HomeOpiniTanggung Jawab Perdamaian pada...

Tanggung Jawab Perdamaian pada Hari Perdamaian Internasional

Oleh Beda Holy Septianno, Rohaniwan; Aktivis Sosial di Life Project 4 Youth (LP4Y)

Artikel ini dimuat Kompas.id pada 21 September 2025

Di pemukiman padat penduduk Kampung Sawah, Cilincing, saya sering berjumpa dengan realitas manusia yang dapat lapar, haus, dan sakit seperti saya. Di rumah mereka, saya melihat sanitasi masih buruk. Sebagian besar mengaku bagaimana masa kanak-kanak mereka terampas dan terpaksa menjalani pekerjaan informal. Mereka adalah wajah yang menyerukan perhatian dan kepedulian bersama.

Mengenai kepedulian, kita tidak bisa hanya bergantung pada kata-kata. Pada tahun ini, Hari Perdamaian Internasional yang diperingati setiap 21 September mengusung tema: ”Act Now for a Peaceful World” atau ”Bertindak Sekarang untuk Dunia yang Damai”. Menyambut peringatan ini, António Guterres, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), berpesan bahwa ”Dunia sedang berteriak menyerukan perdamaian. Perdamaian adalah tanggung jawab kita bersama”.

Dambaan untuk perdamaian semakin lantang kita dengar saat Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB menyatakan pada Selasa (16/9/2025) bahwa otoritas Israel telah melanggar Konvensi Genosida 1948. Navi Pillay, ketua komisi penyelidikan, mengatakan bahwa pasukan keamanan Israel melakukan tindakan-tindakan yang termasuk dalam kejahatan genosida terhadap rakyat Palestina.

Baca juga Gejolak Agustus dan Ujian Kerukunan Bangsa

Dewan HAM PBB menyimpulkan bahwa Israel telah melakukan pembunuhan massal, perusakan serius pada mental dan serius terhadap orang dari komunitas berbeda, mencegah kelahiran, dan menciptakan kondisi kehidupan yang menghancurkan komunitas berbeda (Kompas, 18/9/25).

Kita patut mengapresiasi sikap tersebut, tetapi pernyataan di atas kertas harus mewujud dalam aksi nyata. Jangan kita mengabaikan kematian lebih dari 65.000 warga sejak Oktober 2023 serta fakta meluasnya kelaparan dan meningkatnya korban sipil.

Penghormatan kehidupan manusia

Perdamaian tidak akan pernah tercapai apabila tidak ada penghormatan terhadap martabat kemanusiaan. Perdamaian juga tidak mungkin tanpa bahasa yang saling menghormati dan kemampuan berdialog. Perdamaian barulah terjadi jika semua orang bertindak dalam aksi nirkekerasan.

Mengutip perkataan Mahatma Gandhi, ”Nirkekerasan adalah kekuatan terbesar yang dimiliki umat manusia. Kekuatan ini lebih kuat daripada senjata pemusnah terkuat yang diciptakan oleh kecerdikan manusia.”

Sesungguhnya, manusia mempunyai naluri kedekatan dengan manusia lain, misalnya dalam pengalaman melihat ”ternyata seseorang dapat lapar, haus dan sakit seperti saya”. Dalam teori intersubyektivitas kita menerima pengandaian bahwa relasi simetris adalah dasar kemanusiaan. Artinya, dalam setiap relasi perjumpaan, kita menerima afeksi dan bantuan dari orang lain sehingga sedemikian rupa kita juga berniat membantu mereka.

Baca juga Bela Perdamaian Indonesia

Akan tetapi, konsep relasi simetris belum menuntaskan problem kekerasan dan menjamin hidup saling menghormati. Emmanuel Levinas, seorang filsuf Perancis keturunan Yahudi, menangkap kegelisahan tersebut akibat ayah, ibu dan dua saudara laki-lakinya tewas dibunuh tentara Nazi Jerman saat Perang Dunia II. Ia merefleksikan bahwa relasi dengan orang lain itu tak terbatas. Orang lain selalu mrucut dari segala konsep yang saya pikirkan tentangnya.

