HomeBeritaMenyemai Spirit Ketangguhan Penyintas

Menyemai Spirit Ketangguhan Penyintas

Aliansi Indonesia Damai – Di tengah tingginya polarisasi dan segregasi sosial di masyarakat sebagai dampak dari panasnya suhu politik nasional pada Pileg dan Pilpres 2019 lalu, sejumlah aktivis mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung berupaya mempromosikan perdamaian. 

Kampanye perdamaian tersebut dilakukan melalui acara Diskusi & Bedah Film “Tangguh” yang digelar oleh mahasiswa Unpas bekerjasama dengan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Masjid Ulul Ilmi Kampus Unpas, Kamis (2/5). Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa Bandung untuk Indonesia yang lebih damai.

Film “Tangguh” mengisahkan kebangkitan sejumlah korban aksi terorisme di Indonesia. Di antaranya merupakan korban Bom Bali 2002, korban bom di Hotel JW Marriott Jakarta 2003, dan korban Bom Kuningan Jakarta 2004. Dikisahkan dalam film bahwa serangan teror menimbulkan penderitaan dan berbagai kerugian bagi korban. Di antara korban, ada yang tubuhnya terbakar hingga 60 persen. Beberapa korban terpaksa menggunakan mata palsu karena bola matanya rusak terkena bom. Ada pula korban tidak langsung, yang harus berjuang menjadi tulang punggung keluarga lantaran suaminya meninggal dunia akibat bom. Selain luka fisik, aksi teror juga menyebabkan trauma panjang bagi korban. Dampaknya juga dirasakan oleh anak-anak korban.

Dalam film tersebut, beberapa penyintas berbagi pengalaman tentang makna keikhlasan dan kesabaran. Kisah demi kisah memperlihatkan ketabahan seorang ibu saat harus membesarkan anaknya seorang diri. Tak hanya itu, para korban memberikan maaf kepada mantan pelaku terorisme dengan kelapangan hati. Hal itu memperlihatkan kebesaran jiwa dan hati mereka terhadap orang lain, bahkan kepada mereka yang pernah berbuat salah.

“Film ini mengajarkan kepada saya arti pentingnya perdamaian, dan tidak melakukan tindakan kekerasan.”

Tampak antusiasme dari peserta ketika menonton film tersebut. Salah seorang aktivis mahasiswa Unpas mengapresiasi film tersebut. Melalui Film “Tangguh” ia bisa memahami betapa kedamaian merupakan kebutuhan hidup setiap orang. “Film ini mengajarkan kepada saya arti pentingnya perdamaian, dan tidak melakukan tindakan kekerasan,” ujar mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia itu. Ia menambahkan, “Dari film tersebut, saya mendapat pembelajaran dari korban bagaimana untuk tabah dan sabar dalam kehidupan.” 

Setelah menonton, sejumlah mahasiswa mengaku belajar arti kesabaran dan ketangguhan dalam hidup. Kisah perjuangan para korban bom yang bangkit dari keterpurukan dan memilih jalan perdamaian memberikan inspirasi kepada mereka. 

Seorang peserta lain mengatakan, Film “Tangguh” penting ditonton oleh generasi muda. Pasalnya, kisah mantan pelaku terorisme dan korbannya dinilai relevan sebagai narasi untuk mengampanyekan perdamaian di kalangan pemuda. Katanya, “…Bahwa film ini penting, karena menyadarkan kami pentingnya menjaga perdamaian. Dan, dari sini saya akan mengajak teman-teman saya, bahwa perdamaian lebih indah daripada kekerasan.” 

Kegiatan tersebut dihadiri oleh 50 lebih aktivis mahasiswa dari berbagai jurusan: Bimbingan Konseling, Sejarah, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Kegiatan difasilitasi oleh dua aktivis mahasiswa Unpas yang pernah mengikuti kegiatan AIDA sebelumnya. [FS]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan...

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...