HomeBeritaLPSK Pastikan Negara Bertanggung...

LPSK Pastikan Negara Bertanggung Jawab Terhadap Korban Bom Sibolga

Aliansi Indonesia Damai – Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, Edwin Partogi Pasaribu, mengatakan bahwa pihaknya siap menjamin biaya pengobatan korban ledakan bom di Sibolga yang terjadi pada Rabu (13/3/2019) dini hari. Pemberian bantuan medis kepada korban terorisme sesaat setelah kejadian, kata Edwin, adalah amanat Undang-Undang (UU) No. 5 Tahun 2018 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme serta UU No. 31 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban.

Untuk keperluan pemberian bantuan tersebut, LPSK telah bersurat kepada Kepolisian Daerah Sumatera Utara dan juga ditembuskan ke Polri dan Densus 88. Dilansir Republika, tujuan dari korespondensi tersebut di antaranya untuk mendapatkan kejelasan informasi jumlah korban.

Secara paralel LPSK juga mengirim surat ke rumah sakit di Sumatera Utara di mana korban dirujuk untuk dirawat. Edwin mengatakan bahwa LPSK ingin memastikan bahwa korban Bom Sibolga mendapatkan pelayanan medis yang layak, tanpa harus menunggu adanya jaminan kepada pihak rumah sakit. Langkah ini diambil untuk mewujudkan kehadiran Negara terhadap para korban terorisme.

Informasi yang berkembang menyebutkan bahwa korban Bom Sibolga hingga kini berjumlah dua orang, seorang warga sipil dan satu lainnya merupakan anggota kepolisian.

Perwakilan LPSK pada Minggu (17/3/2019) mengunjungi korban atas nama Zulkarnain yang dirawat di RS FL Tobing Sibolga. Dilansir Gatra, Kepala Biro Penelaah Permohonan LPSK, Drama Panca Putra, membesuk Zulkarnain untuk memastikan pelayanan medis yang layak telah dilakukan pihak rumah sakit untuk mengobati lukanya. “Maka itu LPSK hadir di Kota Sibolga untuk meyakinkan pasien bahwasanya biaya dalam rangka pemulihannya menjadi tanggung jawab LPSK,” ujarnya.

Sebelumnya, Rabu (13/3/2019) terduga teroris Asnita alias Nita meledakkan bom hingga membunuh diri dan seorang anak balitanya, melukai seorang warga dan seorang anggota polisi, serta merusak ratusan rumah di sekitar titik ledakan. Nita nekat meledakkan diri setelah sehari sebelumnya suaminya, Husain alias Abu Hamzah, ditangkap Densus 88 Antiteror karena dugaan keterlibatan dengan kelompok teroris dan rencana aksi terorisme. Selama berjam-jam polisi mengepung kediaman Abu Hamzah dan bernegosiasi dengan Asnita agar menyerahkan diri namun perempuan itu menolak.

Para warga di radius 200 meter dari rumah Abu Hamzah telah diminta untuk mensterilkan lokasi untuk meminimalisir korban manusia dari potensi ledakan.

Kompas.id melaporkan bahwa Wali Kota Sibolga, Syarfi Hutauruk, menyatakan telah melakukan pendataan rumah yang rusak akibat ledakan. Pihaknya mengelompokkan rumah-rumah yang rusak ke dalam tiga kategori, yaitu rusak berat, rusak sedang, dan rusak ringan. Total rumah yang rusak, kata Syarfi, ada 151 unit. Sebanyak 171 keluarga menghuni rumah-rumah tersebut.

Selaras dengan itu, Presiden Joko Widodo, memberikan bantuan total Rp 1,45 miliar untuk pembangunan kembali rumah warga yang rusak. Bantuan diberikan saat Presiden berkunjung ke Sibolga, Minggu (17/3/2019). Rinciannya, warga yang rumahnya mengalami kerusakan yang tergolong berat mendapatkan Rp 25 juta. Rumah yang rusak sedang diberikan Rp 5 juta, sedangkan yang rusak ringan diganti Rp 3 juta.

