HomeSuara Korban“Bukan karena Teroris Kakakmu...

“Bukan karena Teroris Kakakmu Nggak Ada”

Aliansi Indonesia Damai – “Rasanya sakit. Perih. Dampaknya terlalu besar bagi keluarga saya,” tutur Reni Agustina Sitania dalam sebuah kegiatan AIDA di Probolinggo pekan lalu. Mata perempuan itu berkaca-kaca dan suaranya terdengar parau.

Reni kehilangan saudara kandungnya, Martinus Sitania, akibat ledakan bom di Kedutaan Besar Australia di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan tahun 2004. Meski peristiwa tersebut telah 15 tahun berlalu namun terkadang ia merasakan seperti baru terjadi kemarin.

Yang membuat Reni dan keluarganya begitu sedih, jenazah Martinus sulit dikenali. Posisinya yang saat kejadian begitu dekat dengan mobil boks pembawa bom membuat tubuhnya hangus dan sulit diidentifikasi. “Bahkan helmnya masih menempel dengan tengkorak kepalanya,” ungkapnya masih dalam isak tangis tertahan.

Beberapa waktu setelah kejadian, Reni dan orang tuanya yang tengah berduka karena kehilangan anggota keluarga, tambah terpukul saat mendengar kabar bahwa Martinus disebut-sebut sebagai tersangka pelaku peledakan bom. Informasi tersebut mereka peroleh dari berbagai media.

Baca juga Pesan Terakhir Ayah Kepada Sang Anak

Awalnya Reni dan keluarga tidak mengetahui bahwa Martinus menjadi korban Bom Kedutaan Australia. Apalagi kawasan tersebut bukan jalur yang dilalui kakaknya ketika berangkat atau pulang bekerja.

Hanya saja ketika Martinus tak kunjung pulang pada 9 September 2004 itu, keluarga menjadi was-was. Apalagi berbagai media terus memberitakan terjadinya ledakan bom di depan Kedutaan Besar Australia.

Tangis keluarga langsung meledak ketika mendapat kepastian Martinus benar-benar menjadi korban. Menurut Reni, berdasarkan informasi dari investigasi polisi yang ia dapat kemudian, ketika mobil boks bermuatan bom meledak, dia sedang melintas mengendarai sepeda motor tepat berada di sampingnya.

Karena jenazah Martinus hangus, untuk memastikannya, keluarga harus menjalani tes DNA (Deoxyribo Nucleic Acid). Meski hasil tes sudah keluar, namun jenazah tidak bisa langsung dipulangkan. Beberapa bagian tubuh Martinus belum ditemukan.

Jenazah Martinus baru bisa dibawa pulang seminggu setelah hasil tes DNA keluar. Keresahan Reni dan keluarga sedikit berubah menjadi kelegaan setelah pihak berwajib membuat pernyataan bahwa Martinus adalah korban, bukan pelaku peledakan.

Baca juga Belajar dari Semangat Sudirman Mengejar Mimpi

Meski begitu tetap tidak mudah bagi Reni dan keluarga menerima kematian Martinus. Terlebih kepergiannya begitu tragis, menjadi salah satu korban aksi terorisme. Kesedihan yang ditimbulkan dari tragedi itu sampai-sampai berdampak kepada kondisi fisik kedua orang tuanya. Menurut Reni, ibu dan ayahnya menjadi sering sakit-sakitan karena terpukul putra mereka menjadi korban aksi terorisme.

Menggantikan Tugas Kakak

Bagi Reni, kehilangan Martinus lebih dari kehilangan seorang kakak. Karena, kakak laki-lakinya itu tulang punggung keluarga. Sehingga setelah kepergiannya untuk selama-lamanya, Reni terpaksa batal melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Dia menggantikan posisi Martinus menjadi tulang punggung keluarga.

Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Reni. Kehilangan kakak yang menjadi tulang punggung keluarga dan kesempatannya untuk kuliah harus lenyap seketika. Tanggung jawab keluarga pun beralih ke pundaknya.

“Ibu bilang, kamu harus ikhlas dan harus bisa memaafkan. Bapak bilang bukan karena teroris kakak kamu nggak ada, tetapi itu jalan Tuhan yang harus kita jalani.”

Namun seiring berjalannya waktu, Reni bisa mengikhlaskan semua yang terjadi. ”Ibu bilang, kamu harus ikhlas dan harus bisa memaafkan. Bapak bilang bukan karena teroris kakak kamu nggak ada, tetapi itu jalan Tuhan yang harus kita jalani. Dan, keluarga saya pun sudah memaafkan semuanya,” ungkapnya.

Lebih dari itu, bagi Reni, memaafkan, mengikhlaskan dan mendoakan adalah cara terbaik yang dia tempuh untuk merespons musibah yang menimpanya. Cara itu diharapkan agar para pelaku terorisme dapat tersadar bahwa yang mereka lakukan merugikan banyak orang.

”Seberat apa pun masalah yang kita hadapi, kita tetap harus saling memaafkan. Kita harus ikhlas dan harus mendoakan para pelaku agar mereka sadar bahwa yang mereka lakukan tidak benar dan merugikan banyak orang,” pesan Reni. [MSH]

Baca juga “Saya Mengikhlaskan Semua Itu”

Most Popular

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....