HomeBeritaBelajar Memaafkan dan Mengakui...

Belajar Memaafkan dan Mengakui Kesalahan dari Korban dan Mantan Teroris

Aliansi Indonesia Damai – Tak sedikit siswa-siswi SMA Negeri 1 Sindang, Indramayu peserta Dialog Interaktif: Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh yang terkaget. Raut muka mereka berubah. Sebagian bahkan menutupi telinga dan menggidikkan kepala.

Itu terjadi ketika Sutarno, salah satu korban aksi teror bom di kawasan Kuningan Jakarta Selatan 9 September 2004, mengisahkan perjuangannya menyelamatkan diri. Akibat ledakan yang luar biasa dahsyat itu, seluruh dinding kaca Rumah Sakit MMC yang berjarak sekitar 80 meter dari pusat ledakan, pecah dan berjatuhan. Celakanya, Sutarno sedang berada tepat di bawahnya.

”Bayangkan, bagaimana rasanya kehujanan pecahan kaca dari gedung lantai tujuh? Itulah yang saya alami. Pecahan-pecahan kaca itu menancap di punggung saya,” tutur Sutarno di hadapan 50 siswa SMA Negeri 1 Sindang, Selasa (27/8) lalu.

Baca juga Pesan Perdamaian untuk Generasi Muda Bangsa

Sebagian besar siswa SMAN 1 Sindang masih sangat kecil, sebagiannya justru belum lahir, ketika peristiwa Bom Kuningan 2004 terjadi. Mereka tercengang ketika menyimak kesaksian seorang korban dari tragedi itu. Sesuai tema kegiatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) pagi itu, Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh, para siswa diharapkan bisa menyerap nilai ketangguhan dari korban terorisme.

Tak hanya punggung, pecahan kaca dalam ukuran lebih besar jatuh menghantam kepala Sutarno. ”Andai kaca itu jatuhnya dengan posisi miring, mungkin saya sudah meninggal,” ujarnya lirih.

Akibat terluka karena ledakan bom, selama 2-3 bulan Sutarno tidak bisa bekerja. Selain luka fisik, dia juga mengalami trauma. ”Saya di rumah saja bersama istri dan anak-anak. Saya sering meratapi nasib dan emosi saya mudah tersulut, temperamental,” akunya.

Untuk menyembuhkan traumanya, bapak tiga anak ini harus menjalani konseling. Setelah selama tiga bulan konseling, dia bersyukur bisa kembali pulih. ”Melihat anak-anak dan istri yang selalu memberikan dukungan, membuat semangat saya untuk bangkit dan bekerja lagi, makin besar,” ungkap warga Bogor ini.

Sutarno, Korban Bom Kuningan 2004

Kepada para peserta Dialog Interaktif di SMA Negeri 1 Sindang, Sutarno berpesan untuk tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Bukan menyelesaikan masalah, membalas kekerasan dengan kekerasan justru memunculkan masalah baru. Sutarno juga mengajak untuk tidak menjadi pendendam. ”Saya memaafkan pelaku pengeboman sebelum mereka meminta maaf. Karena semua orang bisa khilaf dan mempunyai kesalahan. Untuk itu kita harus menyikapinya secara dewasa. Lebih dari itu, memaafkan lebih mulia daripada meminta maaf,” katanya.

Dia berharap siswa-siswi SMAN 1 Sindang mengambil pelajaran dari pengalaman hidupnya agar bisa menjadi generasi yang kuat dan tangguh.

Dulu Jual Senjata, Kini Jual Sandal

Iswanto, seorang mantan anggota kelompok teroris, turut menjadi narasumber dalam Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di sekolah tersebut. Pria asal Lamongan ini pernah bergabung dengan kelompok kekerasan selama beberapa tahun sebelum akhirnya sadar.

Ketika berusia 17 tahun, Iswanto telah bergabung dengan Jemaah Islamiyah (JI), kelompok yang berafiliasi dengan Al Qaeda dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang karena melakukan aksi-aksi terorisme di Indonesia. Iswanto dilatih menggunakan senjata, merakit bom, dan berperang. Pada waktu itu, ia didoktrin bahwa segala aktivitasnya di dunia kekerasan bernilai jihad, yaitu perjuangan di jalan Tuhan.