Kesaksian Korban

Zulkarnain mengalami luka di badan dan kepala akibat ledakan. Saat kejadian, ia sedang mendampingi kepala desa dan polisi untuk memeriksa keadaan rumah terduga teroris. “Saya mau buka jendela itu tapi nggak kebuka. Jadi, mau dicoba dibuka sama kepolisian itu, setelah itu meledak,” ujarnya seperti disiarkan Kompas TV, Jumat (15/3/2019).

Zulkarnain mengingat, saat bom meledak tercipta api yang sangat besar dan banyak pasir beterbangan. Ia yang mengaku masih ada hubungan kerabat (paman) dengan Abu Hamzah, sudah tak mengingat lagi peristiwa yang terjadi setelahnya.

Setelah ledakan besar terjadi pada Rabu dini hari, warga terkejut ketika kembali ke lokasi melihat rumah mereka telah luluh lantak dan hancur lebur berantakan. Dari ratusan rumah itu hanya tampak puing-puing rumah berupa tembok, papan dan tiang kayu di permukiman padat yang didominasi nelayan itu. Di pusat ledakan, tampak lubang berdiameter 5 meter dengan kedalaman 1,5 meter.

Pada radius 30 meter hingga 100 meter dari lokasi ledakan, kerusakan rumah juga cukup parah. Sebagian atap dan tembok rumah roboh. Beberapa rumah dan perabotan rumah tangga tampak terbakar. Ratusan rumah lainnya juga rusak ringan, seperti plafon yang roboh, sebagian atap copot  dan kaca pecah. Permukiman di sekitar lokasi ledakan bom bunuh diri itu hancur lebur dan para korban tampak mengais sisa-sisa barang berharga yang bisa diambil setelah kejadian.

Yulia Ningsih, warga Gang Serumpun yang rumahnya berada di depan rumah Abu Hamzah, tidak menyangka tetangganya terlibat dalam jaringan terorisme. “Istri Abu yang kami kenal dengan nama Uma memang pendiam dan tertutup. Namun saya tidak pernah berpikir sama sekali dia bergabung dengan kelompok teroris,” katanya.

Yulia mengatakan, tetangga sekitar pun tak ada yang menyangka Uma tega melakukan bom bunuh diri dan menghancurkan rumah-rumah tetangganya. Rumah Yulia pun ikut hancur lebur. “Selama tiga tahun kami sama sekali tidak pernah mengobrol. Uma Abu selalu di dalam rumah dan menutup pintu dan jendela. Ia hanya keluar saat hendak ke warung. Kalau anaknya bermain ke teras rumah kami, Uma Abu langsung menggendongnya dan masuk ke rumahnya,” kata dia.

Setelah peristiwa itu, polisi terus memburu jaringan Abu Hamzah. Polisi berhasil menangkap tiga terduga teroris lain, di antaranya AK alias Ameng alias AH dan P alias Ogel di Sibolga. Sementara satu orang lain berhasil ditangkap di wilayah Bagan Kota, Kecamatan Bangko, Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Selain itu, polisi juga telah menemukan 300 kilogram bahan peledak dan lima buah bom yang sudah dirakit di rumah Abu Hamzah dan siap diledakkan. [AH]

Keyword: #KorbanBomSibolga #BomSibolga #LPSK #AbuHamzah

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 1)

Setiap orang butuh rumah. Baik dalam arti fisik, tempat di mana ia berasal dan menuju pulang, maupun secara substantif ruang di mana ia selalu diterima dan dicintai oleh keluarga. Choirul Ihwan, pria asal Madiun, Jawa Timur, ialah satu dari sekian orang yang merasa kehilangan rumah itu sejak...

Syariat Allah Memerintahkan Kebaikan

Aliansi Indonesia Damai- Syariat Allah Swt itu memerintahkan umat manusia untuk berbuat kebaikan bukan keburukan atau kejahatan. Siapa pun yang melakukan kejahatan atau keburukan maka telah melanggar syariat Allah Swt. Demikian pernyataan mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery...

Tangguh Menghadapi Ujian

Oleh Nur Aliyah, pengasuh Ponpes Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten* Dalam kehidupan ini, ujian dan cobaan adalah keniscayaan. Ia datang silih berganti, tanpa pernah memandang waktu, usia, atau status sosial. Sebagai muslim, kita diajarkan untuk tidak sekadar pasrah, melainkan tangguh. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: ketangguhan macam apa yang seharusnya...