HomeBeritaPenyintas Bom Thamrin: Terorisme...

Penyintas Bom Thamrin: Terorisme Tidak Memanusiakan Manusia

Aliansi Indonesia Damai– Pagi itu Sebelas Maret 2019. Aliansi Indonesia Damai (AIDA) menyelenggarakan Dialog Interaktif bertema “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Lawang, di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Di bawah hembusan angin gunung Arjuno, salah seorang penyintas bom Thamrin 2016, Hairil Islami  berbagi kisahnya kepada 50 siswa-siswi SMAN pavorit tersebut. Pada saat kejadian, ia masih berstatus sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. 

Di hadapan para siswa, Hairil Islam mengatakan pada mulanya ia tidak menyadari bahwa ledakan bom itu merupakan serangan teroris. Namun demikian, setelah melihat kerumunan orang berlarian dan meminta tolong, Hairil sadar bahwa ledakan itu adalah serangan terorisme.  “Pada mulanya saya tidak sadar bahwa ledakan itu adalah bom,” ujarnya.

Bom Thamrin terjadi pada 14 Januari 2016 silam, di Jl M.H THamrin, Jakarta Pusat berjarak 2.5 km dari istana negara. Ledakan pertama terjadi di dalam kedai kopi Starbuck, tempat Hairil sedang mengerjakan tugas kuliah. Belasan orang menjadi korban luka berat dan ringan termasuk Hairil. Ledakan kedua terjadi di pos Polisi Jl. M.H Thamrin. Beberapa orang tergelatak meninggal dan mengalami luka berat.  

Hairil Islam, Penyintas Bom Thamrin 2016

Di dalam kaget dan panik yang luar biasa Hairil berusaha keluar dari kedai Starbuck yang hancur berantakan. Ia masih terus bertanya-tanya apakah benar dia mengalami hal yang sama sekali tidak diinginkan oleh siapa pun termasuk dirinya. “Saya masih dalam keadaan shock dan tidak percaya saya menjadi korban bom,” paparnya.

Ia mendapatkan pertolongan pertama dari seorang dokter gigi di sebuah klinik yang tidak jauh dari tempat kejadian. Sang dokter  membantu menutup luka di tangannya. Lalu dibawa ke Rumah Sakit Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta Pusat. Setelah mendapatkan penanganan singkat,  ia berniat untuk pulang dan hendak memberi kabar kepada orang tuanya. Hal itu ia lakukan karena tidak ingin kedua orang tuanya merasa khawatir. “Sebagai anak rantau saya tidak ingin membuat orang tua khawatir,” katanya.

Namun demikian, dokter rumah sakit tidak mengizinkannya pulang. Harus ada tindakan medis lanjutan berupa operasi. Karenanya,  ketika mengabari kedua orang tuanya, sang ibu merasa shock dan menangis mendapatkan kabar bahwa sang anak menjadi salah satu korban bom. 

Operasi dan pengobatan di RSPAD tersebut berjalan sukses. Hairil dirawat seminggu dengan didampingi ibunya dan keluarganya yang datang jauh dari Makassar. Namun, dampak yang dialaminya tidak berhenti saat ia keluar dari RS. 

Hairil mengaku teman-temannya merasa takut karena luka bakar bom yang dideritanya. “Pada saat itu teman saya tidak mau mendekati saya, karena luka ini,” pungkasnya seraya menunjukkan luka yang telah membekas di tangannya. Ia dan sahabat-sahabatnya sesama korban bom juga mengalami trauma. Para siswa sangat terharu dan banyak yang tak kuat mendengarkan kisahnya. 

“Perilaku terorisme sejatinya bukan cermin ajaran agama. Pasalnya, tidak ada agama satupun yang menganjurkan umatnya untuk menebar ketakutan terhadap orang lain.”

