HomePilihan RedaksiLika-liku dan Titik Balik...

Lika-liku dan Titik Balik Mantan Pelaku Terorisme Menuju Pertobatan

Table of contents [hide]

Aliansi Indonesia Damai- Choirul Ihwan, salah seorang yang pernah terlibat dalam jaringan terorisme berbagi kisah hidupnya dalam sebuah kegiatan kampanye perdamaian di Probolinggo akhir April lalu. Setelah beberapa tahun hidup bersama para anggota kelompok ekstrem, ia memutuskan kembali ke jalan damai. Bukan tanpa alasan, ia memilih jalan perdamaian berkat teguran sang ibu yang datang ke dalam mimpinya selama tiga hari berturut-turut.

(Baca: Kasih Ibu Selamatkan Choirul Ihwan dari Dunia Gelap Terorisme)

Semenjak itu, perlahan tapi pasti, Choirul meninggalkan kelompok kekerasan dan kembali ke pangkuan keluarga dan masyarakat. Tidak hanya itu, ia bahkan menjadi duta perdamaian Aliansi Indonesia Damai (AIDA). Bersama para korban terorisme, ia berbagi pengalaman kepada generasi muda di berbagai pelosok Tanah Air, termasuk di Probolinggo.

Pengaruh pertemanan

Di hadapan para siswa di beberapa sekolah di Kabupaten Probolinggo, Choirul mengungkap bahwa keterlibatannya ke dalam kelompok ekstrem disebabkan antara lain karena pengaruh pertemanan. Saat SMA, ia banyak berdiskusi dengan teman-temannya tentang ideologi radikal. Bahkan saat itu Choirul mengonsumsi buku-buku bacaan yang bermuatan ajaran keagamaan yang ekstrem, yang berbeda dengan apa yang pernah ia pelajari di pesantren dan keluarga.

Dalam pertemanan itu pula dia menjadi lupa dengan keluarga, bahkan berprasangka buruk atau suuzan terhadap keluarganya. Ia merasa selama ini keluarga tidak menunjukkan kasih sayang yang seharusnya kepadanya. Ia merasa lebih akrab dan memiliki saudara saat bersama teman-temannya di kelompok ekstrem, hingga ia memilih untuk meninggalkan keluarga demi bergabung bersama mereka.

Pada tahun 2008, Choirul bergabung dengan Jamaah Taliban Melayu, sebuah organisasi bawah tanah yang ekstrem dan mendukung terorisme. Doktrin-doktrin keagamaan yang ia terima dari kelompok tersebut sangat ekstrem. Sejak itu, ia mudah mengafirkan orang lain. Tak hanya masyarakat awam, bahkan keluarga, saudara-saudara, dan kerabatnya sendiri yang selama ini hidup berdampingan, ia vonis sebagai pihak yang telah batal keislamannya.

Pada tahun 2009, Choirul meninggalkan rumah dan berencana ikut pelatihan militer di Aceh. Pelatihan tersebut digagalkan oleh aparat keamanan lantaran dianggap aktivitas gerakan terorisme. Choirul pun batal mengikuti pelatihan itu. Meskipun demikian, ia bersama sejumlah rekannya masih mencoba berjuang di dunia kekerasan terorisme. Tinggalnya sering berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain untuk menghindari kecurigaan masyarakat serta menghindari kejaran petugas.

Aktivitasnya di kelompok kekerasan itu berlanjut hingga pada pada tahun 2013 ia tertangkap di Bekasi. Ia pun diadili dengan tuduhan pembuatan senjata api. Atas kasus itu ia divonis lima tahun penjara.

Titik balik

Di balik jeruji, Choirul merenungkan secara mendalam, apakah jalan yang ia tempuh merupakan pilihan yang benar. Ia berpikir, bagaimana jika jalan kekerasan yang ia pilih sebenarnya bertentangan dengan ajaran agama yang sesungguhnya. “Bagaimana jika apa yang saya lakukan itu ternyata hal yang tidak benar? Bagaimana jika yang saya lakukan itu bukannya mendapatkan rahmat Allah justru mendapatkan laknat Allah?” ungkapnya. Keraguan demi keraguan itu mendorong Choirul untuk mengkaji kembali ajaran agama.

Pada tahun 2016, saat masih menjalani masa hukuman, Choirul menerima kunjungan AIDA bersama salah seorang korban bom JW Marriott yang menderita luka bakar 60 persen. Choirul mendengar cerita korban tentang penderitaan hidup yang harus dijalani setelah terdampak aksi teror. Ia sama sekali tak menyangka ternyata korban telah memaafkan perbuatan pelaku dan para pendukungnya. “Saya shock dan menangis, loh kok bisa-bisanya korban mau memaafkan,” ungkap Choirul sembari menggelengkan kepala. Pada kesempatan itu pula ia meminta maaf kepada para korban atas aktivitasnya di masa lalu.

Itulah ibroh dari kehidupan Choirul, bahwa pertemanan yang keliru bisa menjerumuskan orang ke dalam jalan kekerasan. Ia berpesan kepada para siswa di Probolinggo agar berhati-hati dalam memilih pertemanan, termasuk di media sosial, serta senantiasa menyayangi keluarga.

Choirul Ihwan Mantan Pelaku Terorisme dan I Wayan Sudiana Penyintas Bom Bali Berpelukan Sebagai Tanda Saling Memaafkan
Choirul Ihwan Mantan Pelaku Terorisme dan I Wayan Sudiana, Penyintas Bom Bali, Berpelukan Sebagai Tanda Saling Memaafkan

Kini Choirul mengisi lembaran kehidupan dengan misi yang lebih bermanfaat bagi banyak orang. Ia tidak lagi mengikuti pemikiran keagamaan yang ekstrem, yang mengajarkan kekerasan untuk mencapai tujuan. Bersama AIDA serta sejumlah korban terorisme, ia berbagi pengalaman hidup serta pesan-pesan perdamaian demi Indonesia yang lebih damai. [SWD]

Most Popular

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS,...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....