kesehatannya membaik, dia bersama beberapa penyintas Bom Kuningan 2004 menginisiasi berdirinya Forum Kuningan, wadah silaturahmi orang-orang yang menjadi korban dari tragedi tersebut. Saat bertemu dengan para korban, Sucipto semakin menyadari bahwa luka yang dideritanya tidak lebih berat ketimbang rekan-rekannya senasib. Beberapa korban hanya tinggal nama akibat bom, dan lebih banyak lagi yang harus rela mengalami cacat seumur hidup. Dia mengharapkan dari paguyuban yang terbentuk, para korban bisa saling menguatkan, memberi semangat untuk terus mencapai prestasi dalam hidup.

“Itu yang menguatkan kita semua, bahwa kita harus ikhlas, dan ini musibah. Masih banyak yang lebih parah dari kita, dan kita saling membangun semangat di antara kita semuanya,” kata dia.

Sejak tahun 2015 Sucipto diamanahi untuk memimpin Yayasan Penyintas Indonesia (YPI), organisasi yang mewadahi para korban aksi teror di seluruh Indonesia. Bersama para penyintas terorisme serta AIDA, Sucipto dan rekan-rekan melakukan berbagai upaya untuk memperjuangkan pemenuhan hak-hak korban terorisme oleh Negara.

“Banyak derita korban yang harus kita bantu. YPI bersama AIDA terus memperjuangkan hak-hak korban yang belum terpenuhi, seperti medis dan segala macam. Di DPR kita juga berjuang untuk (mengusulkan perbaikan) undang-undangnya. Jadi, menurut saya, kita bermanfaat bagi orang lain itu lebih baik,” ujarnya.

Dalam kegiatan di SMAN 1 Pringsewu, Kabupaten Pringsewu, Sucipto berpesan kepada siswa-siswi peserta Dialog Interaktif agar tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Bila kekerasan terus berlanjut menurutnya justru akan menimbulkan korban-korban lainnya. “Mari kita saling menghargai dan menghormati sesama. Jangan balas kekerasan dengan kekerasan. Ikhlas memaafkan. Ciptakan rasa damai untuk diri sendiri maupun orang lain,” pungkasnya. [AH]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...