Namun, di balik musibah tersebut, ia mendapatkan banyak hikmah dan pembelajaran. Pembelajaran ini yang ia sampaikan kepada para siswa. Katanya, “perilaku terorisme sejatinya bukan cermin ajaran agama. Pasalnya, tidak ada agama satupun yang menganjurkan umatnya untuk menebar ketakutan terhadap orang lain.” Karena itu, Hairil menyebut terorisme adalah perbuatan yang tidak memanusiakan manusia. “Manusia yang tidak memanusiakan orang,” tegasnya yang disambut tepuk tangan dukungan dari para siswa. 

Turut hadir dalam kegiatan ini mantan pelaku terorisme, Iswanto dan korban bom terorisme yang lain yaitu Nyoman Rencini, Ruli Anwar, Sucipto Hari Wibowo, dan Yuni Arsih. Mereka merupakan duta perdamaian AIDA untuk Indonesia yang lebih damai. Para siswa dan guru yang hadiri sangat terkesan dan berharap ada lagi kegiatan serupa di SMAN 1 Lawang. [CN]

Most Popular

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id,...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama,...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...

Mungil-mungil Tangguh

Oleh Susi Afitriyani Mungil-mungil tangguh,Kau begitu kuat saat cobaan harus menghantam hidupmu,Kau yang masih begitu mungil, tapi kau mengajariku cara untuk tetap semangat dan tersenyum,Meski tubuhmu terlihat lemah akan tetapi jiwamu begitu tangguh,Haii,,, kau si mungil tangguh yang kelak akan menjadi penggantiku,Aku percaya jiwamu lebih kuat dari diriku,Dan...

Puasa dan Kedermawanan Otentik

Oleh Asyari, Guru Besar Ekonomi, Ketua Pusat Kajian Pengembangan Ekonomi Umat, FEBI UIN BukittinggiArtikel ini sudah terbit di Kompas.id, 17 Februari 2026Kasus bunuh diri YBS (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada 29 Januari 2026 dan sebelumnya, AA (44), seorang...

Arsitektur Pendidikan Tinggi Indonesia

Oleh Badri Munir Sukoco, Guru Besar Manajemen Strategi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis; Founder, Center for Dynamic Capabilities Universitas AirlanggaArtikel ini terbit di Kompas.id, 13 Februari 2026Atensi Presiden Prabowo Subianto pada pembangunan sumber daya manusia Indonesia sangatlah besar, terutama pendidikan tinggi. Belum setahun, Presiden telah melakukan tiga kali...

Tetap Tangguh di Era Bencana

Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia dilanda musibah. Banjir, cuaca ekstrem (hujan disertai badai), tanah longsor, kebakaran hutan, abrasi laut, gempa bumi dan pergeseran tanah menimpa masyarakat di sejumlah daerah.Bencana datang silih berganti menghantam beberapa wilayah, menelan korban jiwa, menghancurkan rumah dan infrastruktur yang menimbulkan kerugian materil yang...

Belajar Berkesadaran

Oleh Doni Koesoema A, Pemerhati Pendidikan, Mahasiswa Doktoral Universitas Negeri JakartaArtikel ini terbit di Kompas.id, 06 Februari 2026 Belajar berkesadaran adalah kunci keberhasilan pendidikan berkualitas. Bila belajar diibaratkan sebuah perjalanan, ini adalah langkah pertamanya. Sayangnya, langkah pertama ini sering kali terlewatkan.Transformasi belajar yang lebih fundamental inilah yang dilakukan...

Santri Diingatkan untuk Mempertahankan NKRI

Aliansi Indonesia Damai - Ketua Yayasan Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Jawa Tengah KH Saefudin Zuhri mengingatkan santri-santriwatinya untuk tidak menjadi pemberontak maupun teroris. Menurut dia, akidah ahli sunnah wal jamaah melarang menjadi pemberontak dan teroris kepada pemerintah yang sah.“Haram ya jangankan menjadi teroris, memberontak kepada pemerintah yang sah...

Membangun Semangat Perdamaian di Kalangan Santri

Aliansi Indonesia Damai - Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama ustazah menyelenggarakan Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Jawa Tengah pada Sabtu (31/01/2026). Sebanyak 60 santri...