Levinas menjelaskan bahwa setiap orang tidak bisa ditundukkan dalam upaya tematisasi dan stigmatisasi, apalagi pembunuhan seperti terjadi dalam sejarah genosida (Otherwise than Being or Beyond Essence, 1974). Bagi Levinas setiap pribadi itu mengandungi nilai ketakterbatasan (the idea of the Infinite). Dengan mengalami kedekatan dengan orang lain, termasuk mereka yang dapat lapar, haus dan sakit, kita memperoleh tanggung jawab terhadap kehidupan mereka dan harapan hidup damai.

Hambatan dan harapan

Menarik melihat analisis Zygmunt Bauman mengenai peristiwa Holocaust (1933-1945). Menurutnya sosiolog Inggris ini, sejarah kelam Holocaust terjadi justru dalam semangat zaman modern. ”Dunia rasional dari peradaban modern inilah yang membuat Holocaust dapat dipikirkan,” meminjam ungkapannya dari Modernity and the Holocaust (1989).

Ini berarti kengerian Holocaust dan segala sesuatu yang dapat dipikirkan oleh manusia itu setali tiga uang. Hal ini sama dengan maksud perkataan Gandhi bahwa kecerdikan manusia memang dapat menciptakan senjata pemusnah. Kita tentu tidak mengharapkan pemikiran kita menjadi hambatan perdamain, meski kenyataannya pernah terjadi.

Baca juga Remaja Penggerak Perdamaian

Hambatan perdamaian juga terjadi manakala warga negara terus-menerus dilanda kesulitan ekonomi. Kita menyaksikan konflik di berbagai negara di belahan dunia. Misalnya dalam kasus Nepal, ketika rakyat kesulitan mendapat pekerjaan, sementara korupsi dan nepotisme meluas di kalangan oligarki, sangat mungkin kekerasan akhirnya menjadi jalan keluar yang dipilih.

Selain itu, tantangan perdamaian juga sulit tercapai, terutama dalam sistem demokrasi, yaitu ketika negara tidak mampu menjalankan amanat politik sehingga kepercayaan rakyat terus memudar.

Dari sisi masyarakat juga bisa menjadi pemicu kekerasan, ketika tidak mampu menerima perbedaan dalam demokrasi dan terus memicu polarisasi atau sikap saling mengecam, seperti dalam pembunuhan Charlie Kirk (Kompas, 15/9/2025).

Seruan perdamaian itu perlu, tetapi langkah konkret adalah kewajiban. Tanggung jawab bersama tetap valid karena setiap kejahatan perang, agresi militer, kesulitan ekonomi warga sipil, dan mereka yang lapar, haus serta hidup di ambang kematian adalah realitas bersama.

Saatnya negara-negara di dunia menyadari hubungan intrinsik kekuasaan dan tanggung jawab perdamaian (shared responsibility). Tuntutan tanggung jawab ini mustahil tanpa tatanan kerja sama.

Kita mengakui adanya kesulitan secara hukum untuk menindak tegas negara yang melakukan kejahatan kemanusiaan, tetapi bukan berarti meniadakannya secara otomatis. Sebab, jika kita ingin hukum internasional memiliki daya kepelakuannya sampai lintas negara, setiap negara wajib menghentikan perang yang mengakibatkan kematian, menciptakan prinsip bilateral dan meyakini kembali bahwa setiap pribadi mengandungi nilai ketakterbatasan yang tidak dapat ditundukkan dalam bentuk apa pun.

Kita semua sedih atas fakta kekerasan dan pembunuhan. Namun, kita wajib mengatakan kepada diri kita sendiri ”jangan ada lagi perang”— mengulang seruan perdamaian Paus Leo XIV pada 11 Mei 2025. Sekarang, kekuatan nirkekerasan adalah tanggung jawab perdamaian kita.

Meskipun saya hanya mengenal wajah yang dapat lapar, haus dan sakit di Kampung Sawah, saya justru semakin yakin bahwa pribadi-pribadi di Gaza pun merupakan wajah yang dapat lapar dan sakit, apalagi saat rumah, sekolah, rumah sakit, hingga tempat pengungsian mereka jadi sasaran bom.

Semoga Hari Perdamaian Internasional dapat mewujudkan tindakan nyata untuk menghormati kehidupan manusia. Marilah bertindak!

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...