Baca juga Jalan Panjang Mantan Kombatan Menuju Perdamaian

Akan tetapi, seiring waktu kesadaran Iswanto timbul. Ia telusuri kembali buku-buku rujukan tentang jihad dan ia temukan bahwa makna jihad sangat luas. ”Tidak terbatas pada perang. Belajar juga termasuk bagian dari jihad,” ungkapnya. Ia pun memutuskan untuk keluar dari jaringan terorisme lantaran menimbang mudaratnya yang sangat merusak kehidupan.

Iswanto makin sadar bahwa keputusannya meninggalkan dunia kekerasan sangatlah tepat, saat dipertemukan dengan korban aksi terorisme dalam sebuah kegiatan AIDA. Dia menyadari, terorisme membuat kehidupan banyak orang menderita. ”Saya membayangkan seandainya yang menjadi korban itu saya atau keluarga saya,” tuturnya.

Meski tidak terlibat aksi terorisme di Indonesia secara langsung, Iswanto meminta maaf kepada para korban. Dia juga meminta kepada teman-temannya yang terlibat dalam aksi kekerasan untuk segera bertobat. ”Atas nama pribadi dan teman-teman, saya memohon maaf atas kesalahan di masa lalu, baik yang sengaja maupun tidak disengaja,” pintanya.

Kini, selain menjadi guru sekolah, Iswanto membuka toko tak jauh dari rumahnya di Lamongan. ”Kalau dulu jualan senjata, sekarang jualan sandal,” ujarnya sambil tersenyum.

Baca juga Kisah Korban Inspirasi Ketangguhan Kalangan Muda

Belajar dari pengalamannya, Iswanto berpesan kepada siswa-siswi SMA Negeri 1 Sindang untuk memahami agama sebagai ajaran perdamaian, bukan kekerasan. Selain itu, ia mengingatkan para siswa untuk selalu kritis terhadap informasi apa pun yang kini begitu mudah menyebar melalui media sosial. ”Berhati-hatilah memilih teman dan guru. Saya masuk ke dunia kekerasan dan kemudian keluar karena pengaruh guru. Untuk itu pilihlah guru dan teman yang bisa mendukung perdamaian,” kata dia.

Belajar Ketangguhan

Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, dalam Dialog Interaktif di SMAN 1 Sindang mengutip sebuah ungkapan, lihatlah apa yang disampaikan, janganlah melihat yang menyampaikan. ”Kebaikan datangnya bisa dari mana saja. Kita bisa berguru kepada siapa pun. Termasuk kepada Pak Iswanto dan Pak Sutarno,” katanya.

Dari Iswanto, siswa-siswi bisa belajar betapa bahayanya kekerasan. ”Jika kekerasan dibiarkan akan timbul korban, seperti Pak Sutarno. Untuk itu kita harus menjaga supaya tidak ada kekerasan atas nama apa pun. Sebaliknya, kita harus saling menghormati, menjaga toleransi. Daripada saling melakukan kekerasan lebih baik saling membagikan kenyamanan,” papar Hasibullah.

Dari kedua narasumber, para pelajar juga bisa belajar tentang ketangguhan. Menurut Hasibullah, dari Sutarno para siswa bisa menyadari bahwa semua orang pernah jatuh, sedih dan menangis. ”Tangguh bagi Pak Sutarno adalah mengubah tangisan menjadi senyuman bagi sebanyak-banyaknya orang. Pak Sutarno menderita tetapi hari ini membagikan kisahnya agar orang lain tidak menderita. Tidak perlu jatuh seperti dirinya,” katanya.

Sedangkan dari Iswanto, menurut Hasibullah, generasi tangguh bukanlah orang yang tidak pernah salah. ”Semua orang pasti pernah bersalah. Tapi orang yang tangguh adalah orang yang mengakui kesalahannya dan memperbaiki,” ujarnya.

Itulah semangat ketangguhan yang diharapkan bisa diserap oleh para siswa peserta Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”. [HP]

Baca juga Pembelajaran dari Kisah Hidup Korban dan Mantan Pelaku

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di ...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI),...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...