HomeBeritaPembelajaran dari Kisah Hidup...

Pembelajaran dari Kisah Hidup Korban dan Mantan Pelaku

“Posisi suami saya tepat di depan area bom meledak. Area kerja suami saya di taman. Jadi serpihan-serpihan bom dan baut-baut yang tajam itu menusuk badannya.”Demikian Yuni Arsih mengenang mendiang suaminya yang meninggal dunia menjadi korban aksi teror bom di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan pada 9 September 2004 silam.

Meskipun peristiwa kelam itu terjadi lebih dari satu dekade lalu, namun bagi Yuni, kepedihan mendalam selalu muncul ketika menceritakan ulang kejadian itu. Ia tak sanggup membendung derai air mata setiap terkenang akan kepergian suami serta berbagai penderitaan hidup yang diakibatkan dari tragedi itu. Dalam kegiatan Dialog Interaktif bertema “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di  SMKN 1 Probolinggo akhir April lalu, ia berbagi kisah tentang perjuangannya membesarkan buah hati.

Yuni mengatakan bahwa kehilangan sosok ayah berdampak negatif terhadap psikologi anaknya. Sebelumnya, sang anak dikenal ramah namun, seminggu setelah tragedi bom, secara drastis anaknya berubah menjadi mudah emosi dan mulai malas untuk bersekolah. Padahal, menurut Yuni, sang anak dianggap pintar karena di usia yang masih dini (4 tahun) telah mampu membaca dan menulis. Sikap sang anak yang berubah dan keengganan untuk belajar menjadi pukulan sendiri bagi Yuni.

Meskipun menanggung beban berat, yaitu membesarkan anak tanpa dukungan suami, Yuni tak kenal lelah untuk mengarahkan anaknya agar menjadi pribadi yang baik. Dalam kegiatan di SMKN 1 Probolinggo, ia berpesan kepada para pelajar agar tekun menuntut ilmu.

“Kalian yang di sini (SMKN 1 Probolinggo), hormatilah orang tua kamu, hormati guru, karena bagaimana pun orang tua kamu nanti akan bangga dengan kamu karena kamu akan sukses. Doa orang tua akan lebih manjur,” ujarnya berpesan.

Dalam kegiatan yang sama, seorang mantan pelaku terorisme yang telah bertobat, Choirul Ihwan, juga dihadirkan untuk berbagi kisah kepada generasi muda. Choirul Ihwan, mantan narapidana kasus terorisme, berbagi pengalaman masa lalunya saat bergelut dalam dunia kekerasan. Ia mengungkap kiprahnya masuk ke dalam jaringan terorisme berawal dari pertemanannya dengan salah seorang aktivis kelompok prokekerasan. Pemahaman keagamaan yang dianutnya berubah menjadi sangat ekstrem selaras dengan doktrin-doktrin yang ditekankan dalam kelompoknya. Pada taraf yang paling parah, ia menyematkan status kafir terhadap siapa pun yang tidak sepaham. “Setelah saya mengafirkan keluarga saya, saya meninggalkan rumah, saya pergi dengan alasan jihad mendirikan negara Islam,” katanya.

Setelah beberapa tahun bergabung dengan kelompok proterorisme, Choirul mengalami kejenuhan. Ia mulai mengevaluasi cara pandang serta sikap keagamaannya selama ini, yang cenderung mudah menganggap orang lain sebagai kafir, bahkan termasuk keluarganya sekali pun.

Lambat namun pasti Choirul mulai meninggalkan jalan ekstremisme. Setelah ditangkap dan dijerat UU Antiterorisme, ia kemudian menjalani masa hukuman di lembaga pemasyarakatan. Proses pertobatannya semakin kuat setelah dipertemukan dengan AIDA yang berkunjung bersama seorang penyintas aksi teror. Choirul mengaku sempat shock dan menangis saat menyaksikan korban mau dan mampu memaafkan orang yang pernah terlibat terorisme seperti dirinya. Akhirnya, pria asal Madiun, Jawa Timur itu bertekad untuk meninggalkan dunia kekerasan dan beralih meniti jalan perdamaian.

Choirul Anwar, berbagi kisah pertaubatan di SMKN 1 Probolinggo

Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, mengatakan bahwa di dalam kisah hidup korban dan mantan pelaku terorisme ada pembelajaran yang sangat berharga, khususnya bagi generasi muda seperti para siswa di SMKN 1 Probolinggo. Menurutnya, dari kisah Choirul para siswa bisa belajar tentang ketangguhan untuk mengakui kesalahan. “Tidak ada orang yang tidak pernah bersalah, semua orang pasti pernah bersalah. Bapak Choirul, pernah melakukan kesalahan. Bapak Choirul pernah sampai dipenjara. Namun, sebaik-baik orang bersalah adalah orang yang mengakui kesalahannya dan memperbaikinya,” ujarnya.

Sementara itu, pengalaman hidup korban, menurut Hasibullah, mengajarkan untuk menjadi pribadi yang pemaaf, serta menerima segala takdir yang telah ditetapkan Tuhan. Korban adalah orang-orang tidak bersalah. Mereka tidak ada hubungannya dengan ketidakadilan yang terjadi, namun harus terdampak dari aksi kekerasan atas nama membalas ketidakadilan.

“Kita belajar dari Ibu Yuni, tidak ada orang yang tidak pernah bersedih. Kita belajar bagaimana kesedihan tidak membuatnya menyerah. Tidak banyak orang yang bisa seperti Ibu Yuni yang mampu bangkit dari kesedihan dan membagikan inspirasi ketangguhan kepada kita semua,” pungkas Hasibullah yang disambut tepuk tangan meriah para siswa peserta Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMKN 1 Probolinggo. [MSH]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi...

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026 Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam...

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menekankan pentingnya umat Islam menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan. Dalam Islam, kata dia, dikenal tiga jenis persaudaraan (ukhuwah) yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). “Kalau kita tidak bersaudara sama-sama...

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian Opini Publik untuk Demokrasi dan Pembangunan LPPM Universitas Hasanuddin Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 31 Agustus 2026 Dalam belasan tahun terakhir, kehidupan kolektif bangsa Indonesia memperlihatkan gejala yang patut dicermati, yakni menguatnya kecenderungan antisains...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....