HomeInspirasiSuara Mantan PelakuDari Jalan Kekerasan, Menjadi...

Dari Jalan Kekerasan, Menjadi Duta Perdamaian

“Semua orang pernah berbuat salah, tetapi sebaik-baik manusia adalah mereka yang mengakui kesalahannya lalu bertobat.”

Kalimat inilah yang pantas disematkan kepada Kurnia Widodo, seorang mantan pelaku terorisme yang kini telah bertobat. Pria yang akrab disapa Kurnia ini memiliki pengalaman hidup yang tidak biasa. Pasalnya, dia pernah terlibat dalam gerakan terorisme. Namun demikian, setelah melalui proses perenungan yang cukup panjang, ia memperoleh hidayah dan memilih jalan perdamaian.

Komitmen Kurnia untuk menebar kedamaian telah teruji. Saat ini dia bahkan aktif menyuarakan perdamaian ke masyarakat bersama Aliansi Indonesia Damai (AIDA). Dalam berbagai kesempatan kegiatan AIDA, ia berbagi pengalaman hidup untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya menjaga kedamaian.

Kurnia mengisahkan, ketertarikannya pada aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama telah muncul sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Dia sering berdialog dengan salah seorang teman sekelasnya tentang paham-paham kekerasan. Dia merasa tertarik dengan diskusi itu karena materi yang dibahas tidak pernah ia dapatkan dari pelajaran resmi di sekolah.

Pemahaman kekerasan yang ia baca semakin mendapatkan tempat di pikirannya, sebab pada masa itu beredar informasi adanya penindasan terhadap umat Islam di Afghanistan, Filipina Selatan, dan Palestina. Kondisi demikian membuat Kurnia semakin bersemangat untuk membalas ketidakadilan yang dialami umat Islam di berbagai belahan dunia, dengan menciptakan ketidakadilan terhadap pihak-pihak yang diasumsikan sebagai musuh Islam. Atas ajakan teman sekelasnya, ia akhirnya berbaiat untuk setia kepada organisasi yang dinyatakan terlarang oleh pemerintah, yaitu Negara Islam Indonesia (NII). Ia pun rajin mengikuti forum kajian keagamaan kelompok NII di Lampung.

Selepas SMA, Kurnia melanjutkan kuliah di salah satu universitas terkemuka di Kota Bandung dan mengambil jurusan Teknik Kimia. Selama kuliah, dia tetap memperjuangkan misi kelompoknya. Bahkan, dia menggunakan pengetahuannya tentang ilmu kimia untuk membuat bahan peledak yang akan dipakai untuk serangan kepada pemerintah Indonesia, pihak yang dianggap sebagai musuh oleh kelompoknya.

“Bagaimana bisa mengalahkan musuh (pemerintah), sementara pasukannya sedikit? Akhirnya terpikir tentang perang dengan menggunakan bom. Kita tidak berperang langsung secara head to head, tetapi menyerang kepentingan mereka dengan bom,” ucapnya mengenang kejahatan kelompoknya. Meskipun telah tiga kali melakukan uji coba bom dan hampir membuatnya meninggal dunia, Kurnia tetap melanjutkan percobaan itu demi tercapainya tujuan.

Setelah cukup lama berkecimpung di dunia kekerasan, Kurnia dan kelompoknya akhirnya tertangkap di kawasan Cibiru, Bandung. Di persidangan, ia terbukti bersalah melanggar Undang-Undang Tentang Tindak Pidana Terorisme, dan divonis enam tahun penjara.

Kehidupan di penjara justru menjadi gerbang Kurnia untuk keluar dari jalan kekerasan. Berbekal nalar kritis sebagai orang terpelajar, ia memanfaatkan waktu di penjara untuk menimba ilmu kepada senior-seniornya, termasuk kepada narapidana kasus terorisme yang telah berubah, seperti Ali Imron (terpidana seumur hidup kasus Bom Bali 2002). Sejalan dengan Ali Imron, sedikit demi sedikit Kurnia mulai menyadari kekeliruan kelompoknya dalam memahami ajaran jihad. Di balik jeruji besi pula ia menemukan persaingan yang luar biasa keras antarfaksi kelompok teroris. Ia mengaku pernah dikafirkan oleh sesama narapidana teroris karena pemahaman keagamaannya tidak sejalan.

Hingga pada akhirnya, Kurnia sampai pada suatu kesimpulan bahwa doktrin yang diajarkan dalam kelompoknya selama itu ternyata mengandung banyak kecacatan. Setahap demi setahap, pandangan keagamaannya mulai berubah. Ia mengkritisi pemikiran teman-temannya yang mengharamkan salat di masjid yang ada di lembaga pemasyarakatan atau masjid yang didirikan pemerintah. Ia juga mengkritisi betapa mudahnya golongan itu mengkafirkan sesama muslim hanya karena berbeda pandangan.

Puncak pertobatan Kurnia terjadi ketika ia dipertemukan dengan salah seorang korban Bom JW Marriott 2003. Korban tersebut menceritakan bahwa setelah terkena ledakan bom ia merasakan penderitaan yang luar biasa akibat luka bakar di atas 60 persen, dan harus dirawat di rumah sakit untuk jangka waktu yang lama. Dengan kondisi itu, korban tidak dapat lagi beraktivitas normal sebagaimana mestinya.

Hati Kurnia seketika luluh mengetahui penderitaan yang dialami korban. Dia tidak menyangka imbas dari terorisme sangat merugikan orang yang tidak bersalah. “Selama ini kelompok kami tidak pernah memperkirakan dampaknya untuk rakyat sipil. Ketika mendengar peristiwa bom justru kami berucap takbir. Tetapi setelah mendengar kisah ini, empati saya muncul. Ternyata banyak yang menderita karena kami. Saya merasa bersalah dan minta maaf atas nama ikhwan,” tuturnya.

Dalam berbagai kegiatan AIDA, Kurnia berpesan kepada masyarakat agar senantiasa melestarikan perdamaian. Ia sendiri sebagai seorang mantan anggota kelompok teroris telah menyesal dan meminta maaf kepada para korban aksi terorisme. Ia mengharapkan agar situasi di Indonesia selalu aman dan damai, tanpa ada kekerasan terorisme seperti yang pernah dilakukan kelompoknya dahulu. [FAH]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru)...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026 Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam...

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menekankan pentingnya umat Islam menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan. Dalam Islam, kata dia, dikenal tiga jenis persaudaraan (ukhuwah) yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). “Kalau kita tidak bersaudara sama-sama...

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian Opini Publik untuk Demokrasi dan Pembangunan LPPM Universitas Hasanuddin Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 31 Agustus 2026 Dalam belasan tahun terakhir, kehidupan kolektif bangsa Indonesia memperlihatkan gejala yang patut dicermati, yakni menguatnya kecenderungan antisains...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...