Home Suara Korban Pesan Terakhir Ayah Kepada Sang Anak
Suara Korban - 30/07/2019

Pesan Terakhir Ayah Kepada Sang Anak

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan seseorang yang sangat kita cintai bukanlah perkara yang mudah. Terlebih bila seorang itu meninggal dunia dengan cara yang tidak lazim karena menjadi sasaran dalam sebuah serangan terorisme yang sangat tak “manusiawi”. Hal itulah yang pernah dirasakan oleh Yuni Arsih 15 tahun lalu. Ia harus rela menjadi ibu sekaligus bapak bagi anak semata wayangnya, Febri Renaldi, setelah suaminya, Suryadi, menjadi salah satu korban meninggal dalam sebuah ledakan bom bunuh diri di Kedutaan Besar Australia, 9 September 2004 silam.

Pagi itu tak seperti biasanya, anak kecil Yuni yang selalu bersemangat ketika hendak berangkat ke sekolah Taman Kanak-kanak (TK) tiba-tiba berperilaku aneh. Ia mendadak rewel dan tidak mau ke sekolah. Ia juga melarang ayahnya berangkat bekerja. Melihat tingkah aneh anaknya, Yuni berusaha menenangkan dan membujuknya agar mau ke sekolah. Yuni pun tetap mengantarkan anaknya ke sekolah, namun sesampainya di sekolah ia masih saja tetap menangis. 

Suryadi, yang kala itu bekerja sebagai pekerja kebun di Kedutaan Besar Australia, Jakarta tidak menanggapi berlebih kerewelan anaknya dan tetap memutuskan untuk berangkat bekerja. Demikian halnya dengan Yuni, ia menganggap tingkah anaknya sebagai kerewelan biasa sebagaimana anak-anak pada umumnya. Ternyata, tangisan Febrinya itu, menjadi semacam isyarat bahwa akan terjadi peristiwa yang amat menyedihkan bagi kehidupan keluarganya. 

Suasana seusai ledakan bom di depan Kedubes Australia 2004

Peristiwa tak terduga pun terjadi. Sekitar pukul 10.15 WIB, sebuah mobil box dengan muatan bom besar meledak tepat di depan gedung Kedutaan Besar Australia. Menurut keterangan saksi yang Yuni dapatkan, Suryadi yang kala itu tengah merapikan taman di halaman depan gedung terlempar hingga mengalami luka parah di bagian kepala. Suryadi juga mengalami luka bakar dan serpihan-serpihan bom menancap di tubuhnya. 

Sementara itu, setelah mengantar anaknya ke sekolah, tak seperti biasa Yuni tiba-tiba merasa ingin sekali merapikan rumah. Ia membersihkan ruangan demi ruangan seolah-olah akan ada hajatan besar di rumahnya. Setelah rumah itu rapi, ia bersantai sambil menyalakan televisi. Tak disangka-sangka, tayangan televisi pada saat itu tengah memberitakan ledakan bom bunuh diri yang terjadi di tempat suaminya bekerja. 

Yuni shock dan sangat khawatir akan keadaan sang suami. Ia menelfon suaminya berkali-kali namun tak diangkat. Tak lama setelah itu, ia mendapatkan telfon dari pihak Kedubes bahwa sang suami menjadi salah satu korban ledakan tersebut. Yuni diminta membawa berkas-berkas yang menunjukkan identitas suami dan keluarganya. Ketika itu, Yuni merasa sangat terpukul. “Suami saya yang berangkat mencari nafkah dalam keadaan sehat justru pulang tinggal nama,” ungkapnya parau menahan tangis.

Pada sekitar pukul 20.00 malam, jenazah Suryadi dipulangkan dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) menuju rumah duka dengan menggunakan mobil jenazah. Yuni dan anaknya menunggu di rumah. Anaknya yang sejak pagi sudah rewel dan menangis, tertidur pulas dan kelelahan dalam pelukannya. Yuni pun meminta agar ambulan tidak membunyikan sirine. Ia tidak mau anaknya tahu bahwa yang datang adalah sang ayah yang telah pergi selama-lamanya. Ia sangat sedih, namun melihat buah hatinya yang tengah tertidur pulas, Yuni bertekad untuk kuat menghadapi semua yang terjadi. “Saya sangat sedih, namun saya harus kuat demi anak saya,” tuturnya.  

Beberapa hari pascakejadian, saat Yuni tengah merapikan tempat belajar anaknya, ia menemukan sebuah pesan dalam sebuah buku belajar milik anaknya. Pesan itu ditulis oleh Suryadi sebelum tragedi bom tersebut. Dalam tulisan itu, Suryadi menitipkan pesan terakhir kepada anaknya yang kala itu berumur lima tahun.

“Febri Renaldi anakku, semakin hari semakin besar, dan besar pula keinginannya. Tapi aku sebagai ayah hanya dapat menghasilkan uang yang pas buat makan saja. Anakku, doakan ayahmu ini agar dapat mewujudkan semua keinginanmu dan cita-citamu kelak. Anakku, jadilah anak yang baik, yang berbakti pada orang tua dan taat kepada Tuhan. Jangan kau ikuti ayahmu ini, jangan nakal, dan jangan malu ya.”

Ditinggal meninggal untuk selama-lamanya oleh sang suami bukanlah hal yang mudah bagi Yuni. Kehidupannya berubah drastis karena secara otomatis ia menggantikan suami untuk mencari nafkah bagi keluarga. Meskipun demikian, Yuni pantang berputus asa, karena menurutnya putus asa hanya akan menimbulkan keburukan bagi masa depannya bersama sang anak. Ia yakin Allah selalu hadir dalam setiap langkahnya. Ia juga mengaku telah memaafkan para pelaku, karena baginya setiap orang pasti memiliki masa lalu. [SWD]

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *