2 days ago

Pelajar Perlu Mengenali Ciri Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Kurnia Widodo, mantan pelaku terorisme, mengimbau pelajar perlu mengenali ciri-ciri orang yang terpapar paham ekstrem sehingga bisa terhindar dari pengaruhnya. Menurutnya, mengenali seseorang yang sudah terpapar paham ekstrem tidak bisa melalui penampilannya, baik pakaiannya maupun penampilan fisiknya seperti berjenggot, berjidat hitam atau bercadar.

“Kita tidak bisa mengidentikkannya dengan pakaian dan penampilan fisiknya karena orang bercadar dan berjenggot belum tentu memiliki pemahaman ekstrem atau radikal. Untuk mengenalinya perlu dilihat dari perilaku dan pemikirannya,” ujar Kurnia dalam kegiatan Dialog Interaktif: Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh di SMAN 1 Samarinda pada 2 Mei lalu.

Baca juga Memilih Circle Perteman yang Damai

Dialog Interaktif diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di 5 sekolah Kota Tepian Mahakam untuk mengampanyekan pentingnya perdamaian dan membangkitkan semangat ketangguhan pelajar. Kegiatan tersebut menghadirkan Kurnia sebagai mantan pelaku terorisme, serta dua korban terorisme, yaitu Dwi Siti Rhomdoni (korban Bom Thamrin 2016) dan Pandu Dwi Laksono (korban Bom Kampung Melayu 2017) untuk berbagi kisah pengalaman hidupnya.

Kurnia memaparkan sejumlah ciri seseorang yang sudah terpapar paham ekstrem. Di antaranya, mereka sangat mudah mengafirkan orang lain yang berbeda pendapat. Mereka juga menganggap negara Indonesia sebagai thogut (setan) dan aparatnya sebagai anshorut thogut (tentara setan).

Baca juga Bijak Menggunakan Teknologi Informasi

“Mereka juga biasanya sering menggaungkan khilafah Islamiyah, daulah Islam (negara Islam) dan membid’ahkan. Mereka pun intoleran dengan sesama pemeluk agama Islam apalagi dengan pemeluk agama lain,” tutur dia.

Pria berkaca mata tersebut mengungkapkan bahwa sudah ada pelajar yang terpapar pemikiran ekstrem seperti di Kota Medan, Sumatera Utara. Pelajar yang baru lulus SMA tersebut, kata dia, melakukan penusukan terhadap pastor yang sedang berceramah di Gereja Katolik St. Yoseph Medan. “Bahkan anak itu juga menjadi admin grup telegram Islamic State of Iraq and Syria (ISIS),” paparnya.

Baca juga Menciptakan Lingkungan Sekolah Nirkekerasan

Kurnia mengatakan, apabila menemui pelajar atau anak muda seperti itu maka perlu diingatkan menggunakan logika dan narasi kisah korban dan mantan pelaku terorisme. “Narasi kisah korban dan mantan pelaku sudah cukup untuk mengingatkannya. Bila tak mampu menghadapinya maka bisa lapor ke pihak berwajib,” paparnya.

Ia bersyukur dirinya sudah berubah dan tak lagi berpikiran ekstrem seperti dahulu. Kini ia sudah menjadi duta perdamaian bersama AIDA untuk mengampanyekan pentingnya perdamaian ke publik. “Setelah menjadi duta perdamaian saya merasa lega dan semakin berempati pada korban. Saya juga bisa mengenal dan merasakan keberagaman Indonesia, sehingga saya semakin cinta dan punya tanggung jawab untuk merawatnya. Jangan sampai Indonesia terpecah,” pungkasnya. [AS]

Baca juga “Betapa Repotnya Hidup di Lingkungan Tak Damai”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *