HomeOpiniIndonesia dan Paradoks Negara...

Indonesia dan Paradoks Negara Paling Religius

Oleh: Muhamad Wafa Ridwanulloh

Ketua Paguyuban Duta Baca Jawa Barat

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang paling menganggap penting posisi ”agama” dalam kehidupan. Namun, pada saat yang bersamaan hampir tidak pernah terlewat dalam berita-berita di media massa dan media sosial tentang kasus-kasus kriminal, seperti pembunuhan, pemerkosaan atau pencabulan, korupsi, judi daring, dan tindakan diskriminasi.

Fenomena ini menjadi ironi dan paradoks di tengah religiositas yang dianut mayoritas masyarakat di Indonesia. Paradoks secara harfiah artinya bertentangan dengan opini sehingga bersifat kontradiktoris (T Kasturi: 2015, 5). Alih-alih menjadi landasan hidup, agama tidak lebih sebatas simbol yang hanya muncul di permukaan sebagai identitas, bukan substansi yang esensial.

Indonesia paling religius

Jonathan Evans, peneliti senior Pew Research Centre yang berfokus pada penelitian agama, melakukan survei tentang komitmen beragama di 102 negara dalam rentang tahun 2008 hingga 2023. Dalam laporan yang dirilis 9 Agustus 2024 di situs resmi Pew Research Centre, Indonesia menduduki urutan pertama sebagai negara yang memprioritaskan agama dan berdoa setiap hari.

Baca juga Menguatkan Komitmen Dunia Digital Ramah Anak

Negara-negara di sub-Sahara Afrika termasuk yang berada di urutan teratas dalam aspek religiositas. Sebaliknya, hampir semua negara Eropa paling tidak memosisikan agama sangat penting dalam hidup mereka. Bahkan di Swiss, Denmark, Inggris, Swedia, dan Finlandia hanya 10 persen atau kurang orang dewasa yang berpandangan religius.

Agama sebagai panduan hidup akan membawa bangsa Indonesia pada nilai kesopanan, moralitas, kejujuran, dan empati yang besar. Namun, ada kontradiksi dalam sikap masyarakat: di satu sisi menganggap agama penting, dan secara bersamaan juga membudayakan tindakan-tindakan yang keluar dari substansi ajaran agama.

Religius tetapi nakal

Predikat negara paling religius ternyata beririsan dengan predikat-predikat lain yang bertentangan. Pertama, indeks persepsi korupsi di Indonesia konsisten rendah. Lembaga Transparency International (TI) mengukur indeks tersebut dalam Corruption Perception Index (CPI), semakin tinggi indeks persepsinya, semakin bersih negara tersebut.

Korupsi di Indonesia menjadi budaya yang mengakar dari hulu ke hilir. Budaya korupsi tidak hanya hadir di kalangan elite pemerintah, tetapi sudah merambah ke level masyarakat kecil di akar rumput. Misalnya, serangan fajar, amplop untuk kelancaran birokrasi, plagiat atau mencontek, serta keculasan mengambil atau menjarah barang yang bukan miliknya telah menjadi budaya di kalangan masyarakat.

Baca juga Strategi “Dua Tangan” Trump di Timur Tengah

Misalnya, laporan Digital Civility Index (DCI) yang dikeluarkan Microsoft pada akhir 2021 pernah menobatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat keadaban atau kesopanan di dunia maya terendah se-Asia. Warganet Indonesia rentan melakukan perundungan siber (cyberbullying), menyebarkan hoaks, trolling, dan melakukan pelecehan terhadap kaum marjinal.

Krisis moral di kalangan generasi muda terus terjadi, baik di dunia nyata maupun maya. Alih-alih menjaga moralitas ketimuran, justru bermunculan kasus-kasus seperti tawuran, vandalisme, bahkan muncul video siswa yang membentak dan menghina guru.

Anonimitas di dunia maya lebih parah lagi dalam menggambarkan ketidaksopanan masyarakat Indonesia. Ujaran kebencian dan cacian menjadi hal lumrah bagi warganet Indonesia. Kesopanan menjadi barang langka di negara yang bangga dengan ramah tamahnya.

Ketiga, Indonesia juga menjadi negara dengan pemain judi daring terbanyak di dunia. Tidak tanggung-tanggung, menempati urutan pertama dengan 201.122 pemain, melampaui Kamboja di urutan kedua dengan 26.279 pemain (laporan: Drone emprit). Peningkatan eksponensial jumlah pemain judi daring di Tanah Air menjadikan Indonesia pasar empuk bagi situs-situs ilegal.

Masyarakat kian kehilangan arah. Nilai transaksi judi daring di Indonesia mencapai Rp 600 triliun per Maret 2024. Masyarakat tertipu dengan ilusi kemenangan palsu dari judi daring, para pencandunya kehabisan uang, utang menumpuk, kehilangan harga diri, moralitas, dan mendapat tekanan yang tinggi. Tidak sedikit kecanduan judi daring berakhir pada tindakan kriminal hingga bunuh diri.

Beberapa paradoks menunjukkan bahwa agama tidak benar-benar dihayati secara esensial oleh masyarakat. Parahnya, beberapa kasus korupsi, ujaran kebencian, tindakan kriminal, seperti kekerasan seksual, justru dilakukan sosok yang mestinya menjadi teladan dan tidak jarang membawa simbol keagamaan untuk menutupi kejahatannya.

Kita sering kali bangga dengan Asian Value atau nilai ketimuran yang dimiliki dengan mengedepankan nilai moral, norma, empati, dan adab. Kini, semua terkikis individualisme, egosentris, bahkan sistem yang sering kali menciptakan ketidakadilan. Simbol religiositas hanya menjadi hiasan bukan landasan moral. Religius kita lebih kuat di simbol daripada substansi.

Kini saatnya bertanya, apa kita sudah benar-benar memahami agama? Masalahnya bukan pada agama, melainkan cara kita memahami dan menjalaninya. Agama bukan soal ritual, atribut yang dikenakan, doa yang dilantunkan, atau rumah ibadah yang dibangun. Agama adalah tentang memilih dan menjalani hidup di setiap helaan napas agar berada dalam koridor yang benar.

Manusia beragama harus kembali ke inti dari segalanya: mengapa kita ada di sini? Apa tujuan hidup kita? Manusia umumnya sering lupa bahwa kehidupan ini adalah perjalanan. Perilaku individu beragama yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut sejatinya telah menciptakan kerusakan-kerusakan terstruktur.

* Artikel ini telah terbit di Kompas.id edisi 22 Februari 2025

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016,...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...