HomeBeritaSiswa SMA Al-Khairiyah: Generasi...

Siswa SMA Al-Khairiyah: Generasi Muda Harus Terbuka

Aliansi Indonesia Damai– Dalam menjalani kehidupan, seseorang mungkin tak pernah berharap hal buruk terjadi menimpa dirinya. Namun demikian, jika keadaan itu datang, rasa ikhlas dan menerima musibah dengan apa adanya merupakan langkah awal untuk bangkit dan menemukan jalan yang lebih baik.

Demikian pesan yang disampaikan keluarga korban aksi bom terorisme saat berbagi kisah dalam kegiatan Dialog Interaktif bertema “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di beberapa sekolah di Kota Serang pada pertengahan Januari lalu. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA) itu bertujuan untuk mendorong semangat generasi muda agar menanamkan jiwa ketangguhan dalam menghadapi berbagai tantangan. AIDA mengajak para siswa di lima sekolah di Serang untuk mengambil pembelajaran (ibroh) dari kisah ketangguhan korban dan mantan pelaku kekerasan.

Saat korban terorisme menceritakan kisahnya, puluhan siswa terlihat menyimak dengan saksama kisah-kisah ketangguhan mereka. Beberapa mereka tampak menangis dan mengusap air mata saat mengetahui penderitaan serta dampak lainnya yang dialami korban akibat aksi terorisme. Salah satu korban bom yang dihadirkan AIDA bernama Reni A. Sitania. Reni, sapaan akrabnya, ialah korban tidak langsung dari aksi teror bom di Jl. HR Rasuna Said Kuningan, Jakarta Selatan pada 9 September 2004. Kakaknya, Martinus Sitania, menjadi salah satu korban meninggal dunia pada tragedi di depan Kedutaan Besar Australia di Jakarta itu.

Saat bom meledak, almarhum Martinus sedang berkendara motor di salah satu ruas jalan terpadat di ibu kota tersebut. Kekuatan ledakan menghancurkan tubuhnya. Reni sempat frustrasi dan terpuruk, tidak bisa menerima kepergian sang kakak. Pasalnya, bagi Reni Martinus adalah sosok saudara yang paling peduli terhadapnya. Saat ia menghadapi cobaan, kakaknya itu yang mendukungnya dan memberikan bantuan secara signifikan. Bertahun-tahun Reni memendam kesedihan atas meninggalnya sang kakak.

Namun, berkat dorongan keluarga, ia mampu menjadi kuat dan bangkit dari keterpurukannya. “Keluarga saya telah memaafkan para pelaku,” ujar Reni saat bercerita di hadapan 50 siswa SMA Al-Khairiyah Kota Serang.

Di sisi lain, AIDA juga menghadirkan Kurnia Widodo, seorang mantan pelaku aksi kekerasan terorisme. Di hadapan siswa ia juga mengisahkan masa lalunya yang pernah terjebak dalam paham ekstremisme dan melegitimasi segala aksi kekerasan serta terorisme. Setelah menyadari aksi terorisme salah, ia meminta maaf kepada seluruh korban aksi terorisme. Karena itu ia mengingatkan generasi muda untuk terus menjaga perdamaian dan bersikap menghormati fakta adanya perbedaan.

Dari kisah Kurnia itu, puluhan siswa belajar akan arti pentingnya memelihara kedamaian dan menghindari perilaku kekerasan. Sikap itu ditandai dengan menerima dan menghargai perbedaan dalam kehidupan sehari-hari. “Sebagai generasi muda, saya belajar arti penting menghargai perbedaan dan mulai bersikap untuk terbuka,” pangkas seorang siswa.

Tidak hanya dilandasi sifat terbuka dan mau menerima perbedaan, para siswa juga merasakan empati kepada korban aksi terorisme. Beberapa siswa matanya tampak sembab mendengar kisah Reni yang menangis saat mengisahkan kronologi aksi terorisme yang menimpa kakaknya.

Seorang siswa mengaku dirinya bertekad menebarkan pesan perdamaian dan berusaha untuk menumbuhkan semangat ketangguhan. “Saya belajar kisah ketangguhan korban, dia yang berani memaafkan pelaku terorisme,” tegas siswa perempuan yang berjilbab putih itu.

Para siswa terlihat aktif saat mengikuti kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”. Dari kegiatan ini generasi muda diharapkan mampu untuk menguatkan spirit ketangguhan dalam diri serta memahami pentingnya perdamaian baik di lingkungan sekolah maupun tempat tinggal mereka. [FS]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman...

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016,...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....