HomeOpiniMudik dengan Damai

Mudik dengan Damai

Oleh Deddy Mulyana

(Guru Besar Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran)

Artikel ini terbit di laman Kompas.id edisi 26 Maret 2025

Salah satu peristiwa kolosal tahunan di negeri kita adalah mudik lebaran. Diperkirakan lebih dari 100 juta orang melakukannya tahun ini.

Fenomena mudik ini menarik untuk dikaji dari berbagai sudut pandang, dan tak pernah kering untuk diwacanakan. Ada nuansa filosofis, sakral, nostalgik, dan puitis di dalamnya. Semuanya berakar pada hakikat diri manusia. Siapakah diri ini?

Filsuf Jerman, Martin Heidegger, pernah membahas mudik (pulang kampung), terutama lewat pemikirannya tentang ”menjadi,” ”tempat tinggal,” dan ”eksistensi yang otentik,” khususnya dalam Being and Time (1927) dan Building, Dwelling, Thinking (1954).

Dalam karya pertama, Heidegger menggagas bahwa manusia sering terjebak dalam kehidupan sehari-hari, terperosok dalam hiruk-pikuk dunia dan konvensi sosial sehingga terasing dengan dirinya sendiri.

Kembali ke jati diri yang otentik

Dalam konteks ini, menurut Heidegger, mudik bukan berarti kembali ke lokasi fisik, melainkan ke jati diri yang otentik, disertai keteguhan hati untuk bertanggung jawab atas eksistensi diri.

Keteguhan hati seseorang bermakna bahwa ia tidak terserap oleh kesibukan dunia dan bahwa ia bersiap menghadapi keterbatasan diri, menuju kematian.

Kebanalan dunia dengan teknologinya yang canggih dewasa ini sering membuat manusia kehilangan jati diri seolah ia hanya tunawisma kehidupan, sekrup kecil dari sebuah mesin raksasa atau selembar daun yang terombang-ambing di samudra luas.

Itu sebabnya Heidegger menekankan sifat puitis tempat tinggal, merujuk pada puisi Friedrich Holderlin, yang mengungkapkan kerinduan nostalgik untuk pulang kampung.

Namun, bagi Heidegger, mudik bukan hanya kepulangan nostalgik, melainkan transformasi eksistensial—menengok kembali asal-usul diri untuk melangkah maju secara bermakna.

Dengan kata lain, mudik bukan sekadar kepulangan fisik, melainkan perpindahan ontologis-eksistensial—kembali ke diri sendiri, ke tempat tinggal yang otentik, dan ke hubungan yang lebih dalam dengan alam semesta (Tuhan, manusia, dan lingkungan alam, termasuk hewan dan tumbuhan).

Dalam karya selanjutnya, khususnya esai Building, Dwelling, Thinking (1951), Heidegger mengembangkan gagasan tentang berdiam sebagai cara mendasar manusia untuk hidup.

Ia berpendapat bahwa berdiam berarti betah di dunia,  tidak sekadar tinggal di rumah fisik, tetapi hidup dengan cara yang menghargai dan merawat keberadaan segala sesuatu.

Jadi, mudik berkaitan dengan gagasan belajar untuk bertempat tinggal dengan benar—menyelaraskan diri dengan lingkungan, sejarah, dan hakikat diri, bukan sekadar menempati suatu ruang.

Struktur tempat tinggal ini terdiri atas empat hal: bumi, langit, Tuhan, dan makhluk fana. Mudik berlangsung ketika manusia menyadari posisi mereka dalam harmoni keempat hal ini dan memahami dimensi puitis dan sakral keberadaan.

Baca juga Puasa sebagai Terapi dan Ragam Perspektifnya di Benua Eropa>

Heidegger berpandangan, mudik bukan sekadar kepulangan secara spasial atau emosional, melainkan peristiwa fenomenologis yang memungkinkan manusia mampu mengatasi keterasingan dirinya di dunia.

Hal ini melibatkan pencarian kembali eksistensi seseorang, belajar untuk hidup selaras dengan alam semesta untuk menjadi diri yang otentik.

Perspektif Heidegger senada dengan pandangan Rabindranath Tagore, pemenang Nobel Kesusastraan tahun 1913 asal India, bahwa pendidikan tertinggi manusia tidak sekadar memberi informasi, tetapi membuat hidup kita harmonis dengan seluruh alam semesta.

