HomeBerita“...Hilang Satu Cinta, Tumbuh...

“…Hilang Satu Cinta, Tumbuh Seribu Cinta…”

“Karena tragedi kemanusiaan tahun 2002, saya kehilangan satu cinta sejati. Tapi saat ini saya berdiri di hadapan adik-adik sekalian, dengan harapan akan tumbuh seribu cinta di antara kita semua.”

Aliansi Indonesia Damai- Harapan itu terucap dari lisan Ni Luh Erniati di hadapan 53 siswa SMA Taruna Dra. Zulaeha Probolinggo, 5 Agustus 2019 lalu. Erni, begitu ia kerap disapa, membagikan kisahnya menjalani kerasnya hidup tanpa seorang suami. Pasalnya, suaminya, Gede Badrawan, pergi selama-lamanya karena menjadi korban peristiwa Bom Bali 2002 silam.

Pada malam kejadian, Erni bersama dua putranya tengah berada di rumah kontrakan. Sekitar pukul 22.30 WITA, ia mendengar suara ledakan yang sangat keras. Saat memeriksa ke luar rumah, ia dapati angkasa memerah. Awalnya ia mengira suara itu berasal dari gardu listrik yang meledak. Tak lama kemudian, ia mendengar percakapan dari tetangganya bahwa ledakan tersebut berasal dari bom di dekat kafe tempat suaminya bekerja, yang berada di Jalan Legian, Denpasar Bali.

Erni mencoba untuk tidak mempercayai kabar tersebut. Dalam pikiran Erni, Bali adalah tempat yang aman dan damai, tidak mungkin ada ledakan bom. Di malam itu, Erni yakin suaminya akan baik-baik saja. Namun, sampai menjelang pagi suaminya tak kunjung pulang. Ia pun memutuskan pergi ke lokasi kejadian bersama tetangganya.

Baca juga Kisah Korban Inspirasi Ketangguhan Kalangan Muda

Alangkah kagetnya Erni ketika melihat kafe tempat suaminya bekerja sudah rata dengan tanah. Ia mencari keberadaan suaminya, namun tak berbuah hasil. Empat bulan berselang, pencarian Erni berakhir. Suami Erni akhirnya ditemukan dalam keadaan yang sudah tak bernyawa, dengan kondisi tubuh hangus dan tidak utuh.

Butuh waktu bertahun-tahun bagi Erni untuk bangkit dari keterpurukannya. Seiring berjalannya waktu, Erni mencoba berdamai dengan cobaan berat yang menimpa. Ia mengikuti proses konseling untuk menghilangkan trauma, agar bisa tetap tegar menghadapi tantangan, dan mampu melanjutkan kehidupan bersama dua buah hatinya.

Meski tahun-tahun pascatragedi Bom Bali ia lalui dengan tak mudah, Erni bersyukur kehidupannya saat ini ia rasakan lebih baik. Secara psikologis ia mengaku sudah melewati trauma yang dialaminya. Ia bisa fokus bekerja untuk menghidupi keluarga. Sebelumnya, jika Erni merasa kesal atau marah, ia bisa jatuh sakit. Kelapangan hati untuk mengikhlaskan membuatnya lebih sehat secara fisik dan emosional. 

“Saya bisa berdiri di hadapan adik-adik sekalian bukan untuk mendapatkan belas kasihan. Tetapi lebih mengingatkan kepada adik-adik tentang dampak dari terorisme itu. Hati-hati dalam memilih pertemanan.”

Erni mengaku mendapat hikmah dari peristiwa tersebut. Ia menjadi lebih mandiri dan bisa ikut berkontribusi dalam menyemai perdamaian di Indonesia. “Saya bisa berdiri di hadapan adik-adik sekalian bukan untuk mendapatkan belas kasihan. Tetapi lebih mengingatkan kepada adik-adik tentang dampak dari terorisme itu. Hati-hati dalam memilih pertemanan,” ungkapnya. 

Dalam kampanye perdamaian ini turut hadir mantan pelaku terorisme bernama Kurnia Widodo. Setelah bertahun-tahun berkecimpung dalam dunia kekerasaan, Kurnia akhirnya mengakui kesalahannya di masa lalu dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Ia juga memutuskan untuk menjadi duta perdamaian agar tidak ada lagi orang yang jatuh ke lubang yang sama, seperti yang pernah dialaminya di waktu muda. 

Kurnia juga menegaskan bahwa Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan. “Islam itu mengajarkan kebaikan. Berdakwah dengan mau’idzatul hasanah, contoh yang baik. Islam tersebar di Indonesia dengan cara yang damai, bukan dengan cara kekerasan,” tutur Kurnia. 

Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, berpesan agar para siswa mengambil pelajaran dari kisah korban dan mantan pelaku. Dengan begitu, diharapkan akan muncul generasi-generasi tangguh yang tidak akan membalas kekerasan dengan kekerasan dan merespon ketidakadilan dengan ketidakadilan. “Saya berharap, dari sini semua lahir karakter ketangguhan. Ciptakan kebahagiaan bagi orang lain. Perbaiki kesalahan yang diperbuat di masa lalu untuk masa depan yang benar-benar berbeda dari masa sebelumnya,” tutupnya. [FAH]

Baca juga Lika-liku dan Titik Balik Mantan Pelaku Terorisme Menuju Pertobatan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru)...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026 Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam...

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menekankan pentingnya umat Islam menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan. Dalam Islam, kata dia, dikenal tiga jenis persaudaraan (ukhuwah) yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). “Kalau kita tidak bersaudara sama-sama...

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian Opini Publik untuk Demokrasi dan Pembangunan LPPM Universitas Hasanuddin Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 31 Agustus 2026 Dalam belasan tahun terakhir, kehidupan kolektif bangsa Indonesia memperlihatkan gejala yang patut dicermati, yakni menguatnya kecenderungan antisains...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...