HomeTajukMenjaga Kedamaian di Tahun...

Menjaga Kedamaian di Tahun Politik

ALIANSI INDONESIA DAMAI – Saat ini bangsa Indonesia tengah diuji. Iklim politik jelang Pemilihan Umum 17 April 2019 cenderung membelah bangsa ini ke dalam segregasi kawan dan lawan. Semakin hari makin jamak perbincangan politik dengan menggunakan bahasa “kami” melawan “mereka” dan bukan bahasa “kita” sebagai bangsa. Hari ini, perbedaan dan pertentangan dipertontonkan sedemikian vulgar sehingga seakan-akan tidak ada lagi hal yang menyatukan.

Saban hari kegaduhan politik mewarnai ruang publik sehingga masyarakat juga ikut terprovokasi masuk ke jurang perpecahan “kawan dan lawan”. Ujian bangsa ini makin kompleks ketika penyebaran informasi bohong marak terjadi. Tidak main-main, kabar bohong bisa menciptakan konflik dan kegaduhan, seperti kondisi kehidupan sosial kita saat ini baik di dunia nyata maupun maya. Tak heran bila Al-Quran menyebutkan bahwa fitnah lebih keji dan berbahaya dari pembunuhan (QS. 2: 191). Dalam pembunuhan, pelaku dan korbannya sangat spesifik. Namun, kejahatan fitnah tak hanya bisa membunuh karakter seorang individu tetapi juga mematikan nalar jernih publik secara umum.

Dalam situasi kehidupan sosial yang saling kubu-kubuan saat ini, semua pihak harus saling menahan diri, mencegah berbagai hal yang bisa memicu perpecahan. Bila perdamaian sudah terkoyak, dampaknya akan sangat merugikan bangsa. Indonesia pernah mengalaminya pada masa awal Reformasi ketika konflik komunal meletup di Maluku dan Sulawesi Tengah.

Ilustrasi Perdamaian Dunia
Ilustrasi Perdamaian Dunia. Image: Kompasiana

Rentetan kekerasan terorisme juga kemudian menyusul konflik-konflik tersebut, mulai dari Bom Bali I pada 2002, Bom Bali II pada 2005, Bom JW Marriott pada 2003, Bom Kedubes Australia pada 2004, Bom Marriott dan Ritz Carlton pada 2009, Bom Thamrin 2016, Bom Kampung Melayu pada 2017, hingga yang belum lama berlalu adalah Bom Surabaya 2018. Ratusan nyawa telah melayang dan banyak lainnya mengalami penderitaan yang tak terperi akibat aksi teror. Bagi korban langsung, tragedi terorisme menyematkan kecacatan untuk seumur hidup atau setidaknya bekas luka atau penurunan daya fisik serta trauma. Bagi korban tak langsung, yaitu ahli waris atau keluarga yang ditinggalkan, terorisme telah menciptakan perempuan-perempuan menjadi janda, para suami menjadi duda, anak-anak menjadi yatim piatu, serta penderitaan hidup yang lama.

Derita para korban adalah cermin nyata dari hilangnya perdamaian. Cukuplah penderitaan korban menjadi pembelajaran bagi bangsa ini.

Di samping itu, bila konflik benar-benar terjadi akibat dari ketiadaan upaya menjaga perdamaian tidak hanya dalam konteks perpolitikan, sungguh hal itulah sebenarnya yang dinanti sebagian ekstremis/teroris, yang menghendaki keruntuhan tatanan kenegaraan modern, termasuk Indonesia. Pengakuan sebagian mantan pelaku terorisme, konflik horizontal adalah kunci pemicu terjadinya perang untuk melegitimasi aksi-aksi teror. Karena dalam keadaan konflik mereka bisa menciptakan masyarakat basis (qaidah aminah) dan mereka leluasa untuk mengundang simpati para kombatan pendukung mereka, termasuk dari luar negeri.

Oleh karena itu paradigma politik yang harus dikembangkan adalah bahwa politik harus mendewasakan masyarakat dalam berdemokrasi, sesuai dengan tujuan pemilu, yaitu untuk menghadirkan pemimpin yang adil dan mampu mewujudkan kemakmuran bagi bangsa dan negara. Para elite hendaknya menunjukkan kehangatan dan jalinan persaudaraan meskipun berbeda sikap politik. Partai politik dan pendukungnya juga semestinya tidak memproduksi informasi bohong yang bersifat menghasut, menebar kebencian dan permusuhan. Para tokoh agama dan tokoh masyarakat pun diharapkan dapat mengawal pemilihan umum agar berlangsung adil dan lancar.

“Marilah kita menjaga perdamaian. Perdamaian bukan hanya tanggung jawab korban atau mantan pelaku saja, tapi perdamaian adalah tanggung jawab kita semua.” Demikian kata seorang korban Bom Kedubes Australia tahun 2004.

 

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...