Tidak salah melakukan mudik bernuansa kultural atau etnis, untuk memuaskan kerinduan dan obsesi mengenai asal-usul kita, sebagaimana yang dilakukan oleh banyak orang di negeri kita pada hari-hari ini.

Kembali kepada Tuhan

Kecenderungan untuk merasa menyatu kembali dengan leluhur bersifat primordial, manusiawi, dan universal.

Namun, jika kita setuju dengan pandangan Heidegger bahwa mudik seyogianya ditandai dengan kedamaian dengan alam semesta, termasuk lingkungan manusia, maka hanya orang-orang berhati bersih yang dapat menikmati mudik mereka.

Mereka bisa pulang dengan damai. Bahkan, mereka siap melakukan mudik sejati, yakni kembali kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Itulah induk dari segala mudik. Dalam ungkapan Agus Noor dalam cerpennya yang berjudul ”Mudik ke Kuburan” (Kompas, 28/4/2024), kuburan adalah sebaik-baik tempat mudik. Apa yang akan kita bawa saat kita mati nanti?

Saat berbaring di ranjang rumah sakit dan mengingat kembali seluruh hidupnya, Steve Jobs, inovator teknologi komunikasi terdepan sejagat, menjelang wafatnya karena kanker pankreas tahun 2011, pernah berujar, ”Aku menyadari bahwa semua penghargaan dan kekayaan [7 miliar dollar AS atau lebih dari Rp 100 triliun] yang sangat kubanggakan menjadi tidak ada artinya dalam menghadapi kematian yang sudah dekat.”

Sulit bagi kita membayangkan bagaimana orang-orang yang selama ini menggarong harta rakyat dan menyengsarakan mereka dapat mudik dengan damai karena hati mereka kotor.

Baca juga Puasa dan Kemenangan Bangsa

Apakah para koruptor ini sebahagia warga biasa yang mudik tanpa beban dengan membawa oleh-oleh ala kadarnya untuk keluarga dan kerabat?

Sebagai manusia yang memiliki nurani, apakah mereka merasa sedikit bersalah ketika mereka berbagi cuan dengan handai tolan? Tebersitkah di benak mereka bahwa uang yang mereka bagikan itu haram?

Seandainya para koruptor ini sempat berziarah ke makam orang tua dan atau makam leluhur mereka, adakah rasa gelisah dan nestapa di hati mereka saat mereka melihat nisan kuburan dan membayangkan bagaimana kelak nasib mereka sendiri jika mereka sudah berada di alam sana?

Kesuksesan macam apa yang kita cari dalam hidup? Mengapa kita harus menumpuk-numpuk kekayaan, siang malam, dengan menghalalkan segala cara? Mengapa kita harus mengkhianati dan menyakiti banyak orang, terutama rakyat, untuk mengejar kekuasaan dan ketenaran?

Keterhubungan dengan sesama

Menurut Paul Pearsall (2002), sukses demikian adalah sukses beracun (toxic success) yang ciri-cirinya adalah stres, depresi, sakit, bunuh diri, merasa kurang (tidak bersyukur), keterpisahan dari orang-orang tersayang, mengorbankan orang lain, ambisius, penuh keraguan, dan mudah kecewa.

Sebaliknya, menurut Pearsall, ciri-ciri sukses sejati (sweet success) meliputi kepuasan, ketenangan, dan keterhubungan dengan orang lain.

Lewat risetnya atas 100 orang sukses, Pearsall menemukan hanya 10 persen orang yang meraih sukses sejati.

Baca juga Tantangan Puasa di Era Digital Perspektif Beragama Maslahat

Sisanya, 90 persen, adalah peraih sukses toksik. Termasuk seorang profesional perempuan penderita kanker yang tajir, populer, tetapi bercerai dengan suaminya, dan ditinggal mati putri tunggalnya yang bunuh diri karena merasa ditelantarkan kedua orang tuanya.

Berdasarkan riset yang dilakukan Universitas Harvard sejak 1938, selama 75 tahun, terhadap 724 orang Amerika, keterhubungan dengan sesama manusia (keluarga, teman-teman, komunitas) membuat orang hidup bahagia dan sehat. Orang yang masih punya hubungan baik pada usia 50 tahun, menjadi orang paling sehat pada usia 80 tahun.

Marilah kita mudik dengan damai.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...